
Jordan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, Ia seperti orang linglung yang terus berkeliling kota tanpa tahu arah tujuannya.
Setelah bertemu Leticia tadi siang, fokusnya jadi ambyar, tubuhnya begitu melayang, otaknya kosong bayang-bayang Leticia sudah dari tadi siang terus terngiang-ngiang di pikirannya, hingga Ia memutuskan untuk mengelilingi kota dan menghirup angin Malam.
Namun saat ia fokus mengemudi, ia menghentikan mobilnya, saat melihat seseorang yang ia kenal. Walaupun ia melihat orang itu dari belakang, tapi dia mengenali orang itu, yaitu adalah Ayana.
Saat melihat Ayana sedang bercengkrama sambil berjalan bersama Moa, nafas Jordan memburu. dadanya bergemuruh, kenapa ia tidak terima Ayana terlihat bahagia bersama putrinya, sedangkan dia menderita karena kehilangan Leticia.
Tiba-tiba, Jordan menyeringai. Ian melihat ke sana kemari, jalanan tampak sepi, tiba-tiba ia kembali menjalankan mobilnya dan karena amarahnya, serta karena rasa kesalnya, Jordan menyerempet putrinya sendiri. Lalu setelah itu, ia menyeringai saat mendengar teriakan Ayana.
Jordan menghentikan laju mobilnya, kemudian melihat ke belakang. Namun tak lama, ia menggeram saat Ayana dan anaknya berhasil selamat..Padahal jika melihat Ayana dan anaknya, kecelakaan itu hiburan tersendiri baginya.
•••
“Moa, kau tidak apa-apa?” tanya Ayana, ia melihat wajah sang putri, lalu menutupi tubuh putrinya. Ia takut, Jordan keluar dari mobil dan ia tidak mau Moa, melihat Jordan, walau bagaimanapun Ayana tidak ingin, Moa mengetahui bahwa Jordan adalah ayah kandungnya.
“Aku tidak apa-apa, Mommy,” ucap Moa, Ayana melihat sedikit ke arah belakang, ternyata mobil Jordan masih berhenti dan Ayana yakin, Jordan memperhatikannya. Secepat kilat, Ayana langsung menggendong dan kemudian berjalan menjauh, ia mencari keramaian karena ia takut Jordan akan kembali melukai ia dan putrinya.
“Mommy kenapa mobil itu menyerempet kita?” tanya moa saat mereka sudah berada di tengah keramaian dan menuju pulang ke rumah.
“Mana mungkin tidak sengaja, jelas-jelas jalanan di sekitarnya lenggang, kenapa dia harus menyerempet kita!” gadis kecil itu begitu kritis, setidaknya dia mengetahui bahwa orang tadi yang tak lain adalah ayahnya menyerempetnya dengan sengaja.
Ayana memejamkan matanya, kemudian ia menurunkan Moa dari gendongannya. “Tidak usah dipikirkan, yang penting kita selamat,” ucap Ayana, gadis kecil itu tampak berpikir sesuatu.
“Mommy, jika aku sudah besar, aku akan menjadi polisi dan aku akan menangkap orang-orang seperti orang yang tadi menyerempet kita!” celoteh gadis kecil itu, membuat Ayana tertawa, putrinya memang terkadang selalu ajaib, dia selalu memikirkan hal-hal di luar nalar.
”Kenapa kalian lama sekali. Apa kau tidak tahu ayah lapar!” teriak Sony, saat Ayana masuk ke dalam rumah, membuat Ayana memejamkan matanya seraya menghela nafas. Sang ayah benar-benar berubah, jadi lebih pemarah dan lebih emosional.
“Moa, kau pergi mengambil piring ke dapur, biar Mommy menyiapkan makanan!” titah Ayana. Gadis kecil itu pun menurut.
“Ayah, bisakah ayah tidak marah-marah di depan Moa,” ucap Ayana yang meminta sang ayah untuk tidak berteriak di hadapan Moa.
“Cepat siapkan makanannya, ayah lapar!” teriak Sony, Ayana tidak lagi membalas ucapan sang ayah, ia berbalik kemudian menghapus air matanya. Kejadian barusan, saat Jordan nyerempet putrinya saja masih membekas, dan sekarang ia harus mendapat omelan lagi dari ayahnya.
Scroll gengs