
Jordan terus berlari sambil membopong tubuh Joanna, ia memeluk tubuh Joana begitu erat. Wajah Jordan sudah panik, tapi di tengah kepanikannya, ia masih berpikir rasional untuk keluar dari aula dari pintu lain, tidak menggunakan pintu utama, karena ia yakin ada yang tak beres dengan Joana.
Saat sudah berada di luar, Jordan langsung berlari ke arah mobil Nael, di mana supir Nael sedang menunggu Nael. Ia tidak bisa mengendarai mobilnya sendiri, apalagi Ia sedang membawa Joanna hingga ia meminta supir Nael mengantarkannya ke rumah sakit
“Cepat, antarkan aku ke rumah sakit!” titah Jordan pada supirna.
“Maksud anda tuan.” Supir itu tampak kebingungan, karena Jordan datang secara tiba-tiba.
“Cepat!” bentak Jordan, mau tak mau sopir Nael pun mengangguk, kemudian supir itu masuk ke dalam mobil disusul Jordan yang juga ikut masuk ke kursi belakang.
Saat berada di dalam mobil, Jordan membaringkan tubuh Joanna di jok dan menyimpan kepala Joanna di pahanya. Jordan menatap wajah Joanna lekat-lekat, ia memejamkan mata menahan ngilu saat melihat pelipis Joana yang membiru.
Dengan tangan yang bergetar, Jordan kembali menggerakkan tangannya. Lalu mengangkat bagian kain yang menutupi tangan Joana.
Wajah Jordan memucat saat melihat ada noda merah seperti bekas noda cambukan di tangan gadis yang ia cintai. dan detik itu juga, air matan
langsung mengenang membasahi wajah tampannya, ia memeluk kepala Joana begitu erat lalu membungkuk menciumi seluruh wajah wanita yang ia cintai, wanita yang ia rindukan.
Demi apapun, penyesalan kembali menerpanya, seandainya saat itu tidak menyuruh Joana untuk pergi, pasti Joana tidak akan seperti ini
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai supir Nael sampai di rumah sakit. Jordan pun langsung turun, lalu berlari untuk masuk ke dalam rumah sakit sambil membopong tubuh Joana.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Jordan pada dokter yang menangani Joanna. “
Dokter tampak terdiam.
“Pasien mengalami dehidrasi ringan, di tubuhnya juga banyak sekali luka, dan Kami harus memastikan luka apa itu,” balas dokter. “Kami memeriksa lagi setelah pasien sadarkan diri,” jawab dokter. Setelah mengatakan itu, dokter pun keluar dari ruang rawat Joanna meninggalkan Jordan bersama Joanna yang terbaring dibaring di brangkar.
Jordan menarik kursi, kemudian ia mendudukkan diri di kursi sebelah berangkar, ia menggenggam tangan Joana. Lalu mengecupnya, dengan tangis yang mengenang. Demi apapun ia benar-benar takut sekarang.
Penyesalan Jordan bukan hanya soal Ia yang mengusir Joan saja, tapi soal Ia yang barusan menghina Joana dan ternyata, apa yang dipikirkan oleh Jordan semuanya salah, Joana tidak baik-baik saja. Jordan menggenggam tangan Joana semakin erat, ia begitu mencintai gadis ini. Dan kali ini, Jordan tidak akan lagi melepaskan Joana meski harus menghadapi Olivia
2 jam kemudian
Joana mengerjap, Ia membuka matanya, lalu meringis kalau seluruh tubuhnya begitu nyeri. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat, ia takut ibunya akan datang lagi ke kamar dan melakukan hal buruk padanya, nyatanya, Joana berpikir bahwa dia sedang berada di kamarnya.
Tapi tak lama, Joanna langsung melihat ke sekelilingnya, dan ia menghela nafas lega saat berada di rumah sakit. Air mata langsung membasahi wajah cantiknya saat menyadari bahwa ia berada di rumah sakit, karena selama setahun ini ia ingin sekali pergi ke rumah sakit untuk mengobati dirinya. Tapi jangankan pergi, sang ibu saja tidak membiarkannya keluar kamar.
Tiba-tiba, Joana merasa ada yang aneh dengan tangannya. Hingga ia menoleh, ternyata tangannya sedang digenggam oleh seorang lelaki yang membungkuk, siapa lagi kalau bukan Jordan. Rupanya, Jordan tertidur sambil menggenggam tangan Joanna
Joanna membekap mulut dengan satu tangannya, karena dia tidak ingin Jordan mendengar tangisannya. Ia rindu dengan lelaki ini, setiap malam, setiap ia menerima siksaan sang ibu, ia selalu berharap Jordan datang dan menyelamatkannya.
satu tahun ini, ia mengalami semuanya dengan pelik. Setelah ia disiksa dan setelah mengurungkan niatnya untuk meminum racun serangga, tiba-tiba Olivia datang lagi ke kamar mandi, kemudian Olivia menyeret Joanna untuk masuk ke dalam kamar.
Dan saat itu, Joana diinterogasi sambil disiksa hingga Joana tak tahan lagi dan mengatakan semuanya, bahwa dia tinggal di rumah Jordan dan itu semakin menambah kemurkaan Olivia, karena selama ini Citra Olivia begitu baik dihadapan semua orang.
Setelah mengetahui bahwa Joana bersembunyi di apartemen Jordan, Olivia langsung membawa Joanna untuk ke rumahnya yang lain. Entah kenapa, Olivia merasakan bahwa Jordan akan datang.
Dan benar saja, 2 jam Setelah ia memindahkan Joanna, ia mendengar dari pelayan bahwa ada lelaki yang datang ke rumahnya mencari Joana. Dan semenjak itulah penyiksaan demi penyiksaan dimulai.
Olivia masih dendam pada putrinya, karena pergi selama 4 bulan apalagi bersembunyi di apartemen Jordan, itu sebabnya Olivia megurung Joana di sebuah kamar agar Joana tidak kabur Lagi.
Dan terkadang, jika Olivia mempunyai masalah, di kantor atau di luar Joanalah, yang selalu menjadi pelampiasannya, Dan satu hal yang membuat Olivia kembali murka, yaitu Kaka Joana yang di luar negri ternyata kabur ke negri lain bersama seorang lelaki.
Rupanya, Kaka Joana pun merasa tak kuat dengan aturan sang ibu dan memutuskan bahwa untuk pergi bersama kekasihnya, dan lagi-lagi , Olivia melampiaskan kemarahannya pada Joana,
Dan setelah setahun berlalu, Olivia mengalami krisis di perusahaannya, perusahaannya hampir di ambang kebangkrutan dan tiba-tiba ada seorang rekan bisnisnya menawarkan akan membantu perusahaan Olivia, tapi memberi Syarat agar Olivia memberikan Joana padanya, untuk di jodohkan dengan Axel, putranya. dan tentu saja Olivia menyetujui syarat itu.
Ayah Axel sengaja menjodohkan Joana dan putranya, karena menganggap, Joana adalah wanita yang pas untuk putranya. Dulu sebelum di siksa dan di kurang oleh Olivia, ayah Axel pernah bertemu Joana, dan ayah Axel pikir, Joana adalah wanita yang pas untuk menjadi menantunya.
Saat Ollivia memberikan Joana pada ayah Axel, Joanna berpikir, ia bisa memulai kehidupan yang baru dan berharap hidupnya tidak lagi dalam bayang-bayang sang ibu. Tapi ternyata harapan, tinggal harapan, setelah bertemu Axel, ternyata Axel sama parah dengan Olivia. Bahkan Joanna hampir saja diperkossa oleh Axel. Namun beruntung, saat itu Joana berhasil untuk melawan Axel.
Dan setelah satu minggu bersama, Joanna diajak Axel untuk menghadiri pesta rekan bisnis ayahnya, dan beruntung di pesta itu ia bertemu dengan Jordan, hingga sekarang ia bisa bertemu lagi dengan orang yang dia cintai dan dia rindukan.
Jordan mengerjap, ketika mendengar suara bising dari samping, ia yang tadi tertidur membuka matanya dan langsung menegakkan kepalanya dan langsung melihat ke arah Joana yang juga sedang melihat ke arahnya.
Tubuh Jordan diam terpaku, lidahnya terasa kelu untuk digerakkan saat melihat Joanna menatapnya dengan berlinang air mata, terlihat jelas bahwa keduanya saling menatap dengan tetapan penuh rindu.
“Ka-kau sudah bangun?” pada akhirnya, hanya itu yang mampu Jordan ucapkan, ia malu menatap Joana hingga Ia hanya bisa bertanya hal yang sederhana pada Joanna .
“Aku akan memanggilkan dokter dulu,” kata Jordan, sejujurnya Jordan hanya sedang menahan agar tangisnya tidak pecah dihadapan Joanna.
Saat Jordan bangkit dari duduknya untuk memanggil dokter, ia menghentikan gerakannya saat Joanna menarik tangannya.
“Pa-paman, jangan tinggalkan Aku!” Saat Joana mengatakan itu, detik itu pula Jordan tidak bisa menahan tangisnya, hingga pada akhirnya Jordan berbaik, kemudian Jordan membungkuk dan langsung memeluk tubuh ringkih Joanna. Demi apapun, Jordan tidak akan pernah lagi melepas Joana pada Olivia ataupun pada siapa pun.
Saat tubuhnya dipeluk oleh Jordan, tangisan yang tadi hanya berupa isakan, menjadi tangisan yang mengencang.
••••
“Kau dak membohongiku kan?” tanya Axel pada Olivia. Ia langsung datang ke rumah Olivia, saat Joanna tidak kunjung kembali dari kamar mandi, dan saat Axel menyusul olivia, Joanna tidak ada di sana, hingga Axel langsung menanyakan secara langsung pada Olivia.
Olivia tersentak kaget saat mendengar ucapan Axel. “Axel kau bicara apa, jelas-jelas Joana tidak ada di sini, bukankah dia tadi pergi bersama ....” Tiba-tiba Olivia menyadari sesuatu, bahwa mungkin Joanna kabur
“Kau pulanglah, aku akan mencari Joana dan aku akan mengantarkannya kembali ke apartemenmu!” kata Olivia, setelah itu Olivia kembali masuk ke dalam kemudian ia langsung mengambil kunci mobil untuk cari Joanna, ia yakin Joana tidak akan pergi jauhm
keesokan harinya
Jordan masuk ke dalam ruangan Joanna, di tangannya sudah membawa beberapa paper bag buah dan makanan untuk Joana. Tadi pagi, ia pulang sejenak ke apartemennya untuk mengganti pakaian, Ia juga membeli beberapa hal yang dibutuhkan oleh Joanna.
Joana yang sedang melamun kemudian tersenyum pada Jordan, Jujur saja semenjak semalam, mereka belum berbicara apa-apa lagi. Jordan tidak bertanya tentang apa yang terjadi pada Joana, dan Joana pun tidak mengatakan apapun pada Jordan
Jordan menarik kursi, kemudian ia mendudukkan dirinya di sebelah brangkar.
“Kau ingin makan?” tanya Jordan. Joana menggelang,
“Bolehkah aku meminta susu saja?” tanya Joana, selama setahun ini, bisa dibilang Joanna jarang sekali mendapatkan makanan yang layak dari Olivia. Belum lagi, terkadang Joanna hanya diberi makan sehari sekali dan yang paling parah. Terkadang, Joana hanya diberikan makan dengan porsi yang sangat sedikit, dan sekarang berat badan Joanna pun berkurang sangat banyak. Hingga Joana benar-benar terlihat sangat kurus.
Jordan mengangguk. “Aku akan meminta suster untuk membuatkannya!” balas Jordan, setelah itu Jordan menekan tombol, hingga beberapa perawat datang dan Jordan langsung meminta untuk membuatkan Joanna susu.
Setelah pada perawat pergi, Jordan kembali mendudukkan dirinya di sebelah Joanna.
“Aku membawaka salad buah dan kue pai kesukaanmu, ku mau makan sekarang?” tanya Jordan. Joanna langsung mengangguk, palagi Jordan membawa makanan kesukannya.
Jordan membantu Joanna untuk duduk, saat Jordan menyentuh punggungnya, Joana meringis, membuat hati Jordan benar-benar tersayat oleh belati.
“Sakit!" tanya Jordan, Joana menggangguk.
“Hmm, sakit!” balasnya dengan nada yang penuh kegetiran. Setelah menahan sakit, akhirnya Joanna pun berhasil duduk dengan kaki yang memanjang kedepan.
mata Joana berbinar saat Jordan membuka kotak makan tersebut, tentu saja ekspresi Joana tidak luput dari penglihatan Jordan, hingga Jordan hanya bisa diam terpaku.
“Bolehkah aku makan sendiri saja?” tanya Joanna. Jordan pun mengganggu, kemudian ia memberikan kotak yang berisi salad buah pada Joanna dan Joana langsung melahap dengan semangat, terlihat jelas Joana seperti orang yang kelaparan.
Jordan menarik tisyu, kemudian ia langsung mengelap sudut bibir Joana yang terkena mayonaise, membuat Joana tersadar, ia menggigit bibirnya karena baru menyadari bahwa ia makan begitu rakus, karena memang dia benar-benar lapar dan sudah lama menginginkan makanan yang seperti ini.
“Ma-aaf, paman. Paman pasti jijikkan. Bisakah Paman berbalik, Aku ingin meneruskan makanku” pinta Joanna, Jordan menghapus sudut matanya yang berair, melihat Joana seperti ini, benar-benar membuat hatinya tersayat.
Jordan menurut kemudian ia berbalik membelakangi Joanna, dan Joanna kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Demi apapun, Joana tidak ingin hal lain, Ia hanya ingin memakan makanan itu sampai dia kenyang,
hanya dengan salad buah saja membuat Joana benar-benar bahagia, karena selama setahun ini ia tidak pernah memakan makanan yang seenak ini.
Tubuhnya disiksa, ia diperlakukan tidak layak dan ketika mendapatkan hal yang sederhana, ia tidak akan menyia-nyiakan hal itu, hingga walaupun malu, ia meminta Jordan untuk berbalik.
Saat Jordan berbalik, dan ketika Joanna menikmati makanannya, tiba-tiba pintu dibuka dengan keras, muncul sosok Olivia masuk ke dalam ruangan yang ditempati Joana, hingga Joanna langsung menumpahkan salad buah ke lantai, karena terkejut dengan kehadiran sang ibu.
Begitupun Jordan, yang juga terkejut dengan kehadiran Olivia Entah kenapa Olivia bisa tahu bahwa Joana dirawat di rumah sakit ini.
Jordan bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung berjalan ke arah Olivia. Lalu setelah itu ia menarik tangan Olivia untuk keluar.
asedangkan Joanna langsung melepaskan selang infus,.kemudian ia langsung turun dari berangkar dan bersembunyi di kamar mandi. walaupun kakinya sakit, tapi ia memaksakan untuk berlari,.karena takut sang ibu akan membawanya lagi
Sedangkan Jordan ....
Wah ini satu bab bener-bener penuh air mata.
Ini satu bab udah panjng banget ya. Jadi jangan ada yang bilang dikit ya