
Gengs aku up dua bah ya.
“Nona, anda tidak apa-apa?” tanya Liona yang menyusul Laura untuk masuk ke dalam kamar mandi. Laura mendudukkan dirinya di atas toilet tersebut, ia menunduk kemudian memegang kepalanya terasa denyut nyeri.
“Liona pergilah. Aku ingin beristirahat,” kata Laura. Liona mengangguk, setelah itu berbalik meninggalkan Laura seorang diri.
Laura bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan keluar dari kamar mandi. Lalu setelah itu, ia menundukkan dirinya di sofa. Setelah mendudukan dirinya di sofa, Laura tampak melamun, ia melamun dengan tatapan kosong.
Sudah tiga hari ia begini, setiap ia mengingat atau mendengar ucapan kata makan di luar, tubuhnya selalu bereaksi seperti ini, ia selalu mual dan tidak karuan. Ia yakin, ia sedang tidak mengandung, karena ia baru saja mendapatkan periodenya .
Tiba-tiba tubuh Laura begitu lemas, ia sampai membaringkan tubuhnya di sofa kali, kali ini ia seperti orang yang tidak berdaya, dan tidak bisa melakukan apapun selain Hanya berdiam diri.
2 jam berlalu, Laura mengerjap, ia terbangun dari tidurnya. Rupanya, setelah tadi melamun. Tanpa sadar, Laura tertidur. Ia melihat jam, ternyata waktu menunjukkan pukul 02.00 siang
Ponsel di meja Laura terus berdering, hingga Laura pun bangkit. Ia menghela nafas lega karena tubuhnya sudah lebih rileks, terpampang nama Seina di ponsel Laura, hingga Laura pun langsung mengangkat panggilannya.
“Ya, Seina," jawab Laura.
“Hmm, datang saja ke kantorku. Aku ada di kantor saat ini!” titah Laura. Laura kembali mematikan panggilannya, kemudian ia melihat lagi ponselnya, seperti biasa, tidak ada pesan dari suaminya ataupun telepon dari suaminya.
Satu jam kemudian.
Terdengar suara derap langkah, dan tak lama pintu terbuka. Seina masuk sambil membawakan paperbag berisi makanan..
“ Kenapa kamu membawakan ke makanan kemari?” tanya Laura saat Seina menghampirinya di sofa.
“Ayo makan. Kau pasti belum makan apapun Sena.” Seina membuka paperbagnya, kemudian mengeluarkan kotak makan. Lalu menyerahkannya ke hadapan Laura.
“Makanlah, jangan menyiksa dirimu sendiri!” kata Seina karena ia mengerti betul perasaan Laura. Ya, Beberapa hari lalu Laura mengatakan semua pada Seina, tentang semuanya, karena ia benar-benar tidak tahu harus bercerita pada siapa.
“Seina, apa Rega sudah menanyakan uang yang aku pinjam? apa dia menuntut uang itu untuk segera dikembalikan?” tanya Laura, selain bercerita pada Sheina. Laura pun meminjam uang pada Rega, yang tak lain adalah suami Seina.
Rupanya, tanpa pengetahuan Andre, Laura menyuntikkan dana ke perusahaan Andre dengan nominal yang sangat besar, semua uang tabungan Laura pun terkuras dan itu masih kurang hinga dia meminjam pada suami Seina.. Dan sekarang, ia sedang mati-matian untuk mengumpulkan uang lagi agar bisa mengganti uang yang ia pinjam dari Seina dan suaminya.
“Sudahlah Laura. Kau tidak perlu memikirkan itu. Kau tidak perlu menggantinya!” balas Seina.
“Tidak bisa, itu kan uangmu,” jawab Laura, karena memang, jumlah yang dipinjam oleh Laura pada Rega sangat banyak dan ia harus segera mengembalikannya. Laura sengaja membantu Andre diam-diam. ia menyamarkan namanya hingga akhirnya tidak tahu bahwa Laura yang membantu perusahaannya, setidaknya hanya ini yang bisa Laura lakukan untuk membantu suaminya.
“Laura ingat penyakitmu. Jangan terlalu keras bekerja. Asam lambungmu bisa kambuh jika makanmu tidak teratur!” kata Seina, karena memang Laura memiliki penyakit asam lambung.
Yuhuuuuuuu
Ijin promosiii ya, ini sudah tamat di sihijau kalian bisa wa jika kalian bingung. Judul (Menikah dengan Duda) 088222277840. Bab Laura Andre tinggal Scroll
1
Suara Sah menggema di seluruh ruangan, sepasang manusia, baru saja resmi terikat ikatan suci pernikahan. Tak ada senyum mau pun raut bahagia dari kedua insan yang baru saja terikat hubungan suami istri. Bagi kedua pasangan itu, pernikahan yang baru saja terjadi, begitu hambar dan penuh luka.
Albi, sang mempelai lelaki, melapalkan ijab kabul dengan tak semangat. Pandangan matanya kosong kedepan, bagai rumah tak berpenghuni. Lelaki yang kini menginjak 39 tahun itu, kembali menikah setelah bertahun-tahun menduda.
.Ia begitu mencintai mendiang istrinya yang sudah berpulang saat melahirkan putrinya 7 tahun silam. Sebenarnya, ia tak ingin menikah lagi, tapi ia juga tau bahwa sang putri butuh figur seorang ibu. Itu sebabnya, ia menerima perjodohan yang diatur oleh ibunya, hingga kini, ia kembali menikah dengan seorang gadis yang lebih muda 19 tahun darinya.
Pramaina Lastri, wanita yang kini menginjak usia 20 tahun tak menyangka bahwa ia harus menikah secepat ini, dengan seorang duda beranak satu.
Tak masalah dia menikah dengan duda. Hanya saja, semua terlalu mendadak. Ia sudah menjadi yatim piatu semenjak usia 15 tahun. Selama ini, keluarganya mendapat bantuan dari Mahira dan Gani yang tak lain adalah ibu dan ayah Albi, dan kini, mereka menjadi mertuanya.
Ia yang sedang berada di pondok pesantren, ingin menolak ketika Gani dan Mahira memintanya menikah dengan Albi, putra mereka. Jujur saja, selain usianya sangat muda. Ia pun mencintai orang lain, ia mencintai santri yang yang diam di pesantren yang sama.
Ia tak punya siapapun di dunia ini, ia sebatang kara. Selama ini, Gani dan Mahira lah tempatnya bergantung. Demi balas budi, ia memasrahkan dirinya, dan menerima takdirnya menjadi istri seorang Samuel Albi Maheswari.
Semua wanita pasti menginginkan pernikahan yang hangat dan penuh cinta, begitupun Lastri. Ia juga bermimpi bisa merasakan pernikahan yang penuh cinta. Namun, seberapa pun kuat keinginannya pada akhirnya ia harus mengubur dalam-dalam keinginannya saat mendengar ucapan Albi sebelum menikah.
"Lastri, saya menerima perjodohan ini dan menikah dengan kamu bukan karena saya ingin benar-benar menikah. Tapi, saya hanya butuh figur ibu untuk putri saya. Tapi kamu jangan khawatir. Jika saat nanti ada lelaki yang mencintaimu dan kamu pun mencintai lelaki lain, maka saya akan melepaskanmu."
Bagai petir di siang bolong, Lastri tak menyangka akan mendengar ucapan itu dari Albi sebelum mereka menikah. Ia memang mencintai lelaki lain.Tapi, saat dia berkata setuju untuk menikah dengan Albi, ia sudah bertekad untuk melupakan lelaki yang selama ini ada di hatinya.
Ucapan Albi benar-benar menusuk dan menembus jantungnya, dadanya berdenyut nyeri. Ia harus meredam semua impiannya tentang pernikahan hangat dan penuh cinta. Kini, ia berstatus sebagai istri Albi jika di luar rumah. Tapi, statusnya berganti jika di dalam rumah, ia hanya sebagai pengasuh bagi putri suaminya.
•••
"Arni, apa kau senang sekarang," ucap Albi dengan lirih saat menatap foto pernikahannya dengan mendiang istrinya. Matanya berkaca-kaca saat melihat foto di hadapannya.
Setelah ijab kabul, Albi lebih memilih mengunci diri di kamar. Ia meninggalkan Lastri bersama keluarganya.
Saat masuk kedalam kamar, sesak menghimpit dadanya. Ia terbiasa sendiri di kamar ini, ia terbiasa bernostalgia dengan kenangannya bersama mendiang istrinya. Tapi sekarang, ia harus terbiasa dengan kehadiran Lastri yang akan tinggal di kamarnya.
Bisa saja, ia menyuruh Lastri untuk tinggal di kamar berbeda. Tapi ia tak melakukan itu. Orang tuanya sudah mewanti-wanti agar Albi dan Lastri tidur satu kamar.
Lamunan Albi buyar kala mendengar pintu di ketuk. Albi menghapus air matanya, lalu berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu. Ia tau, Lastrilah yang mengetuk pintu.
"Pak, maaf. Kamar saya di mana?" tanya Lastri dengan sedikit berbisik karena takut ucapannya di dengar oleh orang lain.
Ada rasa sesak tersendiri saat melihat Lastri, jujur saja. Ia merasa kasihan dengan gadis yang baru saja di nikahinya. Tapi, mau tak mau ia harus tega untuk bersikap acuh dan membatasi diri, ia tak ingin, Lastri berharap lebih padanya.
"Kamu bisa tidur di kamar ini," jawab Albi, ia membuka pintu kamar, membiarkan Lastri masuk kedalam kamarnya.
"Kita tidur seranjang. Jadi tak usah bertanya lagi," ucap Albi dengan dinginnya. Setelah mengatakan itu. Ia pergi kedalam ke kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan Lastri yang terdiam mematung.
Lastri mengigit bibirnya dengan kencang, sekuat tenaga, ia menahan tangisnya agar tak keluar dari matanya. Ia melihat punggung Albi yang sedang berjalan dengan tatapan nanar, apakah ia kuat menghadapi situasi ini.
Bisakah aku bertahan bersama Pak Albi.
Bab 2
Lastri mendudukan dirinya di ranjang. Ia menatap foto pengantin Albi dan Arni dengan tatapan nanar. Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya saat melihat foto suaminya dan foto mendiang istri dari suaminya. Di foto itu, Albi tampak sangat bahagia, berbeda dengan Albi saat menikahi dirinya.
Mampukan ia bertahan bersama Albi, menghadapi sikap dingin dan kasarnya. Haruskah dia mengorbankan dirinya atas nama balas budi.
•••
Setengah jam berlalu, Albi masih betah di bawah kucuran shower. Rasanya, ada yang hilang dan terasa asing. Padahal, ia sudah menebak bahwa ini akan terjadi.
Sungguh, ia merasa bahwa ia telah menghianati mendiang istrinya. Tapi apa daya semua sudah terjadi. ia hanya harus menerima dan menjalani ini semua.
Rasa dingin mulai menusuk kedalam kulit. Albi memutar gagang shower dan mematikannya, mengambil handuk lalu membelitkannya pada pinggangnya.
Saat keluar dari kamar mandi, langkah Albi terdiam saat melihat punggung Lastri bergetar, jantung Albi serasa di remas saat mendengar tangis dari istrinya.
Tanpa sadar, Albi maju ke arah istrinya. Setelah mendekat, ia menepuk pundak Lastri hingga Lastri menoleh.
Dengan cepat, Lastri menghapus air matanya lalu bangkit dari duduknya. "Maaf, Pak," ucapnya. Ia menunduk tak berani menatap Albi.
"Maafin saya, Lastri," ucap Albi membuat lastri mengangkat kepalanya.
Lastri masih terdiam, ia bingung harus menjawab apa pada Albi. Minta maaf? Minta maaf untuk apa? Pertanyaan itu berputar-putar di pikirannya.
"Saya minta maaf kalau ada sikap saya yang ngebuat kamu ga enak," jawab Albi membuat Lastri menghela napas.
"Saya ga apa-apa, Pak. Saya cuman rindu sama almarhum ibu bapak saya," dustanya. Ia kembali menunduk saat Albi menatap intens padanya. Sungguh, tatapan Albi begitu menusuk hingga terasa sampai jantung. Hingga Lastri lebih memilih memutuskan pandangannya.
"Saya tau ini berat buat kamu. Saya juga minta maaf kalau kamu harus terseret dalam hidup saya sama Anisa. Tapi ka ...."
"Maaf, Pak. Saya ingin pergi ke kamar mandi. Mungkin, kita bisa bahas ini nanti." Lastri memotong ucapan Albi. Rasanya, ia tak sanggup mendengar kata demi kata yang akan di ucapkan suaminya. Ia juga tak sanggup untuk menahan air mata yang sudah mendesak untuk di keluarkan.
Albi mengusap wajah kasar saat melihat punggung Lastri yang berjalan menjauh. Ia tak ingin egois, ialah yang memaksa Lastri masuk kedalam hidupnya untuk mendampingi putrinya.
•••
Saat jam makan malam, Gani dan Mahira saling pandang, ketika melihat Lastri dan Albi tampak saling diam. Mereka pernah berada di posisi Lastri, hanya saja, kisah mereka sedikit berbeda.
Saat Lastri anteng menyuapi Anisha. Mahira tiba-tiba tertunduk, ia teringat saat awal-awal menjadi istri Gani, yang Gani anggap hanya sebagai pengasuh Dita. Dan ia tak mau, kehidupan pernikahan anak dan menantunya, sama seperti kehidupan pernikahannya dulu.
Dita yang tak lain adalah Kaka Albi memperhatikan semua keluarganya. Ia melihat wajah sang bunda yang terlihat sendu, hingga ia mungkin harus sedikit berbicara pada adiknya.
"Albi, udah makan. Kaka mau bicara sa kamu," ucap Dita di tengah makan malam yang sedang berlangsung. Hingga semua menatap Dita.
Albi yang sedang mengunyah makannya. Mengangguk dengan lesu, sepertinya ia tau apa yang akan di bicarakan oleh kakanya.
Dan disinilah mereka berada setelah makan malam Dita mengajak Albi untuk berbicara di ruang keluarga hanya berdua.
Albi tertunduk lesu, sedangkan Dita menatap lekat-lekat pada adiknya. berusaha memilih-milih kata agar tak menyinggung perasaan sang adik.
"Kakak mau bicara apa sama Albi? "
Dita masih mencoba memilih kata, kemudian ia menghela nafas beberapa kali. "Al, kakak mau cerita tentang masa lalu ayah dan bunda, kakak harap kisah ayah dan bunda bisa jadi pelajaran buat pernikahan kamu sama Lastri."
"Dulu ayah sama bunda ...." Dita pun menceritakan semuanya, apa yang ia ingat tentang awal hubungan ayah dan bundanya sampai ketika mereka terpisah 7 tahun dan mereka bertemu lagi ketika Abi berusia 6 tahun.
•••
Albi membuka pintu kamar, ia menyandarkan punggungnya ke pintu netranya menatap Lastri yang sedang terbaring sambil meringkuk.
Saat melihat Lastri, kata-kata tentang kakaknya yang menceritakan kisah pernikahan ibu dan ayahnya terngiang-ngiang di otaknya.
Haruskah dia melupakan semuanya, berusaha menerima Lastri sebagai istrinya agar ia tak menyesal di kemudian hari. Atau haruskah dia bersikap seperti biasa menganggap Lastri hanyalah pengasuh anaknya.
Setelah terdiam dan berpikir tentang langkah apa yang akan diambil, Albi maju ke ke arah ranjang. Ia mendudukan diri di sebelah Lastri kemudian mengusap lembut hijab yang masih di pakai Lastri, hingga Lastri menoleh.
"Ya ada apa, Pak?" Tanya Lastri.
"Lastri bisakah kita bicara? "Tanya Albi. Albi menyenderkan punggungnya ke belakang sedangkan Lastri bangun dari tidurnya membenarkan hijabnya dan menatap Albi dengan tanda tanya.
"Ada apa, Pak?"
"Mulai sekarang lupakan perjanjian kita ... Saya ingin kamu menjadi istri saya yang sesungguhnya. Walaupun butuh waktu, tapi saya akan menerima kamu dan berharap kamu pun menerima saya sebagai suami kamu," ucap Albi, membuat Lastri melongo.
Nafas Lastri tersenggal ... kerongkongannya mendadak kering ia menatap Albi dengan penuh tanda tanya. Bagaimana mungkin lelaki yang tadi berkata dingin padanya berubah pikiran hanya dalam hitungan jam apakah dia sedang bermimpi.