
Nael memeluk kedua putrinya begitu erat. Tangis sesegukan lolos dari bibirnya saat melihat Laura dan Naura.
Saat Laura dan Naura menghilang, dunianya seakan berhenti berputar dan jantungnya seperti berhenti berdetak. Rasa sakit menghinggapinya, ketika dia belum menemukan Laura dan Naura, dan sekarang ketika Laura dan Naura ada di pelukannya, ia memeluk kedua putrinya benar-benar erat. Bahkan, Laura dan Naura merasa, sesak karena eratnya dekapan ayah mereka.
Mendengar tangisan sang ayah dan merasakan pelukan sang ayah saat ini, membuat hati Naura menghangat. Sebenarnya, dari sebulan lalu. Hati Naura sudah luluh, hati Naura luluh ketika Nael menyelamatkannya dari kolam renang dan ketikan Nael menggenggam tangannya saat ia tertidur.
Hanya saja saat itu ia terhalang gengsi. Itu sebabnya, selama sebulan ini diam-diam Naura selalu meminta tolong pada Nael Ia. Ia bersikap ketus hanya menutupi rasa gengsinya.
Sejatinya Naura tetaplah sama, ia memiliki rasa kasih sayang yang berlimpah untuk sang ayah. Hanya saja rasa kecewa itu menutupnya, hingga ia menutup dirinya agar tidak terus terluka. Tapi, ketika Nael berjuang, Ketika sang ayah memperlihatkan rasa sayangnya pada mereka, akhirnya Naura Luluh. Tapi sayangnya rasa gengsi anak itu sangat tinggi. Hingga tidak bisa memberitahukan pada ada Nael, bahwa ia sudah memaafkan sang ayah.
Dan sekarang, ketia Nael memeluknya dengan erat dan ketika mendengar tangisan sang ayah hati Naura semakin menghangat. Hiingga ia membalas pelukan Nael.
Setelah puas memeluk kedua putrinya Nael melepaskan pelukannya, hingga kini ia menyapa kedua putri kembarnya bergantian.
“Kenapa kalian pergi tanpa memberitahu Daddy?Apa kalian tidak tahu betapa takutnya Daddy saat kalian tidak ada, betapa takutnya Daddy saat tidak bisa melihat kalian lagi?” Nael mengucapkan ucapannya dengan emosional. tatapan matanya begitu tulus menatap kedua putrinya.
Hingga Laura dan Naura saling tatap, dan seketika Laura dan Naura menunduk.
“Maafkan kami,” ucap Laura dan Naura secara bersamaan. Seketika Nael kembali membawa Laura dan Naura ke dalam pelukannya.
”Tolong jangan tinggalkan Daddy lagi.” Nael berucap dengan nada yang penuh keputusasaan. Selama beberapa jam lalu, ia dihantui ketakutan yang luar biasa, ketika ia tidak bisa melihat putrinya.
Selama 1 bulan ini, ia mati-matian untuk tidak bersikap baik pada Nael. Tapi saat ini, saat sang ayah memeluknya, rasanya pertahanan Naura runtuh.
“Daddy!” panggil Naura.
Nael yang sedang menangis sambil memejamkan matanya, kembali membuka mata. Ia tersentak kaget saat mendengar suara Naura yang memanggilnya Daddy.
Seketika Nael melepaskan pelukannya lagi, Kemudian ia menatap Naura dan menangkup kedua pipi Putri bungsunya.
”Naura!” Panggil Nael dengan bibir bergetar. Rasa lemas yang tadi ia rasakan seketika berganti dengan rasa semangat ketika untuk pertama kalinya lagi. Naura memanggilnya Daddy.
“Naura, kau sudah memaafkan Daddy?” tanya Nael terbata-bata. Seketika Naura maju. Kali ini ia yang memeluk sang ayah.
“Daddy,” ucap Naura, kali ini Nael membalas pelukan Naura, sedangkan Laura yang berada di sebelah Naura menarik sudut bibirnya kala sang adik sudah memaafkan ayah mereka.
“Terima kasih Naura, terimakasih." Kali uni tangisan Nael lebih mengencang dari sebelumnya, ia merasa terbang ke atas awan
••••