
“Gabby, apa itu?” Tanya Stuard ketika Gabby menarik ponselnya dari tangan Gabriel, kemudian menyembunyikan di belakang tubuhnya. Stuard pun ke kearah Gabby dan Gabriel, kemudian ia menatap putra-putrinya dengan tatapan tanda tanya. “kenapa kalian diam? Gabriel Kenapa kau juga ikut diam?” tanya Stuard lagi pada putra pertamanya.
Seketika Gabriel melirik ke arah Gabby walaupun barusan ia mengompori sang adik. Tapi ia tidak berani mengatakannya sebelum Gabby yang berkata terlebih dahulu.
“Dad, kau berbicaralah dengan Gabby. Aku akan keluar,” Gabriel memutuskan untuk keluar, karena ia tahu ayah dan adiknya butuh privasi untuk berbicara berdua.
“Gabby, Apa itu?” tanya Stuard saat Gabriel keluar dari ruangannya. Gabby yang sedang duduk menunduk, ia tidak berani menatap sang ayah.
Stuard menatap Gabby lamat-lamat, kemudian Ia langsung mendudukkan diri di samping Gabby lalu membawa Gabnu ke dalam pelukannya.
“Gabby, Daddy tahu, apa yang kau lakukan selama ini. Daddy membiarkanmu bukan karena membenarkan perbuatanmu. Tapi Daddy juga tidak menyalahkanmu. Karena kaulah yang mengalami dan kau juga yang merasakan sakit. Jadi Daddy atau orang lain tidak berhak menyalahkanmu. Tapi, Daddy bersyukur, kau tetap baik-baik saja sampai saat.”
Gabby melepaskan pelukannya dan menegakkan tubuhnya. Lalu menatap sang ayah dengan tatapan sendu. “Dad, Kau pasti kecewa padaku,” kata Gabby, tangisnya mulai berderai. Ia memejamkan matanya karena tidak sanggup melihat mata sang ayah. Walau bagaimanapun, ia tidak mau sang kecewa padanya.
Stuard mengusap rambut Gabby, kemudian ia tersenyum lalu menggenggam dengan putrinya. “Gabby, Apa kau sedang hamil?” tanya Stuard. Walaupun Gabby menyembunyikan ponsel di belakang tubuhnya. Tapi, sebelum Gabby menarik ponselnya dari tangan Gabriel Stuard melihat tayangan di Gabby yang sedang menayangkan Gabby sedang di USG oleh dokter.
Tiba-tiba, Gabby kembali tertunduk. Lalu menangis tersedu-sedu saat mendengar pertanyaan sang ayah, kemudian ia mengangguk. “Ya, Dad. aku hamil dan itu bukan anak Arsen, tapi itu ....” Gabby tak sanggup lagi meneruskan ucapannya, suaranya tenggelam oleh tangisan.
Stuard mengelus punggung Gabby, membiarkan Gabby tenang. Walaupun cara yang digunakan putrinya memang sedikit salah. Tapi, Stuard tak menyalakan Gabbyarena ia tahu berat menjadi Gabby.
Gabby di khianati, di dimanfaatkan selama bertahun-tahun. Tentu itu bukan hal yang mudah untuk diterima..Tapi putrinya begitu tegar, menerima semua yang terjadi.
“Dad, kau membenciku?” tanya Gabby, setelah sedikit tenang. Ia melepaskan pelukannya kemudian menatap Stuard.
“Gabby, saat kau dan Gabriel lahir dari perut Mommy. Daddy berjanji padanTuhan, bahwa Daddy akan selalu melindungi kalian. Apapun yang terjadi, tidak boleh ada yang menyakiti kalian. Kau tau, bahkan Daddy pernah berniat akan membunuh Uncle Josh jika sampai dia mengambil kalianm dari Mommy dan Daddy. Berhenti merasa bersalah, karena Daddy sama sekali tidak marah dan kecewa padamu. Gabriel, kau dan Gisel adalah anak-anak Daddy yang berharga.” Mendengar ucapan sang ayah tangis Gabby kembali berlinang. Jika tak ada sang ayah, Gabby tidak tau akan seperti apa.
“Sudah Jangan menangis Lagi. Sekarang kau hanya perlu menjalani hidupmu dengan baik. Kau juga sudah berpisah dengan Arsen. Jadi jangan lagi melihat kebelakang.” Gabby terdiam, saat mendengar sang ayah. Ia tidak ingin repot-repot bertanya, kenapa sang ayah tau tentang perceraiannya dengan Arsen.
Stuard bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan ke arah kulkas kecil, lalu mengambil air air mineral dan memberikannya pada Gabby.
“Minumlah!”