
“Kemana saja kau. Apa kau tahu selama ini aku mengkhawatirkanmu?” tanya Nael Arsen menyeruput teh di depannya, kemudian terkekeh.
”Nael kau membuat geli, kenapa juga kau harus mengkhawatirkanku. Memangnya aku istrimu,”jawab Arsen. Saat ini mereka sedang duduk di cafe, yang tak jauh dari tempat tadi Nael menghadang mobil Arsen.
Nael menyipitkan matanya saat melihat wajah Arsen yang tampak tirus, helaan nafas terlihat dari wajah tanpan Nael, saat melihat Arsen saat ini. Sepertinya akan sangat mustahil atau sangat percuma jika Nael terus mengingatkan Arsen tentang kesehatannya, karena Arsen sendiri yang tidak mau sembuh.
“Dari mana saja kau selama sebulan ini?” tanya Nael nadanya sudah mulai serius.
“Bertamasya,” jawab Arsen membuat Nael, memejamkan matanya. “Kau baik-baik saja?” tanya Nael lagi
“Jika tidak baik-baik saja. aku tidak akan ada di depanmu.”
“Bisakah kau tidak bercanda, orang lain mengkhawatirkan kondisimu tapi kau sendiri ....” Arsen menegakkan tubuhnya, kemudian menatap Nael dengan serius.
“Nael, berhentilah khawatir. Aku tidak apa-apa kondisiku juga lebih baik,” jawab Arsen. Namun wajahnya mengatakan sebaliknya.
“Kau belum bertemu Gisell lagi apa kau tahu apa yang terjadi dengan Gie ....”
“Aku tahu,” jawab Arsen yang memotong ucapan Nael, tiba-tiba Arsen tidak nyaman ketika membahas Gisel.
“Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Gisel. Gisel, juga sudah bahagia dengan laki-laki lain,” jawab Arsen membuat Nael menarik sudut bibirnya.
“Benar, kau tidak ada sangkutnya lagi dengan Gisel. Tapi kenapa kau tahu Gisel sedang dekat bersama seorang lelaki, apakah mengawasinya?” Nael memberikan pertanyaan menjebak pada Arsen, membuat Arsen memalingkan tatapnya ke arah Lain.
“Isss kau ini!” gerutu Arsen. “Katakan untuk apa kau menemuiku? Aku ingin istirahat sebelum aku terbang ke Swiss!” kata Arsen lagi, dan pada akhirnya lelaki kedua lelaki itu pun berbincang-bincang hangat.
Gisel menyandarkan tubuhnya ke belakang, wajahnya benar-benar sudah kusut saat memikirkan masalah yang sedang dihadapinya. Ia benar-benar bingung bagaimana cara untuk menghadapi masalah yang ada di depannya.
Lamunan Gisel buyar ketika mendengar suara pintu diketuk, ternyata sekretarisnya yang mengetuk pintu.
“Masuk, ada apa?” tanya Gisel pada sekretarisnya.
“ Nona, ada tuan Arsen datang dan ingin bertemu dengan anda.” tubuh Gissel diam mematung, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar nama Arsen.
Ia menegarkan hatinya kemudian ia langsung menoleh ke arah sekretarisnya. “Suruh dia masuk !” ucap Gisel dengan bibir bergetar. Saat sekretarisnya keluar, Gisel menghapus sudut matanya yang berair, kemudian ia menormalkan ekspresinya hingga tak lama pintu diketuk dan sosok Arsen masuk dan Gisel pun langsung bangkit dari duduknya.
Kini, tatapan kedua orang itu saling mengunci, ada desiran halus hati keduanya. Namun, keduanya terhalang oleh kisah masa lalu.
Arsen menegarkan hatinya, kemudian ia maju ke arah Gisel.
”Bagaimana kabarmu Gisel?” tanya Arsen, ia menyapa layaknya seorang rekan. Giseel tersadar kemudian tersenyum, lalu ia pun maju ke arah Arsen.
“Silakan duduk Arsen.” Arsen pun langsung mengeluarkan berkas-berkas dari tasnya kemudian ia langsung membahas kasus yang sedang di hadapi oleh Gisel.
Selama pembahasan tentang kasus yang ditangani Gisel, keduanya sama-sama merasakan perasaan yang tak biasa. Namun keduanya juga sama-sama menahan diri, hingga akhirnya pembahasan itu selesai dan tepat ketika pembahasan itu selesai, pintu ruangan Giseel diketuk oleh seseorang dan tak lama pintu terbuka, sosok Steve masuk ke dalam ruangan Giseel.
Scroll gengs