Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Perasaan yang Sama


Memangnya kenapa kau tidak menyukai Paman Arthur?”  tanya Laura yang masih  penasaran dengan Apa yang dirasakan putrinya.


“Entahlah, terkadang aku melihat Paman Artur menatapku dengan kesal apalagi ketika aku berjalan dengan lambat. Aku juga sering melihat paman Arthur diam-diam  menatapku dengan tatapan tidak suka," jawab Bella, Laura merasa hatinya begitu nyeri saat mendengar pengakuan Bela.


Selama ini tidak ada yang memperlakukan putrinya dengan buruk. Namun secara tidak   langsung, Arthur sudah memberikan trauma pada Bella. Seketika Laura menegakkan tubuhnya, kemudian ia membawa Bella ke dalam pelukannya. Lalu mengelus punggung Bella.


“Mommy berjanji, Mommy tidak akan  membiarkanmu lagi dekat dengan dia!” kata Laura, Bella pun menggangguk.


“Mommy, jangan mendekatkan aku dengannya lagi,” pinta Bella.  Laura mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Ya sudah, Mommy  akan bekerja. Kau  main di sini oke, kau bisa menggambar ataupun melakukan apapun!” titah Laura, Bella menggaguk.  Lalu turun dari pangkuan sang ibu.


Waktu menunjukkan pukul 04.00 sore, akhirnya pekerjaan Laura selesai. Sejenak, Laura menyadarkan tubuhnya ke belakang. Ia melihat ke arah Bella yang sedang menggambar, ucapan Bela tentang Arthur tadi masih menghantui  Laura.


Sebenarnya, Laura pun merasakan apa yang Bella rasakan.  Jujur saja, setiap Arthur melakukan kebaikan padanya, hatinya seolah menolak dan ternyata putrinya merasakan yang sama.


Laura  bangkit dari duduknya, kemudian ia menghampiri Bella. “Bella, ayo kita pulang,” Ajak Laura, Bella menggangguk.


“Mommy, ayo kita makan diluar,” ajak gadis kecil itu, tentu saja Laura setuju. Bella   membereskan alat-alat ke dalam tasnya. Lalu setelah itu, ia pun  langsung memakai tasnya kembali, dan mereka pun keluar dari ruangan Laura.


••••


Laura memarkirkan mobilnya di depan panthouse. Saat ia akan turun, Ia  menyentak nafas kesal saat melihat mobil siapa yang ada di depannya, ternyata itu adalah mobil Arthur.


Padahal,  saat barusan ia sedang makan bersama Laura, ia sudah meminta untuk Arthur Jangan datang ke pentouse-nya, karena dia mengatakan akan menginap di mansion ayah dan ibunya. Tapi ternyata, Artur malah nekat datang. Sungguh, lama-lama Laura menjadi takut pada lelaki itu.


Laura menoleh, “Bella, jangan perlihatkan sikap apapun pada paman  Arthur, bersikaplah seperti biasa!”  pinta  Laura, gadis kecil itu pun mengangguk dengan patuh. Lalu  setelah itu, mereka pun keluar dari mobil.


“ Arthur Kenapa kau di sini?”  tanya Laura.


“ Aku tadi menelepon pada Paman Nael dan, paman Nael mengatakan bahwa kau tidak jadi menginap  di mansion. Jadi aku kemari!” kata Arthur.


“ Aku tidak jadi karena ada sedikit kendala. Oh  ya, kamu mau apa kemari?”


“Aku ingin mengantarkan gaun untukmu. Aku ingin mengajakmu untuk pergi ke pesta. Orang tuamu juga pasti akan hadir dan Paman Nael pun menyuruhku untuk mengajakmu,” jawab Arthur.


Hellan nafas terlihat dari wajah cantik Laura. Sepertinya ia harus berbicara dengan sang ayah.


“Oh, ya, aku berharap kau mau memakai gaun Ini!”  kata Arthur yang menyerahkan paperbag ke tangan Laura. “Aku akan menjemputmu besok, apa kau tidak keberatan?”  tanya Arthur lagi.


Sepertinya Laura tidak mempunyai pilihan, apalagi ini perintah sang ayah. “Baiklah, terima kasih atas gaun ini.” Laura terpaksa menerima gaun itu.


“Hai,  Bella!" kata Arthur yang memalingkan tatapannya ke arah Bella.


“Hai, Paman," jawab Bela. “Mommy aku mengantuk!” kata gadis kecil itu yang buru-buru mengajak Laura untuk masuk.


“Arthur aku minta maaf, sepertinya aku tidak bisa membiarkanmu masuk. Kami ingin beristirahat,” ucap Laura. Artur menganggukan kepalanya seraya tersenyum. Namun,  dalam hati ia menggeram kesal.


Aku up 4 bab ya. Silahkan Scroll tapi jangan lupa komen dan likemya