Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Teman ibuku


“Bagus jika kau tidak keberatan, besok kau harus bangun pagi-pagi sekali dan siapkan aku sarapan, semua bahan-bahan sudah ada di kulkas, buat saja makanan apa yang kau bisa!” titah jordw


Lag-lagi, Joanna hanya bisa terdiam. “kenapaa, apa kau juga keberatan dengan perintahku. Anggap saja kau melakukan itu sebagai biaya sewa tinggal di apartemenku!” Kata Jordan membuat Joana tersadar, kemudian menggangguk


“Baik Paman, terima kasih sudah memberikan tumpangan,” jawabnya membuat Jordan mengerutkan keningnya, saat gadis di depannya ini tidak lagi kurang ajar padanya berbeda seperti tadi. Namun apa pedulinya, begitulah pikir Jordan.


Jordan pun berbalik, kemudian berjalan dan masuk ke dalam kamar. Saat Jordan masuk ke dalam kamar, Joanna mendudukkan diri di sofa kemudian ia menyimpan tasnya di sisinya. Lalu setelah itu Joana tampak menatap ke depan dengan tatapan kosong.


Tiba-tiba bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya saat ia mengingat seminggu ini begitu nyaman hidup di rumah Nael dan Gabby. Bagaimana tidak, Nael dan Gabby memperlakukannya dengan baik.


Rumah Nael dan Gabby begitu memberikan kenyamanan yang tidak bisa Joana dapat di rumahnya, dan tidak bisa Joana dapat dari ibunya, ia sungguh iri pada Laura Naura dan sheina, mereka mendapatkan orang tua yang sangat baik, sedangkan ibunya selalu menekannya, ayahnya tidak mau diikuti olehnya.


Dan selama satu minggu kemarin, Joana berada di rumah Gabby dan Nael, Joana benar-benar merasakan apa yang dinamakan keluarga. Tak lama, isakan itu berubah menjadi tangisan hingga Juwana membekap mulutnya, agar tangisannya tidak terdengar oleh Jordan.


Bahu Joana bergetar, ia menangis tergugu. Ia merasakan perih bukan main di Hatinya. Tak lama, Joana pun membaringkan dirinya, ia memeluk tubuhnya, karena hawa di ruangan itu terasa dingin. Joanna berusaha untuk memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Tangis yang sempat terjeda akhirnya, kembali lagi terdengar.


••••


Waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi, Jordan keluar dari kamarnya. Tak lama, Jordan mengerutkan keningnya saat mencium aroma yang sangat wangi. Ia melihat ke arah sofa dan Joana sudah tidak ada di sana. Ia pikir gadis itu belum terbangun, tapi ternyata gadis itu sudah tidak ada di sofa dan Jordan yakin yang memasak di dapurnya adalah Joanna


joana sibuk memasak untuk Jordan, matanya masih sembab, terlihat jelas bahwa ia menangis dalam waktu yang lama. Semalaman, Joana tidak tertidur sama sekali, ia baru bisa tertidur pukul 5 pagi, itu pun tertidur sambil duduk dan hanya sekejap


Setelah ia tertidur, ia kembali terbangun dan setelah terbangun, ia memutuskan untuk memasakan makanan untuk Jordan. Semalam Joana sudah banyak berpikir, agar ia aman dari sang ibu. Sepertinya ia tidak boleh untuk kurang ajar pada Jordan, agar dia bisa tetap terus menumpang hidup di apartemen Jordan.


“Ya Tuhan, kau membuatku kaget!” ucap Joana, membuat Jordan menggeleng


“Ceepat siapkan, aku sudah terlambat!” kata Jordan, Joana pun mengangguk, karena memang masakannya sudah selesai, ia hanya tinggal menaruhnya di piring saja.


“Kau tidak ikut makan?” tanya Jordan saat Joanna sudah menghidangkan makanan di meja makan. Ia berencana untuk makan setelah Jordan pergi dari apartemen.


“Aku akan makan nanti setelah kau pergi, Paman.” kata Joana dengan malu-malu.


“Makanlah sekarang!” Joanna pun mengangguk kemudian ia mendudukkan diri di kursi seberang Jordan.


“Aku ini orang asing, kau tidak takut tinggal di sini?” tanya Jordan saat dia akan menyuapkan makanannya


“Tidak, bukankah Paman mengenal ibuku?” jawab Joana.


“Uhuk!” tiba-tiba Jordan tersedak saat mendengar jawaban Joana.


Jordan ....


plisss ya gengs 300 komen, maksa ini mah