
gengs aku up 4 bab jadi ayo dong gasnkoken
Alvaro memakan sup krim yang baru saja dibuat sambil memainkan ponselnya, lelaki itu tersenyum seraya melihat foto-foto Naura yang ada di ponsel miliknya.
Rasanya matanya terus tertuju pada wanita itu, apalagi semenjak barusan dia mimpi tentang Naura yang mengandung anaknya dan tak lama Alvaro terpikirkan sesuatu, haruskah dia menelpon Naura. Rasanya tiba-tiba ia begitu rindu suara wanita itu.
Tapi saat ia akan menelpon wanita yang ia cintai, Alvaro menghentikan niatnya kala ia menebak, mungkin Naura sedang bersama Nauder. Dia tidak mungkin membongkar semuanya sekarang.
Jika ia membongkar secara terang-terangan tentu saja ia tidak akan punya alasan lagi untuk menahan dan Naura untuk terus berada di sisinya, ia juga tidak akan mungkin lagi bisa mengancam Naura agar Naura menurut padanya.
Pada akhirnya, Alvaro hanya memutuskan mengirimkan pesan saja padanya Naura. “Kabari aku jika kau sudah mengandung." tulis Alvaro dalam pesannya. Tiba-tiba Alvaro terpikirkan untuk mengirim pesan seperti itu. Apalagi barusan dia bermimpi Naura mengandung anaknya. Alvaro merasa mimpi itu benar-benar membuat bahagia
Setelah selesai dengan acara makannya, Alvaro berniat bangkit dari duduknya. Saat ia akan bangkit tiba-tiba satu orang masuk ke ruang makan membuat Alvaro kembali mendudukan dirinya dan membatalkan niatnya untuk pergi.
Julifer yang tak lain anak buah Alvaro menunduk hormat pada Alvaro. “Apa Kau menemukan kabar terbaru di mana Nauder menyembunyikan semuanya?” tanya Alvaro saat Julifer sudah berdiri di sampingnya.
julifer langsung mendekat, dia langsung menyerahkan beberapa buah foto yang ia dapat kehadapan Alvaro, hingga Alvaro langsung mengambil foto itu. Alvaro menatap foto itu dengan seksama, dia merasa tak asing dengan tempat dan latar yang ada di foto tersebut. Dengan cepat dia pun menoleh ke arah Julifer dan bertanya, “Di mana ini?” tanya Alvaro.
“Ini berada di kediaman mansion keluarga Helmia. Sepertinya mereka sengaja menyembunyikan di sana agar tidak terdeteksi oleh pihak kita.”
Alvaro menghela nafas sebanyak-banyaknya, kondisinya sedang tidak baik dan dia sungguh tidak dalam kondisi mood untuk membahas pekerjaan. Hingga akhirnya, dia pun menyimpan foto yang ia pegang ke bawah.
“Ya sudah kalau begitu. Kau boleh pergi!” titah Alvaro.
“Tuan----" Julifer menggantung ucapannya di udara ia bingung harus berbicara Bagaimana pada Alvaro.
“Ada apa?” tanya Alvaro dia menatap anak buahnya dengan menyipit, sepertinya anak buahnya ini sedang membutuhkan sesuatu.
“Tidak tuan.” Julifer ragu mengatakan semuanya hingga ia membatalkan niatnya.
“Katakan atau kau pecat!” titah Alvaro.
“Tuhan bolehkah aku meminjam uang untuk ----” Tiba-tiba Alvaro menatap tak percaya pada julifer. Gajih Julifer sudah sangat besar, bahkan berkali-kali lipat dari pegawai lainnya, tentu saja julifer harusnya sudah kaya karena menangani semuanya.
“Apa gajihmu kurang?” tangan Alvaro.
Julifer mengangguk. “Sebenarnya tidak tuan. Ayahku sedang terkena kasus, ibuku sedang terbaring di rumah sakit, anakku menderita penyakit parah dan istriku ....”
“Sudah Jangan teruskan lagi,” balas Alvaro dia paling lemah ketika mendengar soal keluarga karena itu mengingatkannya pada ia yang sebatang kara. Alvaro mengeluarkan dompet kemudian ia menyerahkan satu kartu pada julifer, lelaki yang paling setia padanya. Julifer juga yang dulu mengajaknya untuk bertemu dengan Romeo.
“Pakai ini gunakan untuk membereskan masalahmu, kau selalu membereskan masalahku sekarang giliran kau mengurus dirimu sendiri. Aku juga ingin beristirahat selama 2 hari. Jadi kau bisa bebas tugas!” kata Alvaro. Mata Julifer berkaca-kaca kemudian dengan ragu ia mengambil kartu itu.
“Ingat aku memberimu ini untuk keluarga, jika kau berbohong padaku maka kau akan tahu akibatnya.” Alvaro memberikan ultimatum pada julifer walaupun ia tahu julifer tidak mungkin berbohong. Semua yang bekerja di bawah naungan Alvaro sudah dipastikan semuanya setia, karena Alvaro memegang jaminan atas itu.
Setelah pamit, Julifer berbalik kemudian ia langsung pergi meninggalkan ruang makan sedangkan Alvaro mengambil gelas lalu meminumnya lagi, ia juga langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang makan, ia ingin beristirahat sebelum ia mengikuti Naura Nauder yang yang akan bulan madu.
•••
Nauder menatap tas Naura, di mana di tas itu ada ponsel istrinya yang baru saja berdering. Sepertinya ada satu pesan masuk di ponsel isrinya.
Jujur saja selama berpacaran dengan Naura sampai sekarang, dia tidak pernah menyentuh ponsel istrinya begitupun dengan Naura yang juga tidak pernah menyentuh ponselnya, mereka menghargai privasi masing-masing.
Namun Entah kenapa, feelingnya mengatakan ia harus melihat ponsel itu dan ia juga mendadak penasaran. Nauder melihat ke arah Naura yang masih memejamkan matanya, hingga dengan Nauder sedikit bangkit dari duduknya, lalu ia meraih tas Naura dan membukanya.
Saat tas Naura ada di pangkuannya, Nauder membuka tas tersebut, kemudian ia merogoh tasnya mencari ponsel sang istri. Baru saja ia memegang ponsel Naura, tiba-tiba satu panggilan masuk ke dalam ponselnya membuatnya terperanjat dan tanpa sengaja dia menjatuhkan tasnya ke bawah dia benar-benar terkejut.
Secepat kilat Nauder langsung menyimpan tas istrinya ke tempat semula dan ia pun langsung mengangkat panggilan yang ternyata dari ibunya. Nauder pun langsung bergegas bangkit dan mengangkat panggilan ibunya di balkon, agar Naura tidak Mendengar pembicaraan mereka.
Setelah Nauder mematikan panggilan sang ibu, lelaki tampan itu pun langsung berbalik. Namun saat berbalik, ia terperanjat saat Naura sudah duduk. Rupanya Naura baru saja terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba nauder dilanda ketakutan, Apakah Naura mendengar pembicaranya dia barusan dengan ibunya.
”Kau sudah bangun ternyata,” ucap Nauder.
Naura mengambil. “Siiapa yang menelpon?" tanya Naura. Mendengar pertanyaan Naura, Nauder mengehela nafas, itu berarti Naura tidak mendengar pembicaraannya dengan ibunya.
“Mommy menelponku..Ayo kita makan malam bersama Mommy, Mommy sudah masak banyak sekali hidangan," balas Nauder.
Naura menggangguk. “Malam ini atau besok?” tanya Naura lagi.
“Kau iinginnya kapan, jika kau masih lelah dan ingin pergi besok tidak apa-apa kita pergi besok saja,” balas Nauder, Naura Naura menggeleng.
“Tidak usah pergi besok, pergi nanti malam saja. kasihan Mommy karena sudah memasak untuk kita,” jawab Naura lagi, Nauder mengangguk.
“Sayang sepertinya ada yang mengirim pesan tadi ponselmu berdering,” ucap Nauder. Yeketika Naura dilanda kepanikan, ia takut pesan itu dari Alvaro. Nafas Naura mulai tercekat, namun ia berpura-pura untuk tenang.
Seketika Naura mengambil ponsel dari tasnya. Lalu membukanya terpampang nama Alvaro di sana, seketika Naura dilanda kepanikan dan ia pun langsung membuka pesan yang di kirimkan oleh Alvaro.
“Siapa sayang?” tanya nauder yang mendudukan diri di sebelah Naura. Seketika ...