
Mendengar ucapan Raymond, Ayana menunduk ia bahkan tidak berani menatap Raymond. Namun tak lama, ia terpikirkan sesuatu. Lalu, memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Raymond.
“Tuan, bolehkah aku berbicara?” tanya Ayana. Raymond menggangguk.
“Hmm, katakanlah!”
“Tolong jangan memberikan Moa harapan apapun, tolong jangan terlalu mendekati Moa. Aku takut, Moa berharap padamu,” ucap Ayana. Raymond menghela nafas, kemudian ia membuka pintu.
“Ayo turun!” ucap Raymond, ia lebih memilih tidak menggubris ucapan Ayana, karena ia rasa percuma menjelaskan apapun pada Ayana. Ternyata kejadian malam itu, tidak menjadi bukti untuk sekretarisnya.
Saat akan masuk ke dalam ruangan, Ayana mengurutkan keningnya saat melihat ruangannya tanpa kosong. “Tuan, di mana mejaku!”
“Di dalam ruanganku,” jawab Raymond dengan singkat. Ia pun langsung mengikuti langkah Raymond untuk masuk.
Mata Ayana membulat saat melihat yang ada di ruangan Raymond, ternyata mejanya dan meja Raymond bersebelahan.
“Tuan, kenapa kau memindahkan mejaku ke ruanganmu?” tanya Ayana.
“Agar aku gampang meminta tolong!” dustanya. Padahal jelas-jelas, dia ingin dekat dengan Ayana.
“Kau keberatan?" tanya Raymond sambil melepaskan jasnya. Namun, Ayana menggeleng.
“Tidak Tuan, aku tidak keberatan!” Ayana pun dengan segera mendudukan dirinya di kursi, sedangkan Raymond menarik sudut bibinya dan tersenyum tipis.
Satu bulan kemudian.
Raymond memarkirkan mobilnya di depan sekolah, ia pun turun dari mobil kemudian ia langsung masuk ke dalam. Saat masuk ke dalam, ia menarik sudut bibirnya saat melihat Moa yang sudah menunggunya.
“Moa!” panggil Raymond
Moa tersenyum saat melihat Raymond, Ia pun segera berlari ke arah Raymond.
“Maafkan Daddy yang telat menjemputmu!”
“Tidak apa-apa, ayo kita pulang!” ucapnya lagi. Moa menarik tangan Raymond, sedangkan Raymond hanya terkekeh lucu melihat tingkah Raymond.
Ini sudah dua bulan berlalu, dan selama dua bulan ini pula Raymond tidak berhenti meyakinkan Moa. Hingga pada akhirnya, gadis kecil itu luluh dan mulai berani bersikap manja pada Raymond, dan menganggap Raymond benar-benar sebagai ayahnya.
2 bulan ini sebenarnya Jordan selalu berusaha untuk mengganggu Ayana. Namun karena Ayana selalu bersamanya dan ada beberapa bodyguard Raymond yang menjaga dari jauh, hingga Jordan tidak lagi mendekat dan tidak menampilkan dirinya di hadapan Ayana.
“Moa, apa kau ini sesuatu sebelum kita pulang?” tanya Raymond yang menoleh ke arah Moa.
“Daddy, bolehkah aku minta es krim satu saja?” kata Moa.
“No, kau sudah terlalu banyak makan es krim minggu ini!”
“Ya sudah kalau begitu!” wajah gadis kecil itu kian murung.
“Daddy tidak akan terpengaruh dengan wajah sedihmu,” kata Raymond yang mengerti bahwa Moa berpura-pura merajuk, membuat Moa menoleh.
“Ayolah Daddy, satu saja!” ucapnya lagi. Raymond tampak berpikir.
“Oke hanya satu dan jangan mengatakan apapun pada Mommy!” kata Raymond, Moa mengangguk dengan antusias. Raymond pun memutarbalikkan mobilnya, untuk pergi ke kedai es krim.
•••
Raymond melihat ke samping, di mana Moa tertidur. Ia menggeleng saat melihat baju Moa yang kotor karena noda es krim. Setelah diberikan satu porsi oleh Raymond, ternyata gadis kecil itu merengek lagi. Hingga Raymond terpaksa membelikan es krim dengan jumlah yang banyak dan sekarang sepertinya anak kecil itu kelelahan.
Raymond turun dari mobil,.kemudian ia memutari mobil lalu membuka pintu kanan dan menggendong Moa lalu berjalan ke arah lift, untuk naik ke apartemennya
Saat masuk ke dalam apartemen, apartemen begitu sepi. Raymond pun langsung berjalan ke dalam kamar Moa, untuk membaringkan Moa.
Setelah membaringkan Moa, ia masuk ke dalam kamar Ayana. Saat masuk ke dalam kamar Ayana, ia mengerutkan keningnya karena Ayana tidak ada di kamarnya. Saat Raymond akan memanggil Ayana, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.
“Aaaaa!”. teriak Ayana saat melihat Raymond ada di kamarnya, apalagi Ayah hanya memakai handuk yang sangat pendek. Seketika ....
•••
“Kau berbohong leticia, kau pasti berbohong,” ucap Jordan, ia menatap leticia dengan tatapan tak percaya. Bagaimana mungkin leticia mengatakan bahwa Moa anaknya.
“Itu faktanya Jordan, Ayana sudah melarangku untuk mengatakannya padamu. Tapi yang kau lakukan pada Moa tadi benar-benar keterlaluan Bagaimana mungkin kau ....” leticia tidak meneruskan ucapannya saat melihat Jordan yang tampak terdiam. Bahkan, wajah Jordan sudah memucat teringat saat tadi Ia melakukan ....
Gengs 500 komen dulu ye buat booster