
Gabby menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia melihat kedua putrinya lewat kaca depan. Entah kenapa apa saat pergi meninggalkan Nael Gaby merasa bebannya menghilang, Gabby merasa merasakan lega bukan main apalagi ketika putrinya memanggil Nael dengan paman.
Pernah Gabby mencoba untuk menyuruh Laura dan Naura tidak memanggil lagi Daddy pada Nael. Tapi saat itu, Laura dan Naura enggan menuruti ucapan Gabby dan tetap memanggil Daddy pada Nael. Tapi hari ini, dengan kemauan putrinya sendiri, mereka memanggil Nael Paman.
“Laura ... Naura!” panggil Gabby. Ia meminggirkan mobilnya dan mematikan mesin mobil..Ia.ngin bertanya saat tiba di apartemen. Tapi rasanya, ia tidak sanggup lagi menunda untuk bertanya. Ia ingin mendengar alasan dari kedua putrinya, kenapa putrinya memanggil pada Nael.
“Ya, Mommy,” jawab Laura. “Kenapa kalian memanggil Daddy paman?” tanya Gabby.
“Karena setelah di Jepang, kami tidak ingin mengingat lagi paman Nael. Kami sudah saling berjanji, untuk tidak mengharapkan paman Nael lagi. Kami juga sudah tidak ingin terus bersama dengan Daddy Gabriel. Kami hanya akan terus bersamamu saja Mommy.” Kali ini, Naura yang menjawab, dengan wajah yang sendu.
Walaupun sempat lega, karena kedua putrinya memanggil Nael dengan paman. Tapi hati Gabby terasa pedih, ketika Laura dan Naura berkata tidak ingin berharap lagi pada Gabriel.
Ia mengerti bagaimana perasaan putrinya. bukan Gabriel tidak perhatian pada Laura dan Naura. Hanya saja, setiap Gabriel ingin bermain dengan Laura dan Naura, Maira putri bungsu Gabriel tidak memperbolehkan Gabriel bermain dengan Laura dan Naura. Hingga Gabby dan Gabriel tidak bisa berbuat apa-apa.
Dan mungkin, sekarang Laura dan Naura lelah berharap pada siapapun. Hanya ia tempatnya bergantung, bagi-bagi Laura dan Naura hanya Gabbylah dunianya. Tidak ada lagi siapapun.
Gabby menghapus sudut matanya yang berair kemudian ia tersenyum. “Kita pasti bahagia hidup di Jepang. Kalian boleh membeli apapun mainan kesukaan kalian,” jawab Gabby. Setelah itu, ia berbalik kemudian ia mulai memajukan mobilnya. Ia harus bersiap untuk pergi ke landasan pacu nanti malam, karena ia akan menggunakan pesawat pribadi milik keluarganya untuk pergi ke Jepang.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai Gabby sampai di basement apartemen, ternyata Laura dan Naura tertidur. Tiba-tiba, mata Gabby terfokuskan pada ada kantong kecil yang dipegang oleh Laura di mana kantong itu berisi ponsel milik Laura.
Dengan pelan, Gabby berusaha tas Laura, kemudian mengambil ponsel milik putrinya setelah itu ia langsung membuka galeri. Hati Gaby terasa sesak tak berujung saat melihat foto kedua putrinya bersama Nael.
Kedua putrinya tersenyum mengembang berbeda dengan Nael yang tampak datar. Gabby mengelus foto itu. “Nael, sekarang keinginanmu terkabul. Sekarang Laura dan Naura tidak akan melihatmu lagi sebagai ayah mereka.” Gabby menghapus air matanya, kemudian ia membangunkan Laura dan Naura. Setelah itu mereka pun turun dari mobil.
Saat sudah naik ke lantai dimana unit apartemennya berada, Gabby Laura dan Naura menghentikan langkahnya, ketika melihat Greey dan Grisella ada di depan unit apartemennya. Ia lupa ia tidak mengaktifkan ponselnya, hingga mungkin Greey dan Grisella tidak bisa menghubunginya. Hingga meraka harus Menunggu di luar.
Gengs maaf baru up, karena setiap hari minggu aku libur ya, karena waktunya buat main sama anak-anak. ga mo tau harus tinggal setiap bab