
Bagaimana jika kita berteman?” tanya Nael saat memeluk Gabby. “Maksudmu?” Gabby menatap Nael dengan tatapan bingung. Sungguh Gabby, tak mengerti dengan apa yang Nael ucapkan.
“Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Nael. Gabby pun mengangguk. Ia langsung menaikkan selimut ke tubuhnya, karena Nael terus melihat ke arah dadanya.
“Apa kau menyesal telah tidur denganku semalam?” tanya Nael. Gabby menggeleng.
“Tidak aku tidak menyesal,” jawab Gabby. Walaupun ia sempat mabuk. Tapi, ia ingat betul apa yang telah terjadi semalam.
“Kau? apakah kau menyesal?” tanya Gabby.
“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku harus memberitahu sesuatu padamu,” kata Nael lagi, Gabby mengangguk-anggukan kepalanya. “Matamu sangat mirip dengan wanita yang aku cintai. Hingga terkadang, aku melihatmu sebagai dia,” kata Nael. Gabby kembali mengangguk, pertanda mengerti dengan apa yang diucapkan Nael.
“Jadi sekarang, bagaimana. Apa kita hanya akan melakukannya sekali ini? atau kita akan menjadi partner ranjang dan membalas suamimu. Bukankah kita sama-sama mendapat keuntungan. Aku tidak perlu menahan rindu dan aku bisa menganggapmu sebagai wanita yang aku cintai. Begitupun, kau! Kau bisa membalas suamimu dengan menggunakanku. Bukankah kita saling menguntungkan?” tanya Nael.
Gabby yang sedang berbaring menyamping menjadi, merubah posisinya menjadi telentang. Ia menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Tiba-tiba, rasa nyeri menyergapnya ketika membayangkan saat Arsen dan Kristine memadu kasih dan membodohinya.
Gabby tersenyum getir saat mengingat sesuatu. Mungkin, kemarin-kemarin saat Gabby menunggu Arsen selama berjam-jam Arsen malah sibuk bersama Kristine dan menertawakannya.
Gabby menatap ke atas d dengan tatapan nanar. Setitik, bulir bening langsung jatuh dari pelupuk matanya. Hingga Nael langsung mengusap airmata Gabby, membuat Gabby menoleh ke arah Nael.
“Kau mau tetap menjadi teman ranjangku?” tanya Gabby. Setidaknya semalam, ia bisa melupakan apa yang memilih yang menimpanya.
“Apa tak masalah, jika aku menganggapmu sebagai wanita yang aku cintai?” tanya Nael.
Hingga tubuh polos Gabby kembali terpampang di hadapan Nael. Dan omatis, senjata Nael kembali bangkit. Nael ikut bangkit dari berbaringny. Lalu, setelah itu ia menarik tangan Gabby. Hingga Gabby menoleh.
Gabby yang mengerti tatapan Nael, ia menghampiri Nael, kemudian ia langsung duduk di pangkuan Nael, dan hal panas itu pun terjadi kembali, di mana mereka mengulangi kegiatan semalam.
dua hari kemudian
Hari ini, Gabby berencana pulang ke rumahnya. Ia rasa, menenangkan diri selama dua hari sudah cukup.Selama 2 hari ini, Gabby tidak keluar, ia tidak pergi kemanapun. Ia hanya berdiam diri bersama Nael .
Tentu saja mereka, mereka menghabiskan waktu dengan hal yang menyenangka . Saat bersama Nael, Gabby bisa melepaskan emosinya, Gabby bisa melupakan sejenak lukanya.
Gabby bukan wanita murahan, Gabby adalah wanita baik-baik. Hanya saja, keadaannya yang memberanikan diri untuk memulai hal baru dengan Nael.
Di khianati oleh lelaki yang sudah 13 tahun bersamanya, belum lagi keluarga, Arsen yang mendukung apa yang Arsen lakukan, tentu saja rasa yang di alami Gabby semakin berkali-kali lipat.
“Kau yakin ingin pulang sekarang?” tanya Nael. Gabby yang sedang memasukan pakainnya kedalam koper menoleh, Gabby menoleh kemudian mengangguk.
“Sepertinya, ia,” jawab Gabby, Nael bangkit dari duduknya, kemudian memeluk Gabby dari belakang. Lalu, ia mencium bibir leher Gabby dan memberikan Gabby tanda merah di leher.
“Kau pasti butuh itu untuk di perlitkan pada suamimu,” kata Nael, Gabby melihat dirinya dari pantulan kaca, kemudian menyeringai.
Jangan bully Gabby ya. Scrol gengs