
Ayana mematut diri di cermin, ia sungguh tidak nyaman memakai gaun yang diberikan oleh Raymond. Di masa lalu, ia terbiasa memakai gaun seperti ini. Tapi sekarang, rasanya iya begitu malu apalagi gaun itu begitu terbuka di bagian punggung.
“Mommy!" panggil Moa.
“Moa, kau tidak apa-apa menunggu di sini sendiri? Mommy tidak akan lama!” kata Ayana.
“Hmm, Mommy pergilah. Aku tidak takut,” jawab Moa berbohong, karena jujur, gadis kecil itu begitu penakut. Moa terpaksa harus menunggu sendiri, karena satu minggu lalu Ayana memasukkan ayahnya ke dalam rumah sakit jiwa karena ayahnya sering mengamuk.
Awalnya, ia ingin merawat ayahnya sendiri dengan menyewa petugas, karena sekarang ia sudah memiliki gaji yang cukup. Tapi pihak rumah sakit jiwalah yang menyarankan untuk ayahnya dirawat, karena ayahnya vonis menderita depresi berat.
Dan semenjak ayahnya masuk rumah sakit jiwa, Ayana menitipkan putrinya ke daycare, agar Moa bisa belajar sekaligus bermain di sana dan ia akan menjemputmu ketika ia pulang bekerja dan sekarang ia terpaksa harus meninggalkan moal, karena ia harus pergi dengan Ray.
“Mommy janji, Mommy tidak akan lama.”
Tak lama, terdengar suara klakson dan ia tahu Raymond sudah menjemputnya.
•••
“Maaf membuat Anda menunggu lama,” ucap Ayana ketika masuk ke dalam mobil, Raymond menoleh. Tak lama, ia membulatkan matanya saat melihat tampilan Ayana yang begitu cantik.
Namun tak lama Ray tersadar. Ia tak menjawab, dan langsung menyalakan mobilnya dan menjalankannya kembali. Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai Raymond sampai di hotel tempat diselenggarakan pesta.
Ayana membuka pintu begitupun Raymond dan mereka pun masuk ke dalam dengan Ayana yang berjalan di belakang tubuh Raymond
Saat Ayana masuk ke dalam, ia menghentikan langkahnya saat matanya bersibobrok dengan Jordan. Ini sudah 2 bulan berlalu, Jordan tidak mengganggunya dan untuk pertama kalinya lagi ia bertemu Jordan.
Ayana mundur, ia lebih memilih menunggu di depan pintu karena ia takut Jordan akan mencari gara-gara dengannya. Saat ia sudah berjalan, tiba-tiba terdengar suara srek, dan Ayana langsung menoleh ke belakang.
Mata ayah membulat saat melihat apa yang terjadi. Ternyata, Jordan menginjak bagian belakang gaunnya, hingga gaun Ayana robek dan pahanya terekspose
Semua orang menetap pada Ayana dan Jordan. Ayana langsung dihinggapi rasa malu dan merasakan panik yang luar biasa. “Wah, Ayana kau lebih pantas memakai pakaian begitu!" Jordan menghina Ayana di hadapan semua tamu. Sedangkan Ayana langsung tertunduk, ia bingung harus melakukan apa.
Tak lama, Raymond datang ke hadapan Ayana, kemudian membuka jasnya, lalu menutupi paha Ayana dengan jasnya. Saat Raymond menolong Ayana, Jordan mengepalkan tangannya.
“Ayo kita pulang!” ajak Raymond, ia menarik tangan Ayana untuk keluar dari aula.
Setelah sampai di parkiran, Raymond menghempaskan tangan ayahnya dengan keras, hingga tangannya terbentur pada mobil. Hingga Ayana meringis.
“Apa kau bodoh, kenapa kau membiarkan dia mengganggumu!” teriak Raymond.
“Kau tahu, kau membuatku malu dan kau ...” tiba-tiba Raymond menghentikan ucapannya, kala melihat Ayana memejamkan matanya, dan ia bisa melihat tubuh Ayana bergetar. Ayana paling tidak bisa mendengar teriakan dan bentakan, karena ia trauma. Dulu Jordan sering menyiksanya sambil berteriak dan membentaknya, dan Kini ia harus menerima bentakan dan teriakan dari Raymon.
Ayana memberanikan diri membuka matanya, wajahnya sudah memucat kejadian ini seperti mimpi baginya. “Tu-tuan maafkan saya. Ka-kalau begitu saya akan pulang. Se-sepertinya Putri saya ketakutan di rumah seorang diri." Ayahnya berbicara dengan terbata-bata, dia berusaha untuk tak menangis. Tapi sekuat apapun Ayana menahannya, akhirnya bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya, kemudian Ia pun langsung berbalik dan memutuskan untuk pulang memakai taksi.
Seketika ....
Seketika 500 komen
Gengs gabung di Chanel telegramm aku yu..Kalian tinggal cari Chanel Author Dewi Kim.