
“Lalu kau berharap apa dariku? kau berharap aku merestuimu setelah apa yang kau lakukan pada kedua keponakanku?” tanya Gabriel. Nadanya tetap dingin, ia menengguk wine yang sedang dipegangnya
“Gabriel, ayolah pikirkan keponakanmu. Aku sudah berhasil mendapatkan mendapatkan maaf dari kedua putriku. Bukankah sekarang saatnya mereka bahagia dengan adanya aku di sisi mereka,” ucapnya yang masih berusaha nego dengan Gabriel, membuat Gabriel berdecih sinis.
“Sebelum kau datang, keponakanku bahagia, lalu untuk apa kau repot-repot datang kemari hanya untuk meminta ijinku!” kata Gabriel yang masih tidak mau kalah membuat Nael mengusap wajah kasar.
“Gabriel kita sama-sama sudah dewasa dan ....”
“Jika kau sudah dewasa, lalu Kenapa kau mengabaikan keponakanku selama bertahun-tahun. Apa menurutmu arti dewasa itu menghindari tanggung jawab?” Skak, Nael terdiam saat mendengar ucapan Gabriel. Ia memutar otak, berusaha untuk meyakinkan calon kakak iparnya.
“Gabriel!” panggil Nael lagi, Gabriel tak menjawab, ia malah merogoh saku kemudian mengutak-atik ponselnya, mencari nomor Gabby. Lalu setelah itu, ia langsung menghubungi nomor adiknya.
“Gabby!” Panggil Gabriel saat Gabby mengangkat panggilannya. Ia sengaja mengaktifkan pengeras suara, agar Nael mendengar ucapannya.
“Ada apa? kenapa kau menelponku?” jawab Gabby
“Gabby, Nael ada disini!” kata Gabriel, sejenak Gabby terdiam
“Lalu,” jawab Gabby dengan singkat.
“Bagaimana jika aku tidak merestui kalian?”
“Gabriel!” panggil Gabby, dari nada suara Gabby saja Gabby tampak keberatan dengan ucapan Gabriel.
“ Bagaimana jika aku tidak merestuimu menikah dengan Nael?” tanya Gabriel lagi.
“Kau yakin tidak akan merestuiku?” ulang Gabby, membuat Nael mengembangkan senyumnya. Ia merasa berada di atas awan saat Gabby terdengar membelanya.
“Baiklah terserah kau saja.” tiba-tiba Gabby mematikan panggilannya, membuat mata Nael membulat. Ia pikir, Gabby akan membelanya. Ia pikir, Gabby akan ikut berjuang bersamanya untuk meminta Restu Gabriel. Tapi nyatanya, Gabby sama sekali seperti tidak tertarik dengan perjuangan Nael yang sedang meminta Restu. Bahkan Gabny malah mematikan panggilannya.
Seketika tawa Gabriel meledak saat mendengar jawaban sang adik, membuat Nael angsung memalingkan tatapannya ke arah lain dengan wajah yang memerah. “Kau lihat, Gabby sendiri tidak mau menikah denganmu.”
“Dia berbohong Gabriel, dia sendiri yang mengatakan bahwa dia mau menikah denganku!” kata Nael yang tidak mau kalah.
“Kau mendengar sendiri bukan, jika aku tidak merestui kalian, kalian tidak akan pernah menikah. Gabby pun tidak keberatan dengan keputusanku. Jadi kau berharap apa padaku?”
Helaan nafas terlihat dari wajah tampan Nael. Adik dan kakak ini benar-benar membuatnya pusing. Gabby dengan gengsinya dan Gabriel dengan keras kepalanya, dan dia harus benar-benar berjuang menaklukan kakak dan adik ini secara bersamaan
Tiba-tiba, Nael teringat sesuatu. Ia pun merogoh sakunya, kemudian mengambil ponsel. Lalu menelepon pada ponsel putrinya. Lima menit kemudian, panggilan diangkat eh Naura.
“Naura, ini Daddy,” kata Nael saat Naura mengangkat panggilannya.
“Daddy ... Daddy siapa?” tanya Naura. Lagi-lagi, Nael membulatkan matanya saat mendengar jawaban putrinya. kenapa Gabby dan kedua putrinya kompak tidak mau mengakuinya
“Ini Daddy, Naura!” protes Nael.
“Oh, aku seperti mengenal suara," jawab Naura. “Apakah ini Paman, Nael?” seketika tawa Gabriel kembali meledak saat mendengar ucapan keponakannya. Sedangkan Nael masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.
Nael menggaruk rambutnya, kemudian ia menunduk, berusaha memutar otak. Ia benar-benar bingung dengan Gabby dan putrinya.
Scroll gengs