
Gengs Bab Naura scroll ya.
Cuman dua puluh sembilan ribu , bisa baca 60 bab di sini aku tulis 7 bab di sini sisanya kalian bisa wa aku ini tayangg di mana karena ini tayang di apk baru.. info 088222277840.
“Bagaimana, apa kau sudah berbicara dengan Tuan Jonas?” tanya Rival sembari duduk di kursi kerjanya dan menatap sang asisten, Gerry, dengan sorot tidak sabar.
Gerry bergeming, memikirkan penjelasan untuk Rival. Dia menghela napas gusar membayangkan amukan atasannya setelah ini.
“Tuan, saya belum bisa mengonfirmasinya. Tapi saya akan segera mengatur ulang jadwal pertemuan Anda dengan Tuan Jonas,” balas Gerry.
Suara ketukan jari Rival di meja memecah keheningan. “Baiklah, aku memberimu waktu dua hari. Cepat bicara dengan Tuan Jonas dan katakan bahwa aku menginginkan putrinya," titah Rival.
Gerry mengangguk patuh, merasa lega ketakutannya tidak terjadi. ”Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi.” Gerry berbalik pergi dari ruangan tuannya, Rival Damian yang merupakan founder dari perusahaan tempat dia bekerja, membuat pria itu memegang kekuasaan tertinggi di tempat ini pada usianya yang mencapai tiga dekade.
Selain itu, juga sebuah privilage bagi Rival yang mempermudah karirnya karena terlahir sebagai putra tunggal dari pemimpin partai terbesar yang terkenal ke seluruh penjuru negeri, dan juga menjadi salah satu penguasa negara.
Rival menyandarkan punggungnya. Bibir pria itu tersenyum mengingat sosok perempuan bernama Silvia Haina yang merupakan anak rekan bisnisnya. Dalam pandangan pertama, gadis itu berhasil mencuri perhatian dan membuat rasa ingin memiliki itu mencuat di hati seorang Rival yang selama ini tak peduli soal perempuan.
Tidak ada yang mustahil untuk dimiliki oleh Rival termasuk Silvia. Dia akan melakukan apapun agar wanita menjadi miliknya, entah itu dengan cara lembut atau paksaan.
Setelah cukup lama bergeming, Rival bangkit kemudian memakai jas, dan menyambar kunci mobil lalu keluar dari ruangannya.
Rival mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju mansion miliknya. Sepanjang jalan, ia tidak berhenti tersenyum karena sosok Silvia yang terus berputar di benaknya.
Usai melalui perjalanan yang cukup jauh, Rival sampai pada tujuan. Dia segera turun dari mobil, melemparkan kunci pada orang yang mengurus mobil-mobil mewahnya lalu masuk ke dalam mansion.
“Siapkan wine untukku!” titah Rival pada pelayan sembari berjalan menuju ruang bawah tanah. Dia membuka jas yang melekat di tubuhnya dan menyampirkan benda itu di tangga.
Rival duduk di sofa yang berhadapan dengan layar besar. Dia menyalakannya membuat dia bisa melihat kesakitan pada wajah para pengkhianat yang dikurungnya, sekaligus mendengar raungan ketakutan mereka seolah meminta ampun. Dia tersenyum melihat 'pemandangan menyenangkan' yang disuguhkan.
Rival benci pengkhianatan, dan dia tak akan pernah mengampuni mereka sebelum mengganti rugi semuanya. Bukan dengan nyawa, melainkan rasa sakit yang panjang.
Rival mengumpulkan seluruh pengkhianatnya di ruangan sempit yang dipenuhi dengan binatang-binatang menjijikan. Tak lupa, dia juga menyuruh anak buahnya untuk menyiksa mereka semua tanpa terkecuali.
Rival merasa sebuah nyawa yang dibunuh begitu saja tak setimpal dengan sakitnya pengkhianatan yang dirasa. Oleh karena itulah, dia menyiksa mereka agar bisa menyaksikan kesengsaraan para pengkhianat itu sebelum akhirnya mati.
Rival mengambil wine yang baru saja di antarkan oleh pelayan. Ia mengambil walkie talkie untuk berkoordinasi dengan orang-orang yang bertugas di dalam sana.
“Berikan mereka suhu yang paling dingin," ucapnya datar dengan senyuman puas mendengar jeritan mereka semua.
Rival menyeruput wine sambil melihat 'hiburan' di layar. Merasa puas menontonnya, Rival bangkit dan naik kemudian masuk ke kamarnya.
•••
“Apa?!" Silvia berteriak saat sang Ayah mengatakan bahwa Rival menginginkan dia sebagai istri. Ia menatap pria paruh baya itu tak percaya.
Silvia sangat tau siapa Rival Damian yang terkenal dengan kekejaman dan sikap posesif-nya, tetapi kini sang Ayah malah menjodohkannya dengan pria itu? Gila!
Silvia pernah menjadi saksi tekanan Rival pada sahabatnya yang pernah menjadi pacar pria itu dulu, karena sikap Rival yang terlalu mengekang.
Mengetahui itu saja cukup membuat Silvia balik bertanya, bagaimana mungkin dia bisa bertahan dengan lelaki seperti itu?
“Tidak Ayah, aku tidak mau dijodohkan dengannya. Mana bisa aku hidup dengan lelaki gila sepertinya? Lagi pula aku juga masih ingin menjadi model dan jika aku menikah dengannya, bukankah dia bisa menghalangi langkahku?" Silvia kekeh menolak perjodohan mereka. Jonas menggeleng, berusaha membujuk, “Tapi Silvia, ini peluang besar untukmu. Kita bisa ....”
“Sudah, sudah. Aku tidak mau berdebat dengan ayah, dan aku tidak mau mendengar soal ini lagi.” Silvia memotong ucapan sang ayah kemudian pergi dari pandangan pria itu menuju kamarnya sembari menggerutu dan menyumpahi Rival.
Jonas menggeleng pelan. Percobaan pertamanya gagal, tetapi dia tetap harus membuat Silvia setuju. Ini merupakan kesempatan emas untuknya mempunyai menantu seperti Rival yang tak bisa disia-siakan.
Deringan ponsel mengalihkan perhatian Jonas yang kini menatap layar, memperhatikan nomor yang tak dikenal meneleponnya.
“Halo, dengan siapa saya bicara?” tanya Jonas setelah mengangkat panggilan. Begitu mendengar jawaban di seberang sana, tubuhnya menegang. Dia tak menyangka bahwa sosok yang selalu mewakilkan urusan dengannya melalui sang sekretaris, kini menghubungi secara langsung.
“Bagaimana, apa kau sudah berhasil membujuk putrimu?” tanya Rival. Rasa tak menyangka Jonas berganti oleh gusar yang kini menguasai. Dia berdeham mengurangi gugupnya sebelum menjawab, “Putri saya ... belum setuju. Tapi Anda tenang saja, saya akan berusaha untuk membujuknya. Saya yakin dia setuju menikah dengan Anda.” Jonas beeusaha meyakinkan, takut jika Rival berubah pikiran.
Usai obrolan selesai, Jonas berlalu menuju ruang kerjanya sembari terus memikirkan bagaimana caranya meyakinkan Silvia.
Bab 2
Silvia memasuki gedung dengan lemas, sesekali kepalanya terasa berputar karena kurang tidur. Dia menoleh ke belakang, berdecak kesal saat melihat asistennya yang tertinggal jauh.
“Apa kau tidak bisa berjalan dengan cepat, Ana?!” tanya Silvia dengan nada tinggi pada Jeana, asistennya.
Ana menatap tanpa menjawab, dia bergegas mempercepat langkah meski kesulitan dan hampir terjatuh berkali-kali, karena banyaknya barang yang dia bawa sendirian untuk keperluan photoshoot Silvia.
“Cepat siapkan semua, aku akan naik ke atas dan saat aku turun nanti, semuanya harus sudah selesai, oke?"
Ana mengangguk patuh sementara Silvia berlalu meninggalkannya. Setelah beberapa menit kemudian, dia bisa menghela napas lega melihat semuanya sudah rapi sesuai yang diperintahkan.
Tugas Ana sekarang adalah menemui Silvia yang berada di lantai dua. Ketika dia sedang menaiki anak tangga, tiba-tiba ponselnya berdering membuat dia berhenti melangkah dan melihat nomor yang menelepon.
"Iya Bu?" sahut Ana menjawab panggilan ibunya sembari menempelkan ponsel di telinga.
"Uang lagi?" tanyanya gemas setelah mendengar penjelasan sang ibu yang kembali meminta uang, padahal bulan lalu dia telah menerima hampir seluruh gaji Ana.
“Bukankah uang untuk sekolah Krish sudah aku berikan, kenapa sekarang Ibu meminta uang lagi padaku?" tanyanya kesal bercampur lelah karena terus dijadikan tumpuan oleh keluarganya.
Gaji Ana menjadi asisten Silvia memang cukup besar, tapi itu tidak sebanding dengan rasa lelahnya yang bekerja siang malam nyaris tanpa henti. Bukan hanya itu, dia juga sering dibebankan pekerjaan berat yang menguras energi. Belum lagi, pada saat tertentu dirinya yang tak bersalah, harus siap menjadi tempat pelampiasan amarah Silvia yang tak jarang ucapannya melukai perasaan.
“Ya sudah, aku akan meminjam uang pada bosku.” Ana akhirnya mengalah setelah mendengar penjelasan wanita di seberang sana. Dia mematikan panggilan kemudian menyentuh dadanya yang terasa nyeri dengan mata yang basah, putus asa tersirat pada sorotnya.
“Tidak apa-apa, Ana. Tidak apa-apa.” Ana berusaha menguatkan diri, menghapus air di sudut matanya dan melanjutkan langkah.
***
“Nona?” panggil Ana yang kini berada di ruang pribadi Silvia. Usai dipersilakan, dia membuka pintu dan masuk ke dalam sana.
“Apa sudah selesai?” tanya Silvia sembari mengurut kepalanya yang terasa nyeri.
“Ya, Nona. Semua sudah selesai.”
“Ya sudah, kau boleh keluar. Aku akan turun sebentar lagi," ucapnya tak acuh.
Bukannya menuruti perkataan Silvia, Ana justru bergeming. Lidah gadis itu terasa kelu untuk mengatakan niatnya meminjam uang pada sang majikan.
"Kenapa? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk keluar?" Silvia menatap heran. Ana tetap membisu, memupuk keyakinan di hatinya untuk mengatakan apa yang masih tertahan.
“Nona, bolehkah saya meminjam uang Anda? Untuk melunasinya, Anda bisa memotongnya dari gaji saya." Ana cepat menunduk tak berani menatap Silvia. Bibirnya tergigit kuat sebagai pengalihan rasa takut akan jawaban wanita itu.
Silvia melotot terkejut. "Kau sudah meminjam uang padaku tiga kali. Lalu sekarang, kau ingin meminjam lagi?”
“Kali ini, anda boleh memotongnya dari gajiku, Nona,” jawab Ana masih menunduk, menutupi rasa takut yang kini didominasi malu karena di ruangan itu cukup ramai oleh pekerja Silvia lainnya.
Silvia terdiam berpikir, tetapi kemudian dia berkata, “Ya sudah, aku akan meminjamkan uang padamu, tapi hanya untuk kali ini saja dan aku pun akan memotong dari gajimu.”
Ana cepat mengangguk, meskipun malu tetapi setidaknya dia berhasil mendapatkan pinjaman. “Terima kasih, Nona.”
“Silakan kamu keluar.”
Ana mengangguk kemudian berlalu pergi keluar ruangan. Sepeninggalnya, Samanta yang merupakan manager Silvia berkata, "Kau pelit sekali, Sil. Kenapa kau harus membuatnya malu padahal dia hanya meminjam uangmu? Dia, 'kan, juga pekerjamu."
“Aku benci orang seperti itu, merengek meminjam uang. Walaupun dia bekerja padaku sekalipun, tak akan membuatku mengizinkannya menjadi lintah.” Silvia menjawab sadis yang direspon dengan gelengan oleh Samanta.
Ana yang masih berada di pintu, mengusap dada mendengar ucapan tajam dan menyakitkan Silvia yang tak bisa dibalasnya sepatah kata pun. Dia menghela napas, berlalu pergi dan memilih mengalihkan perhatian pada pekerjaan.
***
Rival turun dari mobil, dia mengancingkan jas kemudian masuk ke gedung tempat Silvia menjalani pemotretan. Hari ini untuk pertama kalinya dia menemui Silvia secara langsung setelah seminggu lalu dia menelepon Jonas yang juga masih gagal membujuk anaknya.
Lalu atas saran Jonas jugalah, Rival berada di sini. Ketika dia masuk ke dalam gedung, semua staff yang mengetahui kedatangannya hari ini untuk melihat pemotretan Silvia dari informasi yang diberikan Gerry, menunduk hormat. Dia membalas mereka dengan anggukan kecil.
Kini tatapan Rival tertuju pada Silvia yang sedang bekerja dengan mata berbinar. Di pandangannya kini, gadis itu begitu camtik dan menggoda. Dia yang berdiri di samping fotografer, menyilangkan tangan dan menatap Silvia tanpa berkedip.
Silvia yang menyadari kehadiran Rival, menelan saliva dengan eskpresi tegang. Bukannya terpesona dengan ketampanan pria itu, dia justru ketakutan. Batinnya menggerutu karena yakin ini adalah ulah Jonas. Sial!
Silvia benar-benar merasa diawasi hingga photoshoot berakhir. Meskipun usai, tetapi dia tidak bisa melakukan apapun saat Rival bergerak mendekatinya.
“Hai Silvia,“ sapa Rival tersenyum manis. Silvia yang tak tahu harus berbuat apa, balas tersenyum kaku. “Ha-hai Tuan Rival,” sahutnya ragu.
“Aku belum memperkenalkan diriku secara resmi. Kenalkan, aku Rival Damian.” Rival mengulurkan tangan yang dijabat Silvia beberapa saat setelahnya. “Aku Silvia.”
“Aku ingin mengajakmu makan siang, dan aku berharap kau tidak keberatan,“ ajak Rival tanpa basi-basi yang berhasil membuat Silvia terkejut.
Silvia menoleh ke arah Ana, sorot matanya mengisyaratkan permintaan tolong. Asistennya yang mengerti itu, cepat berkata, "Nona, sebentar lagi ada jadwal pemotretan di tempat lain."
Silvia merasa lega, tapi tidak dengan Ana yang kini ditatap tajam oleh Rival karena terancam menganggu tujuannya mengajak model pemotretan hari ini untuk makan siang.
Rival menoleh pada Silvia. “Mungkin kau bisa membatalkan jadwalmu dan makan siang bersamaku, 'kan?" tanyanya tak ingin mengalah.
Silvia menelan salivanya, hawa mengintimidasi Rival terasa begitu kuat. Sungguh, dia kesal pada Jonas yang melibatkannya dengan pria ini.
“Nona, sepuluh menit lagi kita akan pergi.” Ana kembali bersuara membuat Rival menoleh padanya. “Apa kau tidak bisa diam, huh?”
Melihat potensi keributan, Silvia memejamkan mata sejenak. “Baiklah ayo kita makan siang bersama, Tuan Rival,“ sahut Silvia akhirnya. Dia tahu Rival tak akan berhenti sebelum dituruti, dan dia juga harus menegaskan sesuatu.
***
Bab 3
Silvia menunduk, meremassa kedua tangan dengan kaki bergoyang pelan sebagai pengalihan rasa tidak nyaman atas situasi yang dialaminya sekarang. Lebih lagi, sorot mata Rival padanya terasa cukup mengintimidasi di tengah heningnya suasana sembari menunggu pesanan masing-masing datang.
Menjalani hal ini saja, sudah cukup membuat Silvia tertekan. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa hidupnya saat menjadi istri Rival yang merupakan sosok arogan dan kukuh. Ini seolah menjadi pertanda bahwa dirinya harus mulai memikirkan cara untuk lari dari pria gila di hadapannya sekarang.
Sepuluh menit berlalu, pesanan mereka tiba. Silvia mendongak hingga tanpa sengaja pandangannya beradu dengan Rival membuat pria itu bertanya, “Kau ingin sesuatu yang lain, atau kau ingin menambah pesanan lagi?” Suara Rival terdengar halus yang justru membuat Silvia takut.
Setenang apapun, bagi Silvia ucapan Rival terasa seperti ancaman berbalut perintah yang secara sukarela harus diikuti oleh lawan bicaranya.
“Ti-tidak, Tuan, terima kasih,” jawab Silvia terbata kemudian segera menyantap makanannya.
***
“Tuan, terima kasih atas jamuan makan siang Anda. Kalau begitu saya permisi,“ kata Silvia setelah menyelesaikan makan siangnya, tampak terburu-buru.
“Nona Silvia!” panggil Rival tepat ketika Silvia bangkit membuatnya kembali duduk, menyejajarkan posisi dengan pria itu.
“I-iya Tuan.” Sorot mata Silvia nampak takut, terlebih ketika melihat wajah serius Rival yang seolah akan menelannya hidup-hidup jika dia tak menurut.
“Aku akan mengantarkanmu pulang. Kau tidak membawa mobil bukan?” tanya Rival.
Apa lagi ini?
Silvia merasa benar-benar ingin menghilang dari pria yang terobsesi dengannya ini. Tanpa melakukan apapun, Rival berhasil membuat dia ketakutan dan tak berdaya menolak setiap ucapannya.
“Ba-baik, Tuan.” Silvia mengangguk kaku.
***
Silvia yang sedang bersantai menikmati secangkir teh, menyeringai ketika memikirkan sebuah rencana untuk menyelamatkan diri dari lelaki seperti Rival yang dia yakin akan berhasil.
Sekarang, tepat satu bulan yang lalu semenjak Rival menemuinya pada proses pemotretan tempo hari. Dimulai saat itu pula, Silvia merasa setiap hari dalam hidupnya 'dihiasi' oleh tekanan.
Bagaimana tidak, tanpa mampu menolak, Rival selalu datang ke rumah dan tempat kerjanya hanya untuk mengantar jemput. Selain itu, Rival juga selalu menerornya lewat pesan. Jika Silvia tidak mengangkat telepon darinya, lelaki itu akan segera menyusul ke tempat dia berada.
Sikap posesif Rival benar-benar membuat Silvia tidak nyaman, tetapi dirinya hanya bisa mengatakan hal itu melalui isyarat yang tanpa sepengetahuannya, hal itu dimengerti oleh Rival.
Namun, Rival memilih tak peduli dan meneruskan langkah untuk menggapai tujuannya yakni dengan mengajak Silvia menikah sepekan lalu. Tepat saat itu, sebuah ide muncul di benak model tersebut yang membuatnya menyetujui ajakan tersebut.
Silvia berniat menyuruh seseorang untuk menyamar sebagai dirinya, dan menjadi pengantin pengganti untuk Rival hingga pria itu tak akan lagi mengejarnya.
Lalu sekarang, Silvia telah mendapat gambaran tentang sosok yang dapat menggantikannya sebagai pengantin di hari pernikahan nanti. Tidak lain adalah Ana yang sedang membutuhkan banyak uang. Alasan apa lagi untuk asistennya itu menolak saat dia menawarkan sejumlah uang dengan nominal besar?
***
“Nona, apa maksud Anda?” tanya Ana terkejut mendengar ucapan Silvia yang justru dengan tenang menjawab, “Seperti yang aku bilang, aku akan memberikan uang satu juta dolar, asal kau mau menggantikanku menikah dengan Rival. Kau tidak usah khawatir, setelah kalian menikah, aku akan membantumu untuk kabur dan kita akan tinggal di luar negeri.” Nyatanya semua itu hanyalah kebohongan, dia akan pergi sendiri tanpa sudi merepotkan diri untuk menyelamatkan orang lain dari Rival.
“Bagaimana, apa kau mau? Bayangkan kau memiliki satu juta dolar yang bisa kau berikan pada keluargamu nanti. Mereka akan makmur, dan kau bisa bekerja dengan tenang, menikmati hasil jerih payahmu sendiri. Bukankah ini yang kau inginkan dari dulu, kan?” Silvia berupaya meyakinkan Ana dengan berbagai omong kosongnya. Dia tak akan pernah menyerahkan uang itu pada Ana.
Ana bergeming memikirkan ini. Tawaran Silvia terasa sangat menggiurkan membuat dia berpikir bahwa dengan menerimanya, dia akan hidup tenang tanpa teror dari keluarga terkhusus sang ibu yang terus meminta uang.
Memejamkan mata dan menarik napas, dalam waktu singkat Ana memutuskan untuk mengangguk setuju. “Baiklah Nona. Saya mau.”
Seketika, Silvia bersorak senang. Dia semakin yakin bahwa tujuannya akan berhasil sesuai rencana. Dia menggamit tangan Ana sembari berkata, “Ayo, ikut aku. Kau harus mencoba gaun pengantin yang sudah disiapkan.”
“Tapi Nona, bagaimana jika nanti Tuan Rival mengetahui bahwa kau pergi dan aku yang ... menggantikanmu?” tanya Ana setelahnya, mulai ragu.
“Kau tidak perlu khawatir, Rival tidak akan mengetahuinya sebelum pernikahan. Tudung yang menutupi wajahmu akan dibuka setelah kalian selesai mengucap janji suci pernikahan,” balas Silvia.
Ana bergeming ragu, tetapi akhirnya mengangguk. Dia berusaha percaya bahwa Silvia akan menyelamatkannya.
***
“Apa aku sudah terlihat tampan?” tanya Rival pada Jerome yang merupakan adik sepupunya.
Jerome yang sedang memainkan tab di tangannya, menoleh sekilas. Dia mengangguk kecil. “Hmm, kau sangat tampan.”
“Saudaramu ini akan menikah. Kenapa kau tidak terlihat bahagia?” Rival menatap heran.
“Aku bahagia, sangat bahagia," jawab Jerome tanpa menoleh pada Rival, membuat lawan bicaranya itu berdecih.
“Sudahlah, percuma berbicara denganmu.” Rival menyerah mendapatkan validasi tentang ketampanannya hari ini.
Beberapa saat berlalu, Rival keluar dari ruangan menuju gereja diikuti oleh Jerome dan saudara-saudaranya yang lain.
***
Jantung Rival berdebar kencang kegika melihat wanita yang ia anggap sebagai Silvia, berjalan mendekat ke arahnya sembari menggenggam tangan Jonas.
“Aku titipkan putriku kepadamu,“ kata Jonas setelah berdiri tepat di hadapan Rival. Dia memberikan tangan Ana pada pria itu, tanpa tahu bahwa sosok di sampingnya bukanlah Silvia.
Senyuman mengembang di bibir Rival menghiasi wajah tampannya yang memancarkan kebahagiaan di hari pernikahannya ini. “Aku berjanji, aku akan menjaga putrimu.” Setelah itu, bersama-sama mereka berjalan ke arah altar.
***
Usai melalui serangkaian proses, Rival dan Ana kini resmi menjadi suami-istri. Memenuhi permintaan Silvia, kini Rival menggerakkan tangannya membuka tudung yang menyembunyikan wajah sang istri.
Jantung Ana berdebar kencang, tangannya terasa dingin dengan mata yang turut terpejam ketakutan. Sedetik kemudian, dia merasakan penutup wajahnya telah terbuka sempurna yang berhasil membuat Rival membeku. Dunia pria itu seakan berhenti berputar melihat sosok yang ada di depannya bukanlah Silvia, tetapi orang lain.
Bab 4
Apa yang sebenarnya terjadi?
Pertanyaan besar tanpa jawaban sepatah kata pun itu, terus berputar di benak Rival menuntut penjelasan. Sementara Ana yang tak mendapatkan respon apapun, perlahan membuka mata hingga beradu pandang dengan Rival yang telah menjadi suaminya.
“Tu-Tuan,” ucap Ana terbata membuat Rival tersadar dari lamunannya.
“Kenapa kau ada di sini?” tanya Rival, ”Mana Silvia?!“ Dia berteriak secara tiba-tiba yang mengejutkan para tamu hingga beberapa diantara mereka saling berbisik satu sama lain menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.
“Mana Silvia?!” teriaknya sekali lagi membuat Ana mundur. Wanita itu terlihat pucat dengan tubuh yang dialiri keringat dingin. Dia memberanikan diri mengedarkan pandangan, mencari Silvia yang telah berjanji akan membantunya.
“Mana Silvia?!” bentak Rival untuk ketiga kalinya. Emosi yang sudah dipuncak membuat dia tanpa pikir panjang mencekik leher Ana. Wanita itu terus memukuli lengan Rival sekuat tenaga untuk melepaskan cengkraman di leher yang membuatnya tak bisa bernapas. “Tu-Tuan.”
“Tu-Ttuan!” panggil Ana lagi dengan napas tersenggal nyaris habis. Namun bukannya berhenti, Rival justru memperkuat cekikan hingga Ana bisa merasakan kuku-kuku pria itu yang tertancap di kulitnya.
Rahang Rival mengeras dengan wajah yang memerah karena gemuruh kuat amarah di dalam dadanya. Setelah puas mencekik Ana, dia menghempaskan wanita itu hingga jatuh sembari terbatuk-batuk. Kemerahan akibat kuku nampak jelas di lehernya.
“Tahan wanita ini!” titah Rival. Beberapa anak buahnya bergegas naik ke altar dan memegang tangan Ana. Pria itu menoleh pada Jonas yang berada di kursi paling depan. Wajah pria paruh baya itu nampak pucat menyadari bahwa akibat perjodohan, Silvia berbuat nekad dengan melarikan diri dan menjadikan Ana sebagai penggantinya.
Rival melompat dari altar membuat Jonas berlari dari sana. Namun, dia terlalu lambat dibandingkan suami Ana tersebut yang kini berhasil menghadang jalan membuat dia terjebak.
“Berani-beraninya kau mempermainkanku!” Lagi-lagi Rival mengangkat tangan untuk mencekik leher Jonas tanpa peduli siapa dia yang dia pikir telah bersekongkol dengan Silvia dan istrinya sekarang.
“Beraninya kau membohongiku. Di mana anakmu sekarang? Bukankah sudah kubilang jangan main-main denganku, huh?!” Rival berteriak bagai kesetanan.
Tidak seorang pun berani menghentikan amukan Rival, termasuk orang tuanya yang hanya bergeming di tempat menyaksikan kekacauan ini. Mereka jelas tahu bahwa anaknya bukan tipe orang yang bisa diatur bahkan oleh siapapun, terlebih dalam keadaan dikuasai emosi seperti ini.
Sedangkan Jonas, dirinya begitu pasrah tanpa melakukan perlawanan sedikit pun. Rasa takut membuatnya tak berdaya di hadapan Rival.
Rival kemudian melepaskan cekikannya kemudian mendaratkan pukulan di pipi Jonas, membuat pria paruh baya itu terhuyung dan jatuh menghantam lantai. Dia menatap lelaki tua itu penuh dendam sembari merapikan jas pengantin yang dipakai. Dia sadar tak ada gunanya berdiam di sini dan terus mengamuk.
“Bawa wanita itu!” perintah Rival menunjuk Ana yang semakin pucat. Sekuat tenaga dia berusaha melepaskan diri dari cekalan anak buah sang suami sembari berteriak kencang hingga suaranya nyaris habis. “Lepaskan aku!”
“Silvia, keluar kau. Bukankah kau akan menyelamatkanku?!” Ana mengedarkan pandangan penuh harap, bertanya pada keheningan di tengah ramainya orang sembari berteriak, membuat Rival yang hendak meninggalkan gereja seketika berhenti. Dia berbalik dan bergegas mendekati altar dan berdiri di hadapan istrinya.
“Jadi ... kalian sengaja membohongiku?!” tanya Rival dengan suara keras sembari mencengkeram pipi Ana yang terdiam tanpa sanggup menjawab. Persediaan kata di otaknya seolah hilang begitu saja karena rasa takut yang menyelimutinya semakin tebal, saat beradu tatap dengan mata Rival, hingga tak ada yang bisa dia lakukan selain diam.
“Bawa lelaki tua itu!” kata Rival pada anak buahnya yang lain sembari menunjuk Jonas. Mereka langsung bergerak menyerbu pria tua itu.
Sekali lagi, dengan alasan apapun dia tidak akan mengampuni orang yang telah mengkhianati kepercayaannya, termasuk pula Jonas.
Rival mengalihkan pandangan pada Ana yang menangis kesakitan. Dia mendorongnya sembari melepaskan cengkeraman yang menyisakan jejak merah di pipi wanita malang itu.
“Bawa wanita ini ke tempat biasa!” titah Rival kemudian berlalu pergi meninggalkan anak buahnya bersama Ana yang mulai dirundung penyesalan.
Seandainya waktu bisa diputar, maka Ana yakin dia tidak akan menerima tawaran Silvia, sebesar apapun jumlah kompensasi yang dijanjikan atas konsekuensi yang dia jalani.
***
Silvia masuk ke dalam apartemen. Senyum mengembang di bibirnya disertai helaan napas lega. Akhirnya setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan, dia tiba di luar negeri nun jauh dari tempat asalnya.
Silvia menaruh koper kemudian duduk di atas sofa. Dia merogoh tas dan mengeluarkan ponsel untuk menelepon seseorang. “Halo, bagaimana, apa pernikahan mereka sudah berjalan?” tanyanya terdengar ringan, membuka obrolan dengan Samanta yang baru saja mengangkat panggilannya.
“Seperti yang kau tebak, Rival mengamuk di altar,” jawab Samanta berbisik karena masih berada di gereja dan menyaksikan kemarahan Rival.
“Ya sudah, aku akan menelponmu nanti.” Silvia mematikan panggilan dan menyimpan ponsel itu di sampingnya.
“Jangan salahkan aku, Ana. Kau yang naif, kau begitu bodoh, mau saja aku bohongi,“ lirih Silvia yang kini bergidik ketika membayangkan sehancur apa nasib Ana di tangan Rival yang sudah menjadi suaminya. Namun begitu, jangan berharap meski hanya setitik rasa iba dan bersalah hadir di hatinya yang selalu mendahulukan diri sendiri.
Silvia kembali mengambil ponsel untuk memeriksa rekening pribadinya. Dia tersenyum melihat nominal uang yang tertulis di layar. Meskipun tak bekerja, tetapi tabungan yang dia miliki sudah cukup untuk biaya hidup di sini selama beberapa tahun ke depan.
Setelah puas beristirahat, Silvia bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Dia berniat menyegarkan diri sebelum memesan makanan nanti.
***
Iring-iringan mobil terlihat ramai di jalan raya. Mobil yang membawa Rival atas kendali sopirnya, nampak mendahului kendaraan para anak buahnya. Rival yang duduk di kursi penumpang, memejamkan mata berusaha mengatur emosi yang masih meledak-ledak.
Berkali-kali Rival menghembuskan napas kasar. Marah dan kecewa bercampur aduk lantaran dia yang telah berharap banyak pada Silvia saat gadis itu bersedia menjadi istrinya.
Pengkhinatan adalah hal yang dibenci seorang Rival. Sedikit pun dia tidak akan menerima kebohongan yang terjadi tanpa sebuah pembalasan. Dia bertekad akan memberikan Ana pelajaran yang tak terlupakan seumur hidupnya, juga mencari Silvia kemana pun wanita itu berada bahkan pada tempat sekecil lubang semut sekalipun.
***
Bab 5
“Cepat bawa dia masuk!” titah Rival saat dia bersama para anak buahnya tiba di parkiran apartemen. Beberapa mobil yang mereka bawa nampak tersusun rapi dalam satu baris.
Anak buah Rival yang membawa Ana di dalam mobilnya, mengangguk patuh. Dia membukakan pintu kursi penumpang tempat Ana yang merupakan istri tuannya berada.
“Ayo turun!” perintahnya sembari mengenggam Ana yang menggeleng enggan. “Tidak, aku tidak mau turun!” Ana beringsut mundur, mengerahkan seluruh tenaganya untuk bertahan dari cengkraman tangan anak buah Rival, meskipun akhirnya dia berhasil ditarik keluar mobil. Dia kemudian diseret untuk masuk ke dalam apartemen.
“Tuan, apa yang harus saya lakukan sekarang?” tanya Gerry setelah menyaksikan Ana yang dibawa paksa ke dalam sana.
Rival mengalihkan pandangan dari sekumpulan anak buahnya, dan dengan tegas menolak bantahan dia berkata, “Cari Silvia sampai ketemu, dan bawa dia ke hadapanku.”
Setelahnya, Gerry pergi meninggalkan Rival yang berlalu masuk ke dalam apartemen. Dia melangkah menuju dapur kemudian membuka kulkas. Tangannya meraih satu kaleng soda dan meneguknya hingga tandas.
Rival bergeming. Dia meremas kaleng soda itu hingga nyaris tidak berbentuk. “Silvia!” sebutnya geram sembari melempar penuh amarah kaleng di tangannya itu ke tembok. Dia segera keluar dari dapur menuju sofa, berniat mengambil jeda sejenak sebelum memberi Ana hukuman.
***
“Buka! Buka!” Ana berteriak histeris sembari menggedor pintu, ketika anak buah Rival menguncinya sendirian di dalam sebuah kamar. Sekuat tenaga, dia mendobrak pintu berharap terbuka tapi hasilnya sia-sia.
Ana benar-benar terjebak, dalam dunia Rival.
Ana akhirnya berhenti mencoba, dia menyerah dan tubuhnya luruh menyentuh lantai. Dia memeluk lutut dan menangis sejadi-jadinya.
“Ana, kenapa kau begitu bodoh?!” rutuk Ana menyalahkan diri sendiri. Bisa-bisanya dia percaya begitu saja pada Silvia yang memberi janji sebesar itu tanpa bukti apapun. Bahkan tanpa diduga tawaran emas itu berakhir pada jurang kesengsaraan.
Ana yang teringat sesuatu di tengah tangisnya, segera bangkit. Dia mengangkat gaun pengantin yang masih melekat di tubuh, kemudian merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Dia mendapat sebuah pesan baru dari Silvia.
[Terima kasih karena kau telah menggantikanku menikah dengan Rival. Aku tidak akan pernah melupakannya. Oh, ya. Aku juga tidak tahu kapan aku akan mengirim uang satu juta dolar yang telah aku janjikan. Jadi jangan menunggunya dan jalani saja hidupmu beraama Rival dengan bahagia.]
Lutut Ana bergetar lemas membuatnya kembali ambruk karena pesan Silvia. Dia benar-benar merasa hidup di ujung tanduk. Sekarang semuanya sudah hancur dan ... selesai.
Ana telah ditipu. Tidak ada uang satu juta dolar untuknya, tak ada hidup bahagia setelahnya, tak ada keluarga yang makmur dan ketenangan yang didambakan. Hal yang tersisa hanya kenyataan pahit, bahwa tanpa disadari dia telah menjadi tumbal Silvia akibat keputusannya sendiri.
“Tuhan .... aku harus bagaimana?” lirih Ana dengan suara parau dan pipi yang basah oleh deraian air mata penderitaan.
***
Dua puluh menit berlalu, otak Rival sedikit sejuk. Tubuhnya pun terasa lebih rileks, membuat dia bangkit, melepas jas dan melemparkannya ke sembarang arah kemudian berlalu menuju kamar tempat Ana berada.
Begitu tiba di hadapannya, Rival membuka kunci pintu kamar yang menggantung di luar, membuat Ana yang terduduk di lantai langsung menoleh.
Tubuh Ana bergetar, dia beringsut mundur sedangkan Rival menyeringai puas menyaksikannya. Pria itu berniat memulai siksaan dengan 'bersenang-senang'.
“Tuan,“ panggil Ana dengan bibir bergetar tanpa bisa mendefinisikan ketakutan yang dia rasa sekarang. Rival tak menjawab, dia hanya membuka dasi dan kemeja memperlihatkan dadanya yang ditumbuhi dengan bulu-bulu halus.
“Bangun.” Rival berucap tenang. Dia melepaskan sabuk yang melingkari pinggang kemudian berteriak kepada Ana. "Bangun!"
Ana membeku, membuat Rival yang kehilangan kesabaran, mencambuknya dengan sabuk tersebut hingga berteriak kesakitan. "Aaaa!"
Bukan hanya fisik, batin Ana pun turut menjerit. Dia tidak bisa membayangkan nasibnya yang dia tidak yakin akan baik-baik saja hidup di tangan kejam dan kasar seorang Rival.
“Cepat bangun sebelum aku menyiksamu lebih parah dari ini!” bentak Rival yang berhasil membuat Ana bangkit di tengah rasa sakitnya.
Rival kembali menyeringai, dia segera mendekati Ana dan dengan kasar, mendorongnya hingga terjatuh ke ranjang membuat wanita malang itu meringis.
“A-apa yang akan Anda lakukan?” tanya Ana terbata, ketakutan semakin tebal menyelimuti menyisakan gemetar hebat di tubuhnya.
“Seharusnya, kau tidak bermain-main denganku. Mulai sekarang kau tidak akan bisa lari dariku dan harus menerima apapaun balasan dari apa yang telah kau lakukan.” Setelah mengatakan itu, Rival membungkuk kemudian merobek paksa gaun pengantin yang dipakai Ana yang refleks berteriak.
Rival menggulingkan tubuh ke samping Ana, menatap istrinya yang tak sadarkan diri sembari tersenyum sinis. Dia melakukannya dengan cukup kasar membuat wanita itu shock berat dan kehilangan kesadaran.
Mulai sekarang, Ana telah kehilangan semuanya. Kehilangan hidup, kebahagiaan juga kebebasan. Di saat saat Rival merobek gaunnya, detik itu pula dia turut kehilangan kesuciannya secara paksa.
Setelah mengatur napas, Rival bangkit dan menoleh ke belakang. “Tidak buruk juga,“ ucapnya memperhatikan tubuh Ana dari bawah hingga atas.
Rival tersenyum singkat. Dia merasa cukup terhibur mendapati perempuan yang masih suci, tetapi itu tak akan merubah dia menjadi berbaik hati kepada Ana hanya karena tubuhnya. Sampai kapan pun, dia tak akan pernah membuat hidup wanita itu tenang.
Ana menjadi milik Rival tanpa kehendaknya, yang berarti secara sukarela dia menyerahkan diri untuk berada di genggaman Rival kemudian mempertanggung jawabkan semua yang terjadi, begitulah pikir pria berusia tiga puluh tahun itu.
Rival memakai kembali kemejanya, setelah selesai, dia berlalu pergi sembari menarik pintunya dari luar. Di saat itu, Gerry tiba-tiba datang menghampiri.
“Bagaimana, apakah kau sudah menemukan jejak Silvia?” tanya Rival tidak sabar.
Gerry menggeleng. “Kami tidak menemukan jejak Nona Silvia di mana pun sekarang. Sepertinya, Nona Silvia sudah mengetahui hal ini akan terjadi, dan dia bertindak dengan rapi tanpa meninggalkan jejak di negeri manapun.” Setelah menjawab, atas perintah Rival, Gerry berlalu ke dapur untuk mengambil sekaleng soda dan menyerahkannya kepada Rival yang kembali meminumnya hingga tandas.
“Cari dan kejar dia sampai dapat,” tegas Rival pada Gerry, “Aku tidak mau tau, bawa dia ke hadapanku entah dalam keadaan hidup bahkan mati sekalipun.”
***
Bab 6
Ana mengerjap, matanya menatap langit-langit kamar. Sesaat pikirannya kosong hingga bayangan-bayangan kejadian mengerikan sebelum dia kehilangan kesadarannya terputar di dalam benak.
Air mata luruh membasahi wajah Ana. Kesakitan di seluruh badannya kembali terasa akibat cambukan kuat sabuk oleh Rival, juga akibat kebrutalan pria itu saat mengambil kesuciannya.
Hari bahkan belum selesai, tetapi Rival berhasil menyiksa Ana secara fisik dan mental dengan begitu sempurna. Dia menoleh ke samping dan perlahan-lahan mengubah posisinya berbaring ke kanan.
Pelan-pelan Ana menggerakan tangannya meraih selimut, yang dia gigit sekuat tenaga untuk meredam tangisnya yang kembali pecah. Bayangan awal mula petaka ini terjadi kembali berputar di ingatan Ana membuat penyesalan menancap semakin kuat.
Seseorang tolong katakan, apa yang harus Ana lakukan sekarang? Dia sangat ingin melarikan diri dari cengkraman Rival.
"Tuhan ...," lirih Ana, meratap ditengah rasa sakitnya luar biasa, juga mengharap keajaiban terjadi dan menyelamatkannya dari penderitaan ini, meski dia tahu bahwa itu hanyalah khayalan.
***
Seorang pria tampan nampak berjalan pergi meninggalkan kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya, menuju ruang ganti yang biasa disebut walk in wardrobe. Dialah Rival yang kini berdiri di depan kaca usai menggunakan kaus pendek dan celana panjang.
Rival menyisir rambut yang tampak klimis. Di tengah keheningan, dia kembali teringat dengan kekacauan pada pernikahannya yang membuat dia menyadari sesuatu.
Di tengah rasa marahnya pada Silvia, terselip rasa senang ketika dia berhasil merengg ut kesucian Ana. Diingat-ingat, ini adalah yang pertama kalinya untuk Rival.
Rival menurunkan tangannya, masih dengan menatap cermin, dia menyeringai ketika sebuah ide untuk menjadikan Ana sebagai teman ranjangnya, mendarat di benak.
Rival menyimpan sisir ke sembarang tempat, kemudian keluar dari sana menuju meja makan, berniat mengisi perutnya yang lapar terlebih dahulu.
Rival menarik kursi dan duduk di sana. Para pelayan berdiri di sekitarnya bersiap memberikan pelayanan terbaik mereka.
Di saat Rival akan menyuapkan makan malamnya, pandangan pria itu tertuju pada kamar tempat Ana dikurung sejak berjam-jam yang lalu.
Rival mengalihkan pandangannya pada salah satu pelayan dan bertanya, "Apa kalian belum memberi makan wanita itu?"
Pelayan itu menggeleng. "Belum Tuan, kami menunggu perintah dari Tuan."
Kedua sudut bibir Rival seketika terangkat membentuk seringai penuh makna. Dia memiliki ide yang bagus untuk menyiksa Ana sebagai balasan atas tindakannya.
"Kalian boleh keluar." Rival melirik para pelayannya yang dalam hitungan detik, telah meninggalkan ruangan membuat Rival sendirian..
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Rival kembali mengisi piring itu dengan nasi dan lauk pauk yang terhidang. Dia meraih gelas berisi air kemudian membawa keduanya ke kamar tempat Ana berada.
Rival menempelkan jempolnya pada tempat sidik jari membuat pintu terbuka seketika. Dia melangkah masuk hingga bisa melihat Ana yang meringkuk dengan mata terpejam.
Usai menangis tadi, tanpa sadar Ana kembali tertidur dengan kondisi tubuh yang lemas tak bertenaga.
"Bangun!" Rival berteriak sembari menyiram wajah Ana dengan air di gelas membuat wanita itu langsung terbangun.
Ana seketika bangkit, dia mendongak melihat Rival dengan wajah memucat. Tatapan pria itu seolah binatang buas yang berniat memangsanya.
"Tu-Tuan," ucapnya terbata tanpa berani bergerak sedikit pun.
Rival bergeming, memperhatikan ekspresi Ana yang membuatnya merasa puas tanpa alasan yang jelas. Dia tersenyum miring berhasil mendapatkan 'mainan' baru.
Rival tiba-tiba melemparkan piring yang dibawanya ke ranjang membuat makanan tumpah berserakan di atasnya.
Ana yang terkejut, menatap ranjang bergantian dengan wajah Rival yang tanpa dosa. Pria itu sekarang justru berkata, "Makan ini dan habiskan semuanya."
Ana membulatkan mata, sorot matanya nampak tidak percaya atas perintah Rival. Pria itu benar-benar menurunkan derajat Ana yang terlahir sebagai manusia, dengan membuatnya merasa seperti hewan dengan mengisi perut memakan nasi yang sudah bercampur dengan air, debu pada sprei dan lain-lain.
"Tu-Tuan." Ana menatap Rival menyiratkan harap mendapat belas kasihan pria itu yang justru berkata, "Jika kau tidak menghabiskannya, jangan harap perutmu kenyang selama satu minggu ke depan."
Tanpa mempedulikan bagaimana nasib Ana selanjutnya, Rival berbalik pergi dan kembali mengunci kamar dari luar.
Usai kepergian Rival, tangis Ana kembali pecah. Air mata berlinang membasahi pipinya. Keadaan begitu menyeramkan hingga dia bahkan tidak bisa mendapatkan sekadar air yang layak untuk diminum sebagai manusia. Lalu sekarang, dia benar-benar harus menghabiskan makanan yang berserakan di ranjang dengan ancaman.
"Tuhan, kenapa harus seperti ini?" ratap Ana yang tidak bisa melakukan apapun selain menyebut nama Tuhan. Berkali-kali dalam bayangnya dia mengharap bisa memutar waktu dan keadaan bisa kembali seperti semula.
Ana kini mengerti, bahwa bekerja banting tulang siamg malam untuk memenuhi ego keluarganya jauh lebih baik dibandingkan ini. Setidaknya dia masih mendapat perlakuan sebagai manusia, bukan binatang.
***
Rival duduk di sofa, dia nampak fokus memainkan ponselnya. Tidak berapa lama dari itu, derap langkah terdengar mendekat mengalihkan perhatiannya pada sumber suara yang ternyata adalah Jerome.
"Apa yang sedang kau lakukan Rival?" Jerome bertanya mendahului ketika keduanya beradu pandang. Pria itu telah mencari Rival kemana-kemana termasuk rumah orang tuanya, dan ternyata pria itu berada di sini.
"Kenapa?" Rival menatap saudaranya santai.
"Apa kau menyiksa gadis itu?" Jerome mengedarkan pandangannya mencari Ana.
"Bukan urusanmu." Rival menjawab tak acuh. "Pergi sana jika kau hanya datang untjk menceramahiku," usirnya yang tahu pasti bahwa Jerome hobi bicara yang pasti membuat telinganya panas.
Alih-alih menuruti perkataan tuan rumah untuk pergi, Jerome justru berjalan semakin dalam ke apartemen Rival berniat mencari Ana dan menyelamatkan gadis malang itu.
Namun sayang, setelah lama mencari Jeroma tak sedikit pun menemukan jejak Ana, sampai akhirnya dia menatap pintu kamar yang tertutup. Merasa ada secercah harapan di sana, dirinya cepat mendekat dan menempelkan telinganya yang berhasil mendengar suara isa tangis.
"Rival, apa yang kau lakukan?!" Jerome berteriak pada Rival dari tempatnya berada sekarang. Suami Ana yang melihatnya dari sofa, dengan tenang bertanya, "Bukankah sudah kubilang jangan mencampuri urusan orang?"
Jerome mengabaikan Rival dengan kembali menghadap pintu, sekuat tenaga berusaha membukanya meski sia-sia. Tidak ada cara membuka pintu itu selain dengan sidik jari dan itu pun menggunakan milik Rival.
Jeroma menghela napas frustasi. Dia berlalu pergi dari pintu dan mendekati Rival. "Rival, apa yang ada di pikiranmu hingga bertindak sebodoh ini?!" teriaknya.
"Sudah kubilang bukan urusanmu, pergi sana!" Rival bangkit kemudian mendorong dada Jerome, dia berlalu pergi meninggalkan sepupunya tersebut.
Rival sama sekali tak khawatir, dia percaya dengan keamanan pintu tersebut hingga Jerome tak akan berhasil membukanya dan membebaskan Ana.
Jerome mengacak rambutnya, dia berjalan bolak-balik memikirkan cara untuk membebaskan wanita yang merupakan istri sepupunya tersebut. Rival benar-benar gila. Seandainya yang terkurung adalah pria, dia tidak akan peduli.
Namun yang terjadi sekarang, Rival mengurung seorang wanita yang bahkan tak bersalah. Kenyataan itu membuatnya merasa bertanggung jawab untuk melepaskan wanita itu dari cengkeraman Rival, tapi ... dengan cara apa?
Bab 7
Jerome duduk di sofa berniat memberi jeda pada otaknya dari berpikir, tetapi yang terjadi dia bahkan tak bisa berhenti mencari cara untuk meloloskan Ana dari 'penjara'.
Jerome menghela napas, berusaha tenang. Segala upaya telah dia lakukan termasuk pintu kamar, termasuk meminta pengawal yang berjaga agar membantunya mendobrak pintu meski sia-sia. Mereka tentunya masih waras untuk tidak mengorbankan diri menggantikan posisi Ana yang terkurung, dan kemungkinan dibawa bersama para pengkhianat yang dihujani siksaan setiap harinya.
Jerome juga tidak punya tempat untuk mengadukan semua ini. Berbicara kepada orang tua Rival pun dia tidak yakin mereka bisa bertindak. Bahkan jika dirinya melapor polisi pun percuma, tidak akan ditangani dengan alasan bahwa mereka suami istri.
"Argh!" Jerome menggeram kesal, rambutnya nampak berantakan dengan hati yang menggebu membebaskan Ana. Dia paling tidak bisa melihat seorang wanita tersiksa di depan matanya tanpa dia bisa menolong.
Jerome dengan ide mengeluarkan Ana yang masih buntu, bergegas bangkit dan mendekati pintu kamar tempat wanita itu berada.
"Nona?" panggil Jerome yang dijawab oleh keheningan.
"Nona," sebutnya sekali lagi.
***
Ana yang baru saja menyelesaikan makannya, pergi ke kamar mandi yang ada di dalam sana untuk minum air keran agar dahaganya hilang usai menghabiskan makanan yang membuatnya nyaris muntah berkali-berkali karena jijik.
Setelah selesai, Ana keluar dari kamar mandi. Samar-samar dia mendengar suara pria yang seolah memanggil. Cepat-cepat dia mendekat dengan mata berbinar penuh harap.
"Tolong, aku ada di sini!" Ana mengeraskan suaranya, dia tidak tahu siapa yang berada di luar, tetapi dia yakin sosok itu bisa menyelamatkannya.
"Nona bisa mendengarku?" tanya Jerome antuasias ketika mendapat respon. Ana mengangguk cepat. "Iya Tuan, tolong bebaskan aku dari sini," ucapnya sedikit berteriak agar Jerome bisa mendengar dia dengan baik.
"Kau tenang saja ya, aku akan mencari cara untuk membebaskanmu," kata Jerome.
Ana tersenyum, tubuhnya merosot dan terduduk di lantai. Dia yang sejak tadi hanya mampu meratap, merasa bahwa ini merupakan bagian dari keajaiban yang sejak tadi dia harapkan.
"Percuma saja kau berteriak-teriak untuk menyelamatkannya, itu tidak akan terjadi."
Arah suara yang berasal dari belakangnya, membuat Jerome berbalik. Dia melihat Rival yang memperhatikan dari kejauhan dengan senyum miring.
"Diam kau, cepat kemari."
Rival mengangkat bahu tak acuh dengan raut wajah yang menyebalkan di mata Jerome. "Memangnya kau siapa? Pergi sana sebelum aku meminta para pengawal untuk menyeretmu dari apartemenku."
Perdebatan tidak berhenti, membuat Jerome yang terpikir cara lain membebaskan Ana, berhenti bicara. Tidak akan ada akhirnya jika terus seperti ini, membuat pria itu banting stir pada jalan lain.
Jerome sebagai satu-satunya sosok yang berani bernegosiasi dengan Rival, di saat orang tuanya pun mengaku tak mampu. Dia berjalan mendekat hingga keduanya berdiri berhadapan.
"Rival dengar, bukannya aku ingin sok bijak tapi aku merasa bahwa perempuan yang kau sembunyikan di kamar itu sama sekali tidak berdosa. Aku mengerti perasaanmu, dan aku rasa seharusnya kau melampiaskan semua itu kepada Silvia bukan Ana."
Mendengar nama Silvia, rahang Rival mengeras. "Tutup mulutmu Jerome! Jangan pernah menyebut nama sialan itu di hadapanku lagi!" tegasnya nampak marah.
Cinta di hati Rival terhadap Silvia telah hilang sepenuhnya. Getaran aneh yang dulu mengguncang hatinya saat mendengar nama Silvia, kini tak lagi terasa. Dalam setiap pertemuan, Rival selalu ingin keduanya dalam suasana yang harmonis dan romantis, tetapi kini dia berharap berharap mereka bertemu dengan kondisinya yang senang karena beehasil menghukum wanita itu.
"Maaf, aku tidak sengaja. Tapi aku mohon, lepaskan wanita yang ada di kamarmu itu. Dia tidak bersalah, kau bisa mencari Sil—maksudku penghianat itu tanpa menyiksa istrimu sendiri, 'kan?"
"Kau pikir aku anak kecil yang mau menuruti perintahmu? Pergi sana, kehadiranmu hanya membuat kepalaku semakin pusing."
Jerome bergeming, kekejaman Rival kepada para pengkhianatnya kembali terbayang di benak Jerome yang tidak akan tenang sebelum Ana keluar dari sana.
"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu Jerome, kumohon pergilah dari sini dan jangan kembali jika kau hanya ingin mengurusi wanita yang sudah menjadi istriku."
Jerome pun mengalah, setidaknya untuk sementara sembari terus berpikir. Dia berlalu pergi dari sana meninggalkan apartemen Rival setelah berkata, "Baiklah, aku mengerti amarahmu tapi tolong jangan perlakukan istrimu sebagai para pengkhianat lainnya, dia tak bersalah sepenuhnya."
Setelahnya, Jerome pergi dari hadapan Rival yang mengusap wajah kemudian duduk di sofa berniat untuk tidur, tetapi matanya seolah menolak terpejam karena bayangan Silvia yang menari-nari di benak. Kali ini bukan dengan suasana yang indah, melainkan sebaliknya yang membuat Rival begitu ingin bertemu dan meremukkan tulang-tulang wanita itu.
Setengah jam berlalu, Rival yang masih belum bisa terlelap memilih bangkit. Dia berjalan ke kamar dan membuka pintu itu dengan sidik jarinya.
Ketika itu, Rival mendapati istrinya yang terduduk di lantai dengan keadaan terlelap, masih dalam posisi yang sama semenjak berbicara dengan Jerome tadi.
Ketika Rival masuk, Ana merasa dirinya tak memiliki tenaga untuk sekadar mengangkat kepala yang bersandar ke tembok.
"Bangun," ucap Rival.
Ana bergeming, tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Rival yang merasa diabaikan, cepat berteriak, "Bangun!"
Ana memaksakan diri membuka mata, dia menarik kepala yang tertempel pada tembok hingga ekor matanya menyadari pintu yang terbuka. Kesempatan untuk dia bisa melarikan diri.
Adiya perlahan-lahan bangkit dengan Rival yang terus memperhatikannya. Dia menarik napas mengumpulkan kekuatannya dan mencoba berlari. Namun Rival yang sudah membaca ituz menggagalkan upaya pelariannya.
"Kau mau kabur, hah?!" Rival bertanya sembari menangkap tubuh Ana dan mendorongnya hingga wanita itu termundur beberapa langkah.
"Tu-tuan." Bibir Ana nampak bergetar. Rival menutup pintu kemudian berjalan mendekat pada istrinya yang nampak ketakutan. "Sudah berani ya, kau kabur dariku, hm?"
Emosi Rival perlahan naik hinnga menguasainya, membuat dia kembali menjadi sosok yang kasar. Dia menarik tangan Ana dengan keras dan Ana menyeretnya ke kamar mandi. Tanpa perlawanan, dia menghempaskan tubuh wanita itu hingga terjatuh ke lantai. "Bersihkan dirimu, cepat. Setelah itu layani aku," ucapnya kemudian keluar dari kamar mandi meninggalkan Ana yang kembali menangis mendengar permintaan pria itu untuk melayaninya.
Setelah beberapa saat, Ana mencoba bangkit. Tertatih-tatih, dia berjalan ke arah shower dan menyalakannya hingga air mengalir membasahi tubuhnya yang masih mengenakan gaun.
Lutut Ana tertekuk hingga perlahan-lahan dirinya terduduk di lantai kamar mandi. Dibawah guyuran air, kepalanya menoleh ke samping dan melihat sebotol pembersih serangga yang nampak melambai memanggil seolah meminta Ana untuk meminum dirinya. Apakah ini jawaban Ana atas penderitaan-penderitaan di hidupnya?
Bab 8
Ana terus memandangi botol racun serangga itu, sembari perlahan-lahan bergerak mendekat dengan menyeret kakinya. Sedikit bergetar, tanganya meraih botol tersebut dan mulai membuka tutup berwarna biru yang membatasi pandangannya dengan cairan hijau di dalam sana.
Ana menatap lekat cairan berwarna di dalam botol tersebut dengan sebuah pertanyaan yang terlintas di batinnya, 'Tuhan, haruskah aku benar-benar menyerah? Aku merasa tidak sanggup melalui siksaan-siksaan yang diberikan, meskipun dia merupakan suamiku sendiri.'
Perlahan tetapi pasti, tangannya bergerak membawa botol itu mendekat. Ana memejamkan mata hingga dia merasakan bibirnya bersentuhan dengan ujung benda tersebut. Namun secara tiba-tiba, bayangan tentang Kris dan sang ibu bergantian hadir di benak.
'Ana, Ibu butuh uang untuk membayar ini '
'Ana, Ibu butuh uang untuk membayar itu.'
'Bisakah kau transfer untuk kami makan?'
Ana membuka matanya dan menurunkan tangan, membawa botol tersebut menjauh dari bibirnya. Air mata tiba-tiba mengalir membasahi pipi. Dia memang kesal dijadikan sapi perah oleh keluarganya, tetapi dia tak bisa membayangkan seperti apa mereka saat dia mati. Siapa yang akan memberi makan pada mereka? Siapa yang menjamin biaya sekolah Kris?
Ana melemparkan botol tersebut hingga sebagian isinya berhamburan keluar. Dia terbatuk dan memukul dadanya yang terasa sesak. Berkali-kali dirinya menghantamkan kepala ke tembok sembari berteriak kencang.
Ana benar-benar putus asa. Dia tak ingin hidup, tetapi rasanya kehidupan membuat dia tak bisa untuk mati.
Aksinya berhenti ketika mendengar suara pintu terbuka yang mulanya dia pikir adalah Rival. Ana mengusap air matanya dan mematikan shower. Ternyata yang datang ialah Sofia, pelayan Rival yang merasa jijik kepada Ana
Alasannya tidak lain karena selama ini, Rival tidak pernah membawa wanita ke dalam apartemen, hingga perasaan cinta hadir di hati Sofia. Bukan tak jarang dirinya menggoda Rival berharap mendapatkan hati pria itu, meski semua hanyalah sia-sia. Hal ini membuatnya muak dan membenci Ana meski di sisi lain, merasa senang karena Ana tidak diperlakukan dengan baik oleh Rival.
"Aku datang ke sini membawa gaun yang harus kau pakai. Cepat selesaikan mandimu karena Tuan sedang menunggu." Sofia berucap ketus. Tanpa menunggu jawaban, dia kembali pergi dari kamar sembari membanting pintu membuat Ana memejamkan mata. Dia sudah cukup lelah dengan suaminya, dan sekarang malah Sofia yang bertingkah menyebalkannya.
Memikirkan nasibnya, Ana tiba-tiba tersadar akan sesuatu yang membuat dia bertekad, setelah ini dirinya akan bicara pada Rival, mmeminta pria itu untuk membiayai keluarganya hingga kehadiran dia di sini tidak sia-sia. Ana rela menjadi tawanan asalkan keluarganya tidak kelaparan.
Ana akan mencoba bernegosiasi, meskipun dia tidak tahu, akankah keberanian untuknya bernegosiasi nanti ada saat benar-benar berhadapan dengan Rival?
Namun yang pasti, memikirkan tentang keluarga entah dari mana membuat Ana kembali semangat menjalani hidup. Wanita itu bangkit, melepaskan gaun dan berjalan ke arah shower untuk membersihkan tubuh dengan benar.
Lima belas menit berlalu, Ana selesai dengan kegiatannya. Dia keluar dari kamar mandi, dan ketika itu, keningnya berkerut melihat sprei yang tadi kotor karena ceceran makanan, kini sudah bersih dan rapi.
Mungkinkah pelayan tadi yang membersihkan?
Ana berjalan mendekati ranjang, dia melihat sebuah kotak yang setelah dibuka ternyata berisi gaun tidur yang cukup tipis. Tangan Ana bergetar mengenggamnya tanpa sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padanya sekarang.
Wajah Ana mulai pucat memikirkan apa yang akan dilakukan Rival.
"Cepat pakai itu, Tuan menunggumu di kamarnya," ucap Sofia yang tiba-tiba masuk mengejutkan Ana terkejut hingga tabpa sengaja menjatuhkan gaun di genggamannya.
Sofia yang melihat itu, mengerutkan kening. Dia mendekat dan mengambil gaun tersebut sembari berkata, "Ini ... pantas untuk ****** sepertimu."
Ana menggigit bibir menahan sakit akibat perkataan Sofia. Dia langsung merebut gaun itu dari tangan pembantunya dengan tatapan tak suka. "Jaga mulutmu, aku ini istri dari tuanmu. Mudah bagiku untuk membuatku kehilangan pekerjaan hanya dengan aduan," ucapnya berusaha menakuti. Sudah cukup Rival yang menginjak harga dirinya, tetapi tidak dengan pelayan.
Namun bukannya takut, Sofia justru tertawa. Wanita yang menggunakan seragam khusus pelayan itu, tanpa kata berbalik dan keluar dari kamar meninggalkan Ana sendirian yang kembali duduk di tepi kasur, mengatur napasnya yang memburu karena emosi.
***
Ana berdiri di depan cermin, memperhatikan dirinya yang telah memakai gaun pemberian Rival tadi yang benar-benar membuatnya merasa malu. Seumur hidup, ini kali pertama dia memakai gaun sependek ini. Diam-diam dia mengakui, ucapan Sofia benar. Jika bukan untuk suaminya, dia tampak seperti perempuan murahan seksranb.
Ana menghela napas, dia mengepalkan tangan dan berdoa, "Tuhan, lindungi aku."
***
Ana meringis saat menyentuh luka di tubuhnya akibat cambukan tadi. Mengabaikan itu, dia kemudian berbalik menuju pintu yang tidak dikunci. Meskipun begitu, dia tak langsung membukanya melainkan mengintip untuk melihat situasi di luar sana yang cukup sepi.
Tunggu, bukankah ini keadaan yang bagus untuk melarikan diri?
Namun sebelum niat itu terealisasi, dari pantulan kaca dia melihat siluet orang-orang yang merupakan pengawal Rival. Sepertinya mustahil untuk dia keluar tanpa bantuan siapapun. Dia sangat berharap lelaki yang tadi bicara dengannya datang dan membantunya.
"Ayo ikut, Tuan sedang menunggumu," ucap Sofia yang tiba-tiba datang dari samping Ana kemudian pergi mendahuluinya, hingga istri Rival tersebut mengekor di belakangnya sembari terus menarik gaun yang dia pakai karena tidak nyaman dengan pahanya yang terekspos.
Setelah sampai di kamar pribadi Rival, Ana berhenti berjalan ketika Sofia mengetuk pintu dan membukanya saat mendengar sahutan dari dalam. Dia mempersilakan Ana masuk dengan senyuman yang tentu saja hadir karena tengah berada di dekat Rival.
Ana heran, tetapi dia yang tidak mau mengambil pusing memilih mengabaikan.
"Masuk," ucap Sofia menyadarkan Ana dari lamunan. Wanita itu melangkah masuk dan ketika itu dia disuguhi pemandangan mengejutkan yang membuat sendi-sendinya terasa lemas ketika melihat alat-alat yang berada di kamar Rival.
Rival yang bergidik Rival yang sedang duduk di sofa, menyeringai saat melihat ekspresi Ana.
"Masuk sekarang atau kau mau aku seret?" tanya Rival membuat Ana menoleh. "Tu-Tuan."
Warna kulit wajahnya lebih dari sekadar pucat. Rival bangkit dari duduknya, berjalan pelan mendekati Ana dan beridri di hadapannya. "Oh, jadi benar kau ingin seret?"
Ana cepat menggeleng. Tidak ada yang mau seperti ini. Dia pun berbalik hendak pergi, tetapi sayangnya pintu telah tertutup otomatis. Rupanya, kendali benda itu berada pada remote yang telah digenggam oleh Rival.
"Oh, ada yang berusaha kabur," sindir Rival sembari maju, dan itu membuat Ana mundur dengan wajah ketakutannya, hingga tanpa sadar punggungnya menemui tembok hingga tak bisa menghindar lagi.