
Mata Arsan membeliak ketika Gabby menyuruh Kristin untuk makan bersama. Ia menatap Gabby dengan tetapan tanda tanya, membuat Gabby semakin menyipitkan matanya.
Tiba-tiba, dadanya berdenyut nyeri ketika melihat arsen dan Kristine, Gabby menggeleng samar. Ia tidak boleh bertindak gegabah, bisa-bisa Arsen tahu rencananya dan menghindar lagi.
“Bagaimana nona Kristin. Apakah anda ingin bergabung bersama kami?” tanya Kristin. Namun, Kristin menggeleng.
“Nona Gabby maaf, saya akan membawa makanan untuk makan di kantor, karena hari ini saya mempunyai sidang yang cukup padat,” jawab Kristine, membuat Arsen menghela nafas lega. Setidaknya, kali ini Kristin tidak mencari gara-gara dengan menyetujui keinginan Gabby.
Gabby menganggukan kepalanya. “Kalu begitu, mungkin lain kali kita bisa makan bersama," jawab Gabby, Kristine pun mengangguk.
“Kalau begitu saya permisi, Tuan Arsen dan nona Gabby.” Setelah mengatakan itu, Kristine melanjutkan langkahnya untuk memesan makanan, sedangkan Gabby dan Arsen langsung ke ruangan private, lalu mereka duduk dengan posisi berseberangan.
“Gabby, kenapa kau tak mau duduk di sampingku?” tanya Arsen, Gabby menoleh sekilas, kemudian kembali lagi melihat ke ponselnya.
“Aku hanya ingin disini,” jawab Gabby dengan acuh.
“Gabby!” panggil Arsen, seketika Gabby tersadar. Barusan ia terlalu menunjukkan rasa tidak sukanya, kepada Arsen.
“Arsen maaf. Aku sudah nyaman duduk di sini, jika kau mau kau saja berpindah ke sebelahku,” jawab Gabby dengan terpaksa. Arsen bangkit dari duduknya, lalu ia berjalan ke arah Gabby dan menarik kursi, lalu mendudukan dirinya di samping Gabby.
Setelah menunggu makanan selama beberapa saat, akhirnya makanan mereka pun tiba, dan Arsen langsung menarik piring Gabby untuk memotongkan steak untuk istrinya.
“Arsen jangan! biar aku yang memotongnya sendiri,” ucap Gabby lagi. Arsen menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Lalu mengembalikan piring ke hadapan Gabby.
Setelah itu, mereka makan dengan hening. Tidak seperti biasanya. Biasanya, mereka akan menghiasi acara makan mereka dengan canda dan tawa. Tapi selama beberapa hari ini, suasana meja makan begitu hening.
Saat makan, Gabby sama sekali tidak membuka mulutnya dan fokus ke makanannya
Tina-tiba Arsen terpikirkan sesuatu, lalu menatap Gabby dengan mata berbinar.
“Gabby apa perubahan moodmu karena kau sudah mengandung?” Tanya Arsen, Gabby tidak terkejut dengan pertanyaan Arsen, ia menoleh dengan santai kearah suaminya.
“Tidak, aku baru saja selesai masa periode,” jawab Gabby, mematahkan harapan Arsen. Setidaknya, jika Gabby mengandung posisinya akan semakin kuat.
“Bukankah ini masa suburmu, seharusnya kita ....” Tiba-tiba, ucapan Arsen terhenti, ketika Gabby menaruh garpu dan pisau yang sedang dipegangnya, lalu menatap Arsen dengan tajam.
“Bisakah kau tidak membahas yang lain-lain di sini. Aku ingin makan, bukan ingin mendengar celotehmu,” ucap Gabby dengan sadis, membuat Arsen terdiam lalu berusaha menahan emosinya.
Mungkin, jika Gaby bukan anak dari seorang Stuard Josephine, Arsen tidak akan terima ketika Gabby bersikap seenaknya. Tapi posisinya, Arsen sangat membutuhkan koneksi istri dan keluarga istrinya. Bisa habis dia jika membantah ucapan istrinya ataupun membuat istrinya murka. Hingga ia menerima apa pun yang di lakukan oleh Gabby.
Pada akhirnya, Gabby Arsen memilih pasrah, dengan hati yang kesal, ia pun kembali memakan makanannya.
Scroll Gengs