Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Sebuah Karma dan Balasan


Arsen masuk dalam kamar, seperti biasa ia membawa segelas susu untuk Gisel.


“Ayo minum dulu, Sayang!” kata Arsen, ia menyerahkan susu tersebut ke hadapan Gisel.


“Tema kasih, Dad!” Gisel pun menerima susu itu kemudian meminumnya, lalu ia menyerahkan lagi gelas pada Arsen. Arsen membuka kaosnya, hingga kini bertelanjang dada. Lalu setelah itu ia menindih separuh tubuh istrinya hingga wajahnya berada di depan perut Gisel.


Seperti biasa, Arsen selalu menciumi perut Gisel dengan gemas, ia mengajak anaknya berbicara, walaupun anaknya masih berada dalam kandungan.


Tiba-tiba, Arsen terpikirkan sesuatu Ia pun langsung mengambilnya, Lalu setelah itu ia mendudukkan diri sebelah tubuh Gisel.


Ternyata, Arsen memakaikan kalung di leher istrinya.


“Ini ....” kata Gisel yang menatap kalung tersebut dengan tatapan tak percaya. Gisel sudah lama menginginkan kalung ini, karena kalung tersebut ,adalah edisi terbatas yang hanya dikeluarkan tiga buah di dunia dan ternyata Arsen mendapatkannya.


“Maafkan aku karena aku yang telat mendapatkannya,” kata Arsen.


“Terima kasih Daddy!” Gisel menangkup kedua pipi Arsen, kemudian mencium bibir suaminya. tentu saja, Arsen tidak menyia-nyiakan kesempatan, Ia pun langsung menarik selimut lalu menyelimuti tubuh mereka berdua. Dan selebihnya, Hanya mereka yang tahu apa yang terjadi.


•••


“Dad, kau sedang tidak ingin mengawasiku lagi kan?” tanya Seina, saat Arsen akan mengantarkan Seina ke kampus.


“Tidak, Daddy akan bertemu Paman Jordan!” kata Arsen lagi, karena memang dia berencana untuk menemui Jordan


Ia begitu sulit menemui paman angkatnya, dan ketika Jordan mau berbicara dengannya, Arsen pun langsung mengatur waktu untuk bertemu dengan Jordan.


“Paman Jordan? ulang Seina.


“Hmm, dia adik kekekmu,” ucap Arsen, ia tidak ingin membuat Seina bingung, dan ia tidak ingin mengatakan bahwa keluarganya adalah keluarga angkat.


“Daddy berjanji kan tidak akan mengikutiku?” tanya Seina lagi, ia memastikan pada sang ayah.


“Syukurlah kalau begitu!”


“Ayo kita berangkat, kau sudah pamit pada Mommy?” tanya Arsen karena memang Gisel sedang berada di ruang olahraga, bersama instrukturnya.


Seina mengangguk.


•••


“Kenapa kau ingin menemuiku?” tanya Jordan saat mereka sudah bertemu di sebuah kafe yang tak jauh dari kantor Jordan.


“Kau akan terus seperti ini?” tanya Arsen..


“Memangnya aku seperti apa?” Jordan malah balik bertanya pada Arsen.


Arsen menghela nafas, pamannya benar-benar berubah. apalagi semenjak leticia menikah dengan Miko dan menceraikan Ayana, Jordan menjadi dingin dan tidak tersentuh, Jordan juga tidak menggubris Nael, padahal Nael sudah melupakan masa lalu.


“Untuk apa kau menemuiku?” tanya Jordan lagi.


“Aku berharap, kau bisa datang ke ulang tahun pernikahanku bersama Gisel!” kata Arsen karena memang dia akan mengadakan pesta ulang tahun pernikahannya bersama Gisel yang akan diselenggarakan satu Minggu lagi.


“Aku tidak berjanji. Tapi pasti, aku akan datang. Aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan." Setelah mengatakan Itu, Jordan pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung meninggalkan Arsen, membuat Arsen menggeleng .


Saat Jordan akan keluar, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia hampir saja menabrak seseorang. Baru saja ia akan meminta maaf niatnya terhenti saat melihat siapa orang yang di tabraknya


“Le-Leticia ....”


Sementara di sisi lain


“Ma-maksud anda saya di pecat lagi?” tanya Ayana, pada lelaki di depannya. Lelaki itu pun mengangguk, membuat tubuh Ayana terasa lemas, sepertinya Jordan tidak akan membuat hidupnya tenang dan akan terus membalasnya.