Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Tatapan yang Pedih


Nael melonggarkan dasinya, kemudian ia langsung berjalan ke kursi kerjanya, setelah itu ia membuka laptop lalu mengutak-atik laptopnya.


Rahang Nael mengeras urat-urat tercetak jelas di lehernya, pertanda Nael sedang dikuasai emosi. Bagaimana tidak, ternyata ada penghianat yang menyusup di perusahaannya dan menjual ide-idenya ke perusahaan lawan.


Hingga Nael gagal dalam tender yang cukup besar. Padahal dia sudah memusatkan Pikirannya pada proyek tersebut. Tapi karena seorang penghianat itu, Nael akhirnya harus menderita kerugian yang cukup besar.


“Tuan, ada Tuan Grey datang," kata sekretaris Nael, membuat Nael memejamkan matanya. Ia sudah menduga bahwa sang ayah akan datang . Ia yakin, sang ayah sudah mendengar kabar perusahaannya yang menderita kerugian yang cukup besar.


Nael mengangguk pada sekretarisnya, kemudian pintu kembali terbuka sosok Greey masuk. ”Dad!” panggil pada Nael pada sang ayah.


“Bagaimana mungkin, kau begitu ceroboh memberikan informasi yang sangat penting pada orang lain. Hingga kita seperti ini!” kata Grey sambil mendudukkan diri di sofa


Nael menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia harus terlihat tenang di hadapan sang ayah. Ia tahu, sekarang sang ayah cukup kecewa padanya.


“Maafkan aku, aku berjanji akan memperbaiki kesalahanku, Dad,” ucap Nael.


Grey menegakkan tubuhnya, kemudian menatap Nael. “Sekarang cari penghianat itu, cari dia sampai dapat! buat dia mengganti kerugian yang perusahaan tanggung, karena dia pasti sudah menyimpan hasil yang cukup besar sebagai bayarannya. Biar Daddy yang mengurus sisanya.” Setelah mengatakan itu, Greey bangkit dari duduknya, kemudian meninggalkan ruangan sang putra.


Nael mengadahkan kepalanya ke atas, ia melihat ke arah langit-langit, kemudian memegang kepalanya yang berdenyut nyeri. Yang jelas, saat ini emosional Nael sedang memuncak, ia berusaha meredamnya dengan berdiam diri. Padahal, Ia ingin sekali mengamuk dan membanting semua yang ada dihadapannya.


••••


Gabby mengerutkan keningnya saat melihat nama Nael yang terpampang di layar ponselnya. Ia melihat kearah Kristine sejenak, kemudian ia mengangkat panggilannya.


“Ada apa?” tanya Gabby. Ia mendengarkan ucapan Nael dengan seksama. “Ya, aku rasa aku juga membutuhkan dirimu. Bagaimana jika kau datang kerumah sakit. Aku akan menunggumu di sana,” kata Gabby. Setelah itu, Gabby matikan panggilannya kemudian ia menaruh ponselnya, lalu kembali melihat ke arah Kristin.


Gabby menghirup oksigen sebanyak-banyaknya , tak di pungkiri. Setiap menatap iris mata milik Kristine. Rasa sakit itu menubruknya. Bayangan-bayangan kelakuan Arsen dan Kristine menubruk otaknya. Hingga rasanya ia kesulitan untuk bernafas.


Mungkin jika Gaby tidak bisa mengatur emosinya, ia sudah menghabisi Arsen dan Kristine dengan tangannya sendiri. Bahkan saat ini, air mata hampir jatuh dari pelupuk mata Gabby. tapi sebisa mungkin, Gabby menahannya, kemudian ia berusaha menegarkan dirinya.


“Kau dan anakmu bukan urusanku! itu adalah urusan Arsen. Tapi Aku sarankan, agar kau tidak memberitahunya! karena sudah pasti, dia sama sekali tidak akan peduli padamu!” kata Gabby lagi, membuat Kristin tertunduk.


“Oh, ya. Jika kau tidak sanggup membesarkan anak itu, berikan anak itu padaku aku akan membesarkannya sepenuh hati.” Setelah mengatakan itu, Gabby pun berlalu dari hadapan Kristin dan keluar dari kafe.


Scroll gengs