Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Gagal


Gengs maafin baru update ya. kan setiap hari.minggu aku libur tapi liburnya aku geser kmrin. Besok aku udah up rutin ya


Lajang?


satu kata berputar-putar di otak Naura, berbagai prasangka menyerbu otak wanita itu.


“Tunggu! apa dia membohongiku,” liirih Maura antara terkejut senang. Namun, dia tidak ingin berharap lebih


Perasaan Naura begitu campur aduk, dengan cepat Naura menyimpan kartu tanda identitas kedompet Alvaro, kemudian wanita itu langsung berlari ke arah dapur untuk menyimpan dompet ayah dari anaknya.Ia tidak boleh gegabah, ia harus menyelidiki semuanya secara detail sebelum ia bertanya pada Alvaro. Dia terlalu takut mendengar jawaban Alvaro Jika dia bertanya sekarang.


Setelah menyimpan dompet Alvaro, Naura kembali ke kamar dan ketika Naura kembali ke kamar Alvaro keluar dengan terburu-buru, dia lupa bahwa ia meninggalkan dompetnya di dompetnya di sana. Di dompetnya, masih ada foto Naura dan yang terpenting, ada kartu identitasnya. Sayangnya Alvaro tidak tahu bahwa Naura sudah melihat kartu identitasnya, dan sayangnya juga, Naura juga tidak tahu bahwa di dompet Alvaro masih ada fotonya.


***


Waktu menunjukkan pukul 02.00 malam, Naura tidur bisa tertidur, sedari tadi ia memikirkan tentang Alvaro, rasanya kepala Naura hampir meledak memikirkan itu. Dan sekarang, Naura merasa sedikit haus, dia pun keluar dari kamar. Saat dia akan pergi ke dapur, dalam cahaya yang remang dia melihat Alvaro sedang duduk di mini bar sepertinya lelaki itu sedang menikmati segelas wine.


Naura ragu untuk mendekat. Namun, Naura seperti terseret oleh magnet, hingga wanita itu langsung menghampiri Alvaro. Naura berdaham menyadarkan Alvaro dari lamunannya, hingga Alvaro menoleh.


“Kau belum tidur?” tanya Alvaro, lelaki itu menatap Naura dari atas sampai ke bawah. Naura memakai gaun tidur yang sangat tipis. Sayangnya Naura tidak menyadari tatapan Alvaro karena Alvaro dengan cepat memalingkan tatapannya ke arah lain. Padahal tangannya meronta-ronta ingin menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


“ Aku tidak bisa tidur,” jawab Naura. “Boleh aku duduk di sini?” tanyanya lagi.


“Silahkan ... Kau ingin wine?” tanya Alvaro setelah Naura duduk.


“Boleh.” Naura mengangguk, hingga Alvaro menuangkan wine ke gelas yang kosong lalu memberikannya pada Naura.


Hening


Tidak ada pembicaraan kedua insan itu sama-sama menatap ke depan, tiidak ada yang berbicara sedikitpun. Hingga akhirnya Naura membuka suara.


“ Alvaro!” panggil Naura, yang memecah keheningan yang terjadi.


“Hmm," jawab Alvaro.


“Pernikahanmu dengan Nella baik-baik saja?” tanya Naura.


“Tidak terlalu baik dan juga tidak terlalu buruk,” jawab Alvaro. Naura menganggukkan kepalanya dia tidak bertanya lagi, dia tidak ingin Alvaro curiga karena dia ingin menyelidikinya secara diam-diam.


“Naura boleh aku bertanya?” kali ini Naura yang bergantian bertanya.


“Silahkan.”


“Naura pasti berat kan mengurus Ameera seorang diri.” Naura tersenyum getir, hatinya mendadak pedih saat mengingat semua tidak mudah dari posisi Naura, ketika dia berjuang untuk putrinya ia mengetahuinya perselingkuhan Nauder.


“Aku tidak ingin mengatakan ini sulit, karena Ameeera segalanya. Mungkin aku lebih menikmati proses yang ada,” jawab Naura.


“Terimakasih untuk apa?”


“ Terima kasih karena kau terus bertahan mengasuh Ameera seorang diri. Terima kasih kau telah berjuang untuk Ameera. Aku tidak tahu harus membalasmu dengan apa.


Naura tersenyum kemudian tanpa sadar dia mengelus punggung Alvaro, karena terdengar suara lelaki itu bergetar seolah ingin menangis dan ketika Naura mengusap punggungnya, Alvaro menoleh hingga Naura tersadar, kemudian dia menjauhkan tangannya dari punggung Alvaro.


“ Maaf,” ucap Laura.


Alvaro tidak menjawab, ia malah menatap Naura, dadanya bergemuruh ia ingin sekali mencium bibir dan memeluk tubuh wanita ini, begitupun Naura, dia malah balik menatap Alvaro seolah mengatakan hal yang sama


Pada akhirnya Alvaro menurunkan rasa takutnya, dia menggeser sedikit kursinya dan mendekat ke arah Naura, bukannya menjauh Naura malah diam di tempat seolah mengisyaratkan Alvaro untuk menyentuhnya dan tanpa sadar Alvaro mendekatkan wajahnya ke arah Naura. Lalu setelah itu dia mencium bibir Ibu dari putrinya.


Namun, seper sekian detik Alvaro tersadar dengan cepat dia menjauhkan wajahnya dan saat Alvaro akan menjauhkan wajahnya Naura menahan tekuk Alvaro, seolah mengisyaratkan untuk memperdalam ciumann? mereka dan ketika Naura menarik tengkuknya, seketika itu juga Alvaro menggila dia tidak ingin menahan apapun malam ini, hingga mereka kembali berciumann dengan panas.


Setelah kehabisan nafas, Alvaro dan Naura sama-sama melepaskan tautan bibirr mereka, lalu Alvaro menempelkan keningnya pada kening Naura. “Naura, jika kau tidak ingin ini berlanjut dorong aku. Semua keputusan ada padamu,” ucap Alvaro.


Naura yang tadinya ingin mengetes Alvaro malah terlarut dalam rencananya sendiri, sentuhan Alvaro benar-benar membuatnya menggila dia sudah lama sekali menginginkan momen seperti ini. Tadi, Ia benar-benar hanya ingin mengetes Alvaro dan mencari tahu lebih dalam Apakah Alvaro lajang atau benar-benar sudah menikah


“ Ba-Bagaimana dengan Nela?” tanya Naura.


“Lupakan dia, hanya ada kita disini. Jika kau mendorongku maka aku akan berhenti sampai di sini tapi jika kau ...." Alvaro tidak meneruskan ucapannya karena Naura mencium bibir Alvaro dan sekarang Alvaro tahu, bahwa Naura sudah mengijinkannya.Alvaro menjauhkan wajahnya dari Naura kemudian ia membopong tubuh ibu dari putrinya dan mereka pun langsung berjalan ke arah kamar


****


Saat mereka larut, tiba-tiba Naura tersadar ketika wajah Nella terlintas di otaknya, tidak ia tidak boleh seperti ini. Walaupun ia yakin Alvaro masih lajang, tapi siapa tahu Alvaro hanya lupa mengganti status identitasnya hingga pada akhirnya ia mendorong dada Alvaro yang sedang berada di atasnya, hingga Alvaro tersadar.


“ Alvaro Maaf, aku tidak bisa.” Alvaro seperti orang linglung saat Naura mendadak menolaknya, tubuh yang tadinya panas mendadak menjadi membeku.


“Maafkan aku,” lirih Naura.


“Maafkan Aku. aku tidak bermaksud." Alvaro menjawab dengan salah tingkah.


“Tidak, apa-apa Alvaro ini memang salahku. Bisakah kau keluar!’ titah Naura ia menarik selimut, menyelimuti tubuhnya yang hampir polos.


“Oh, baiklah.” Alvaro pun turun dari ranjang namun saat ia keluar tiba-tiba ia merasa khawatir.


“ Naura!” panggil Alvaro. “Kau tidak akan melakukan macam-macam, kan?? tanya Alvaro, Naura merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh lelaki itu, kenapa Alvaro bisa mengatakan hal semacam itu.


“Memangnya aku akan melakukan ap ...”


Alvaro ....