Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Meminta tolong Jordan


Gabby terus melihat kearah jendela. Ia menghela nafas beberapa kali, ketika orang yang di ditunggunya belum juga datang. Saat ini, Gabby sedang menunggu seseorang di sebuah kafe, ia sedang menunggu seseorang yang tak lain adalah Jordan. setelah mendengar keinginan Laura, Gabby langsung mengirim pesan pada Nael dan mencoba menelpon Nael.


tapi Nael tidak mengangkat panggilannya dan hanya membaca pesannya, tanpa membalasnya. Awalnya Gabby bingung, bagaimana cara menemui Nael, lewat pesan saja tidak merespon. Apalagi Jika bertemu secara langsung. Hingga akhirnya, Gabby terpikirkan Jordan, sahabat Nael. Berharap Jordan mau membantunya, dan akhirnya, Gabby menghubungi Jordan dan meminta waktu Jordan.


Tapi sudah setengah jam berlalu, Jordan belum juga sampai. Tak lama, wajah Gabby sumringah, ketika mobil Jordan datang dan Jordan keluar dari mobil, helaan nafas terlihat dari wajah Gabby. Rasanya, ia ingin segera berbicara dengan Jordan.


“Jordan, aku disini.” Gabby Melambaikan tangannya pada Jordan, ketika Jordan masuk ke dalam, Jordan tersenyum, kemudian menghampiri Gabby, ia menarik kursi lalu mendudukkan diri di depan Gabby


“Maaf membuatmu menunggu lama Gabby. Aku baru saja menyelesaikan meetingku,” ucap Jordan. Gabby menganggguk. “Tidak apa-apa, Jordan. Maaf merepotkanmu, maaf juga mengganggu waktumu,” kata Gabby.


“Tidak masalah, Ada apa? tumben sekali kau memanggilku? ” tanya Jordan. Gabby tampak terdiam. Ia seperti ragu mengatakan apa yang ia katakan. Ia hanya takut Jordan menolak permintaannya dan ia tidak mempunyai cara lagi untuk menemui Nael.


“Gabby!” Panggil Jordan, menyadarkan Gabby dari lamunannya.


“Bolehkah aku meminta tolong padamu?” tanya Gabby.Jordan terdiam, ia jarang sekali bertemu Gabby dan sekarang, ia tertegun saat melihat Gabby dari dekat, tubuh Gabby begitu kurus, pipinya begitu tirus. Bahkan warna kulit Gabby memucatkan cenderung memutih, sepertin darah berhenti mengalir ke seluruh tubuh Gabby.


“Gaby Ada apa, tumben sekali kau meminta tolong begitu padaku,” ucap Jordan. Tangan Gabby saling bertautan di bawah meja. Rasanya, ia tak sanggup memberitahukan kondisi Laura dan Naura pada Jordan.


“Tidak apa-apa, Jordan. Laura dan Naura ingin pergi bersama Nael ke taman hiburan. Aku sudah berusaha menghubungi Nael. Tapi Nael menolak panggilanku dan tidak membalas pesanku,” jawab Gabby. “Jadi, aku berharap kau mau membantuku untuk membujuk Nael,” sambung Gabby lagi. Seketika Jordan terdiam.


Ia merasa noda suara Gabby memberat. Nahkan ia juga merasakan, bahwa Gabby seperti sedang menahan tangisnya.


“Gabby ada apa? aku yakin, ini bukan hanya tentang Laura dan Naura yang ingin pergi ke taman hiburan. Apa terjadi sesuatu dengan kalian? Jika kau tidak mau memberitahu aku apa yang terjadi, aku tidak akan membantumu.” Jordan terpaksa mengancam Gabby. Sebab, jika tidak. Mungkin, Gabby tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya. S


“Jordan, Laura dan Naura menderita penyakit leukimia, penyakit yang sama denganku dan ...


” Gabby tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Ia memalingkan tatapannya ke arah lain, kemudian berusaha menahan tangisnya. Ada air mata yang mendesak untuk segera dikeluarkan. Tapi ia tidak mungkin menangis di hadapan Jordan, ia juga benci di kasihani.


Scroll gengs