Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Perubahan sikap keluarga


Nael mengerutkan keningnya saat sang ayah pergi meninggalkannya di basement. Ia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi, ia memegang dadanya. Rasa sesak itu datang lagi. Entah kenapa tubuhnya benar-benar terasa lemas. padahal sebelumnya ia biasa-biasa saja


Nael mengusap wajah kasar. “Ah sudahlah, Memangnya apa juga peduliku.” Pada akhirnya, Nael mengikuti langkah sang ayah untuk berjalan ke dalam rumah. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya.


Nael membuka pintu kamar, kemudian ia langsung berjalan ke arah ranjang dan membanting tubuhnya di ranjang hingga kini posisinya berbaring sambil telentang.


Nael mengangkat tangannya, lalu menyimpannya di kening. Matanya menerawang ke langit-langit, tanpa sengaja. Ia menoleh kearah samping.


“Naura Jangan sentuh itu. Nanti Daddy bisa marah,” ucap Laura saat Naura akan menyentuh miniatur milik Nael.


“Naura, Bisakah kita mengambil satu saja agar kita mempunyai sesuatu milik Daddy,” kata naura.


“Jangan, nanti Daddy memarahi kita!" Tiba-tiba bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Nael saat melihat kedua putrinya sedang berada di depannya. Tak lama, bayangan kedua putrinya memudar dan menghilang membuat Nael mengerjap, kemudian ia tersadar bahwa itu hanya sebuah hayalan.


Ia langsung bangkit dari berbaringnya, kemudian mendudukkan dirinya. Barusan, ia membayangkan Kejadian beberapa waktu lalu dimana Laura dan Naura main ke kamarnya dan ia memarahi mereka karena mereka memainkan minitar miliknya.


“Kenapa aku harus jadi seperti ini,” Lirih Nael. sambil menjambak rambutnya ke belakang. Ia pun memutuskan bangkit dari duduknya kemudian ia memilih untuk berendam di kamar mandi.


“Laura jangan main di kamar mandi Daddy, nanti Daddy akan marah.”


Tanpa sadar, Nael akan melangkahkan kakinya menghampiri kedua putrinya. Tapi saat nael akan mendekat, bayangan putrinya tiba-tiba menghilang, ia berhalusinasi lagi.


“Cukup, aku bisa gila jika terus seperti ini. Lupakan mereka .. Lupakan mereka mereka. Aku tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka.” Nael masih tetap pada egonya. Ia pun lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Waktu menunjukkan pukul 8 malam, Nael yang sedari tadi berdiam diri di kamar langsung turun untuk makan malam. Ia merasa heran kenapa sang Ibu tidak memanggilnya.


Biasanya, Jika ia telat 5 menit saja untuk makan malam, sang ibu akan menyusulnya. Tapi sekarang, Grisella tidak menyusulnya hingga ia memilih untuk untuk turun ke bawah.


Saat turun ke bawah, Grey dan Grisella serta Leticia sudah berada di meja makan. “Selamat malam,” ucap Nael. Namun tidak ada yang menggubris ucapan Nael, membuat Nael mengerutkan keningnya. Ayah Ibu dan adiknya seperti tidak melihatnya.


“Dad, aku kenyang. Aku akan pergi ke kamar. Leticia habiskan makan malammu!” tiba-tiba Grisella bangkit dari duduknya saat Nael datang, membuat Nael benar-benar bingung. Ia mengerutkan keningnya. Sebenarnya ada apa dengan keluarganya, mereka tiba-tiba berubah pada Nael. Bahkan seperti tak menganggapnya.


“Daddy juga akan ke kamar.” Setelah mengatakan itu, Grey bangkit dari duduknya kemudian pergi berlalu meninggalkan meja makan. Hingga kini, hanya tersisa Leticia di meja makan.


“Heh, kau mau kemana?” tanya Nael ketika Leticia akan bangkit dari duduknya. Leticia menatap Sang Saka dengan dingin, membuat Nael terpaku.


“Sebagai adikmu Aku hanya hanya ingin mengatakan sesuatu..Kau tidak akan pernah diberikan kesempatan kedua.” Setelah mengatakan itu, Leticia pun berbalik kemudian pergi meninggalkan Nael, membuat Nael mengusap rambut kasar. Hari ini, benar-benar membuatnya gila.