
Saat Leticia masih terdiam di tempat, Miko bangkit dari duduknya. Ia mengerti bahwa istrinya masih merasa malu padanya. Kemudian, ia langsung berjalan ke arah Leticia.
Saat Miko berjalan ke arahnya, Leticia hanya bisa menunduk. Ia bahkan tidak berani melihat Miko, dan ketika Miko dekat dengan Leticia, Miko pun langsung membawa Leticia ke dalam pelukannya, hingga Leticia mengangkat kepalanya.
nyaman
Pelukan Miko begitu nyaman, ia merasa tenang dalam pelukan Miko, harus ia akui ia begitu rindu lelaki ini.
“ Kau pasti sangat mencintaiku, hingga Kau mengawasiku!” Goda Miko, sedangkan Leticia hanya terdiam. Jujur saja ia benar-benar malu pada suaminya.
“Sekarang Kau percaya kan, aku tidak pernah lagi memakan makanannya. Aku tidak pernah lagi datang ke restoran itu, Aku hanya diam pergi ke psikiater dan bekerja. Lalu kenapa kau masih bersikap dingin padaku?” tanya Miko, ia melepaskan pelukannya kemudian ia langsung menatap Leticia yang masih menunduk.
“Leticia, aku tidak mempermasalahkan kau mengawasiku. Aku justru beruntung karena aku tidak perlu lelah lelah menjelaskan apa yang aku lakukan selama di Rusia karena kau pun sudah tahu bahwa aku tidak mengingkari janjiku. Selama setahun ini, aku mengobati diriku dan saat kau bersikap dingin rasanya aku hampir mati dan aku selalu merindukanmu. Aku mencintaimu ....”
Miko berucap dengan tulus. Lalu bulir langsung terjatuh dari pelupuk matanya, ia mengingat Bagaimana setahun ini, perjuangannya untuk sembuh. Ia juga mengingat, bagaimana kebaikan mertuanya. Bahkan, Grey yang biasa acuh mendadak perhatian padanya, selalu menanyakan kegiatannya dan selalu menanyakan jadwal berobatnya dan ia merasa bersyukur untuk itu.
Dan sekarang, ketika ia bisa melihat Leticia.
Tentu saja Miko merasa terharu, ia merasa bersyukur.
Saat mendengar pernyataan, Miko yang begitu tulus, Leticia mengangkat kepalanya, ia tertegun saat melihat wajah Miko membasah. “Kau tidak berbohong, kau tidak akan menyakitiku lagi atau kau melakukan ini hanya karena tiba-tiba ....” Leticia menghentikan ucapannya, kala Miko mencium bibirnya sekilas.
Pada akhirnya, tangis Leticia luruh. Ia menyingkirkan dan menekan egonya dan sedetik kemudian ia kembali lagi berhambur memeluk suaminya, membuat Miko tersenyum. Lalu membalas pelukan istrinya.
“Aku tahu kau tetap Leticiaku yang dulu,” jawab Miko.
4 bulan kemudian
“Bagaimana mungkin kau masih menyebutku paman di hadapan teman-temanmu. Apa kau tidak menganggapku sebagai suamimu?” Miko menggerutu, ia berjalan mendahului Leticia. Wajahnya terlihat kesal, sedangkan Leticia yang berada di belakang tubuh Miko menutup mulut, menahan tawa saat mendengar gerutuan suaminya.
Mereka baru saja pulang dari pesta ulang tahun yang diselenggarakan oleh teman Leticia yang juga mengajar di kampus yang sama, dan seperti biasa, Leticia masih memanggil suaminya dengan paman karena memang dia terbiasa memanggil Miko dengan sebutan itu.
Padahal, Miko sudah berkali-kali menyuruh Leticia memanggilnya dengan sebutan yang lain, tapi terkadang, memang Leticia memanggil Miko dengan sebutan Daddy. Tapi terkadang, Leticia pun masih sering memanggil Miko dengan sebutan paman.
Dan nasnya tadi, Leticia malah memanggil Miko dengan sebutan Paman, hingga teman-teman Leticia menyangka bahwa Miko adalah paman dari Leticia, bukan suami Leticia. Apalagi ini pertama kalinya, Leticia membawa Miko ke depan teman-temannya, Tentu saja itu mematik kekesalan di hati Miko.
Bukannya merasa bersalah, Leticia malah merasa lucu, karena sedari tadi keluar dari hotel tempat diselenggarakan acara berkumpul, Miko terlihat kesal dan dan menggerutu, dan itu adalah menjadi kesenangan tersendiri bagi Leticia.
Scroll