
Arsen menjambak rambutnya ke belakang, ketika ia sudah lobi apartemen. Sekarang, ia harus memikirkan bagaimana caranya ia pulang. Kedua ponselnya dan dompetnya ada di mobil, sedangkan kunci mobil ada di Gabby.
Dan sekarang, ia harus memikirkan bagaimana caranya untuk pulang, jarak apartemen Kristin dari rumahnya sungguh sangat jauh. Butuh waktu satu jam untuk sampai, itupun memakai mobil, apalagi jika ia berjalan kaki.
Tiba-tiba, Arsen terpikirkan sesuatu. Ia langsung menghampiri resepsionis untuk meminjam telepon dan berniat menghubungi keluarganya, ia akan meminta adiknya menjemputnya.
Saat ia berjalan, ia menghentikan langkahnya ketika melihat Jordan, sang Paman keluar dari lift. Jordan adalah adik tiri ayahnya. Tapi, hubungan mereka tidak terlalu baik, karena ayah Arsen merampas hak milik Jordan hingga Setelah orang tuanya meninggal, Jordan lebih memilih keluar dari rumah dan membiarkan kakaknya yang tak lain orang tua Arsen berbuat semaunya.
.
“Jordan!” panggil Arsen pada sang paman yang hanya berbeda dua tahun dengannya Jordan melihat kearah Arsen sekilas, kemudian ia menatap Arsen dengan dingin, karena selama beberapa tahun ke belakang, mereka sama sekali tidak pernah bertegur sapa.
“Jordan tolong bantu aku,” ucap arsen. Tapi, Jordan kembali melanjutkan langkahnya dan enggan menoleh. “Jangan ganggu aku! pergi sana!” titah Jordan saat Arsen mengikuti langkahnya.
Arsen mengusap wajah kasar, ia berhenti mengikuti Jordan karena ia yakin, Jordan Takan membantunya. Ia pun kembali berbalik, kemudian ia berjalan ke arah resepsionis.
•••
Tubuh Gabby mengeluarkan keringat dingin, wajahnya begitu pucat. Bahkan, dalam tidurnya Gabby masih terlihat sangat gelisah.
Dokter pribadi sudah datang untuk memeriksa Gabby dan setelah diperiksa, Gabby sempat tersadar, kemudian kembali memejamkan matanya lagi dan tertidur.
Sedari tadi, saat Gabby menutup Matanya, Giselle tak henti-hentinya menggenggam tangan Gabby dan terus mengelap keringat yang dikeluarkan oleh tubuh kakaknya.
“Arsen!” Gabby mengigau nama Arsen. Bagaimana tidak, saat ini kondisi Gabby benar-benar tertekan, karena lelaki yang sudah 13 tahun dengannya, mengkhinatinya.
Giseel bangkit dari duduknya, kemudian mengelap keringat yang ada di wajah Gabby.
“Kak, tolong jangan seperti ini. Hidupmu terlalu berharga untuk menangisi bedebah itu,” ucap Gisel dengan suara yang sangat pelan. Seandainya ia bisa untuk mengatakan itu pada Gabby saat tadi Gabby sadar, tentu ia akan mengatakannya.
Tapi tentu saja Gisel tak mengatakannya. Karena ia tidak merasakan apa yang kakanya rasanya. Hingga sekarang, ia lebih memilih diam dan mengikuti apa yang akan kakaknya lakukan.
Malam berganti pagi, Gabby mengerjap kemudian membuka matanya, ia melihat ke samping. Ternyata Gisel sedang tertidur memeluknya.
Sejenak, Gabby melupakan apa yang terjadi kemarin malam, berharap semunya adalah mimpi. Tapi, kenyataan menamparnya, semua adalah nyata, hati Gabby berdesir pedih, saat mengingat kenyataan yang ada.
Gisel membuka matanya, saat merasakan ada air yang mengenai tangannya, ternyata itu adalah air mata Gabby.
“Kakak!" lirih Gissel membuat Gabby tersadar, Gabby menoleh ke arah Gisel, kemudian tersenyum. Ia bangkit dari berbaringnya, kemudian menghapus air matanya.
“Giseel, tolong siapkan pakaian untukku. Dan tolong telpon supir, suruh dia menjemputku di sini!” Titah Gabby.
“Kak kau mau kemana?”. tanya Giseel.
“Jangan khawatir, aku perlu mengurus sesuatu!”
Scrool gengs