Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Mencoba memberontak


“Apa maksudmu Gabby. Bagaimana mungkin ...” Arsen menatap Gabby dengan tatapan tak percaya, ketika Gabby menyarankan Nael untuk memakai Arsen sebagai pengacaranya.


Bagaimana mungkin ia akan menjadi pengacara Nael, sedangkan saat itu Nael memberhentikan Arsen secara sepihak dan tentu saja, Arsen tidak akan menerima apa yang Gabby perintahkan, karena ia tak ingin harga dirinya diinjak oleh Nael.


Gabby membalas tatapan Arsen dengan santai, “Jika kau masih ingin bekerja di Firma hukum ini, maka turuti perintahku. Aku memberimu perintah, bukan memberimu pertanyaan," jawab Gabby. Arsen terdiam. jika ia membalas lagi ucapan Gabby, Gabby akan semakin membuatnya malu di hadapan Nael.


Nael melihat jam di pergelangan tangannya, ia sudah tidak mempunyai waktu banyak lagi. Ia tak perlu pertimbangan lagi untuk menjadikan Arsen sebagai pengacaranya, karena ia tahu kemampuan Arsen dalam menangani kasus cukup baik.


Hanya saja, saat itu ia memiliki alasan kenapa ia menghentikan Arsen. Tapi sekarang, ia benar-benar butuh pengacara yang sudah mahir menangani kasus dan Arsen adalah salah satu kandidat terbaik.


“Oke, jika kau mau. Aku ingin kau bergabung di perusahaanku dan menjadi pengacara pribadiku,” ucap Nael. Seketika Arsen mengalihkan tatapannya ke arah Nael


“Tidak mau. Aku tidak mau menjadi pengacaramu," jawab Arsen


“Aku tidak punya waktu lagi, jika kau mau, aku memberikan waktu 2 hari untukmu," nale bangkit dari duduknya, kemudian membuka dompet. Lalu ia menaruh Kartu namanya di meja. “Tolong hubungi aku jika dia setuju!” setelah mengatakan itu, Nael mengalihkan tatapannya pada Gabby, dan Gabby pun hanya mengangguk.


Setelah itu, Nael pergi meninggalkan ruangan tersebut hingga kini, hanya menyisakan Arsen dan Gabby. Arsen menjambak rambutnya ke belakang, ia benar-benar frustasi dengan keadaan ini.


Dan kini, ia hanya perlu membutar balikan keadaan. Ia hanya perlu membuat Gabby merasa bersalah padanya.


“Gabby, kenapa kau menghukumku seperti ini? apa kesalahanku tidak bisa dimaafkan. Kita bisa berbicara secara baik-baik,” ucap Arsen lagi. Gabby yang yang akan memegang tab, menghentikan gerakannya. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya ke belakang. Lalu menyilangkan kakinya dan menatap Arsen dengan tatapan yang dingin. Bahkan ia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang akan dijelaskan oleh Arsen.


“Kau masih tidak merasa bersalah?” tanya Gabby. Dada Gabby bergemuruh, ketika melihat raut wajah Arsen yang sama sekali tak terlihat merasa bersalah dan ini rasanya lebih menyakitkan dari apapun. Rasanya begitu pedih, ketika orang yang menyakiti kita tidak merasa bersalah sedikitpun.


“Jka dipikir, ini bukan kesalahanku saja. Ini kesalahanmu juga," kata arsen tiba-tiba. Ia sedang berusaha mengecoh Gabby. Sebenarnya, ia tak berani mengucapkan hal demikian, karena ia takut Gabby semakin murka. Tapi, dia tidak punya pilihan lain. Ia harus membuat Gabby merasa bersalah dan memaklumi kelakuannya.


Gabby mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian menarik sudut bibirnya. Ia bisa saja tersenyum. Tapi, hatinya teriris pedih. Darah seakan berhenti mengalir di tubuh Gabby setiap menatap iris mata milik Arsen.


Dulu, ia selalu menatap mata Arsen dengan penuh cinta. Tapi, sekarang hatinya selalu nyeri ketika menatap wajah suaminya.


Scroll Gengs