Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Pelukan hangat


Setelah Ayana keluar dari kamar, Raymond langsung melihat ke arah Moa, kemudian ia bangkit dari duduknya lalu mengambil tisu dari laci. Setelah itu mengelap air mata Moa.


Dengan gerakan pelan, Raymond menggendong Moa dan mendudukan di atas pangkuannya. “Moa, tatap mata Daddy!”!kata Raymond, ia mengelus rambut Moa dan memandang Moa dengan penuh ketulusan, sedangkan Moa Hanya berdiam tanpa suara, ia melihat wajah Raymond lekat-lekat seolah sedang mencari kebenaran dari wajah lelaki yang ada di depannya.


“Daddy tiidak ingin mengatakan apapun padamu. Daddy hanya ingin membuktikan bahwa Daddy akan selalu bersamamu dan bersama Mommy,” ucap Raymond. “Daddy tahu, kau mengerti apa yang dikatakan dan Daddy tidak akan mengatakan apapun lagi!”


Sebenarnya, Raymond pun bingung harus mulai dari mana. Ia tidak pernah dekat dengan anak kecil, apalagi ia bisa dibilang anti dengan anak kecil, tapi pada Moa berbeda. Wajah moa dan sifat Moa seolah menghipnotis Raymond.


“Kau bukan Daddyku,” ucap Moa, tatapannya seolah menyiratkan bahwa ia tidak percaya dengan ucapan Raymond.


“Kenapa kau bisa mengatakan begitu?” tanya Raymond.


“Jika kau Daddyku, kenapa saat itu tidak menegurku saat kita bertemu di supermarket dan malah mengatakan bos Mommy,” Jawab Moa, Raymond tetap tenang, ia tidak mungkin memperlihatkan kebingungan di hadapan Moa.


“Panjang ceritanya, dan Daddy tu9dak mungkin menceritakannya di sini, yang terpenting, sekarang kau harus mengingat bahwa Daddy ada di sini, di sampingmu, di depanmu dan bersamamu. Daddy tidak akan meninggalkan kalian lagi.” Raymond menangkup kedua pipi Moa, lalu ia mencium kening Moa dengan penuh kasih sayang, membuatmu Moa tertegun. Hati anak kecil itu sepertinya sudah luluh, apalagi suara Raymond begitu lembut di telinganya.


Sebelum Moa menjawab lagi, Raymond bangkit dari duduknya kemudian ia menggendong Moa, lalu mengayunkan tubuh Moa kesana kemari dan Moa merebahkan kepalanya di pundaknya Raymond.


“Aku memang bukan ayahmu. Tapi aku berjanji, aku akan menjadi ayah yang sempurna untukmu!” Setelah mengatakan itu, Raymond pun bangkit dari duduknya, kemudian ia keluar dari kamar.


Saat ia membuka pintu, ia terperanjat kaget saat melihat ternyata Ayana ada di depannya.


“Tu-tuan,” ucap Ayana terbata-bata, Raymond maju ke arah Ayana, hingga jarak mereka begitu dekat.


”Tu-tuan. Kenapa kau harus membalasnya pada putriku?” tanya Ayana dengan menahan tangis, membuat Raymond mengerutkan keningnya.


“Kenapa kau mengatakan begitu, siapa yang akan membalas putrimu?” ucap Raymond.


“ Kau mempunyai dendam padaku, kau menarikmu sebagai sekretarismu hanya untuk membalasku dan sekarang kau mengatakan pada putriku, bahwa kau ayahnya. Lalu, bagaimana jika putriku percaya dan menganggap mu benar-benar ayahnya. Tapi pada akhirnya, kau mematahkan hatinya. Itukan yang kau mau!” kata Ayana dengan menunduk. Sekarang Raymond mengerti permasalahannya.


Perlahan Raymond maju, kemudian ia membawa anak ke dalam pelukannya. “Tidak perlu banyak berpikir, Jangan memikirkan apapun,” balas Raymond. Ia rasa percuma, jika ia harus menjelaskan panjang lebar pada Ayana.


Dan ketika Raymond memeluknya, tangis Ayana luruh, ia malah menangis seseguhkan dipelukan Raymond. Sedangkan Raymond terus memeluk Ayana, mengusap punggung Ayana agar tenang dalam pelukannya.