
Apa yang paling menyakitkan di muka bumi ini? ketika kau tidak bisa melihat senyum dari orang-orang yang berarti di hidupmu, ketika kamu tidak bisa memberikan mentari pada orang yang kau kasihi. Gabby Josepin❤️❤️
Setelah Laura dan Naura menyusul Nael, Gabby memegang tihang. Kepalanya terasa berputar-putar, ia hanya mampu menatap punggung Laura dan Naura yang berjalan menunduk.
Ia tahu, kedua putrinya sedang menahan tangis. Ia yakin, ucapan Nael barusan begitu menghancurkan hati Laura dan Naura. Hingga hati mereka patah berkeping-keping.
Tapi inilah yang diinginkan putrinya, mereka ingin bertemu dengan ayah mereka, sebelum mereka pergi ke Jepang. Hingga Gabby tak kuasa menahan keinginan kedua putrinya.
Seandainya Gabby tidak melihat harapan di kedua mata Laura dan Naura. Pasti Gabby ingin melarang putrinya untuk bertemu Nael.
Tapi, ini keinginan Laura dan Naura. Mereka tidak pernah meminta apapun, mereka tidak pernah mengeluh dengan apa pun yang mereka rasakan. Walaupun terasa pedih, tapi mau tak mau Gaby mengikuti kemauan Laura dan Naura untuk pergi ke taman hiburan bersama ayah mereka. Walaupun hati Laura dan Naura terluka karena ucapan Nael barusan.
Saat Laura dan Naura terus berjalan menjauh. Gabby menoleh ke arah belakang, dimana ada kursi kosong. Ia pun segera mendudukkan dirinya di kursi tersebut dan menunggu Laura dan Naura pergi.
Laura dan Naura saling bergandengan tangan. Mereka hanya bisa melihat punggung sang ayah tanpa bisa mengejarnya, tanpa bisa memintanya sang ayah untuk menunggu mereka agar bisa berjalan bersama.
Saat berada di depan kincir angin, Nael pergi ke membeli karcis. Ia bahkan tidak menoleh sama sekali pada kedua putrinya dan tidak memastikan bahwa kedua putrinya mengikutinya di belakang. Ia terus berjalan lurus, seakan Laura dan Naura tidak ada di belakangnya.
Laura dan Naura hanya mampu menatap punggung sang ayah, mereka benar-benar ingin memanggil Nael, Mereka benar-benar ingin menggenggam tangan Nael, mereka ingin seperti anak-anak lainnya. Di mana mereka pergi ke taman hiburan dengan penuh sukacita.
Alih-alih suka cita yang mereka rasakan, mereka malah mendapatkan rasa sakit, yang luar biasa hebat. “Ayo masuk!” ajak Nael Setelah membeli karcis. Ia hanya menoleh sekilas pada putrinya. Lalu setelah itu, ia kembali berlalu meninggalkan Laura dan Naura menuju pintu masuk kincir angin, membuat hati Laura dan Naura kembali pedih.
“Jangan menangis, Laura. Ini hari terakhir kita bertemu Daddy. Kita bisa anggap Daddy menyayangi kita.” Naura berucap dengan pelan. Ia menguatkan Laura. Agar, Laura tidak menangis. Padahal, biasanya ia yang akan menangis, dan Laura yang akan menenangkannya. Tapi, kali ini terbalik.
Seandainya mereka tidak akan pergi ke Jepang, tentu mereka tidak akan meminta hal semacam ini. Hal yang sangat menyakitkan. Untuk hari ini saja, Laura dan Naura akan bertingkah seolah Nael menyayangi mereka.
Laura menoleh, kemudian mengangguk. Kedua anak kembar itu melanjutkan langkahnya menyusul Nael yang sudah terlebih dahulu masuk ke area kincir angin.
Scroll aku up 3 bab