Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Memelukmu dalam Haru


“Nael, pulanglah, jangan terus menggodaku!" kata Gabby saat ia berhasil bangkit dari pangkuan Nael.


Nael pun ikut bangkit dari duduknya, kemudian ia malah menarik tangan Gabby. “Gabby ini sudah malam. Aku baru saja tiba dari villa kemari, dan aku mengemudi selama beberapa jam, jadi tolong, izinkan aku tidur sambil memelukmu.” Kali ini, Nael berucap dengan serius. Tidak ada raut bercanda di wajahnya seolah dia benar-benar lemas. Padahal Tentu saja dia hanya bersandiwara.


“Kau bisa tidur tidur di kamar tamu. Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar tamu,” ucap Gabby sambil menarik tangan Nael. Namun, Nael tidak beranjak sedikitpun.


“Ayolah, Gabby, Biarkan Aku memelukmu malam ini, sebelum kembali ke Rusia dan menghadapi amukan kedua orang tuaku.”


Mendengar Nael menyebutkan kedua orang tuanya. Hati, Gabby mendadak luluh. Mau tak mau, Ia pun menyetujui keinginan Nael.


“Jika kau berbuat lebih. Aku akan pergi membawa Laura dan Naura,” ancam Gabby. Setelah itu, Gabby pun berbalik kemudian berjalan ke arah kamarnya, sedangkan tangannya masih digenggam oleh Nael, hingga kini Gabby menarik tangan Nael untuk berjalan ke arah kamar.


Kini, kedua pasangan itu sudah terbaring di ranjang dengan posisi berhadap-hadapan. Gabby memejamkan matanya, sedangkan Nael terus menatap wajah Gabby. Perlahan, tangannya tergerak untuk mengelus pipi Gabby, hingga Gabby membuka matanya


“Apa selama ini berat membesarkan Laura dan Naura seorang diri?” bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk Mata Nael saat bertanya pada Gabby.


Gabby terdiam, pikirannya, menerawang pada masa-masa sulit, masa-masa dimana ia selalu melihat luka di kedua putrinya setiap Laura dan Naura diacuhkan oleh Nael.


Gabby meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Kemudian kembali menatap Nael


“Anak-anak begitu manis. Dulu, setiap mereka ingin bermain bersama Gabriel, Putri Gabriel Selaru melarangnya. Tapi, mereka tidak pernah mengeluh, mereka tidak pernah memaksa untuk Gabriel bermain bersama mereka. Mereka akan diam dan aku tahu itu adalah hal yang menyakitkan bagi Laura dan Naura. Gabby menghela nafas sebanyak-banyaknya kemudian menghembuskannya, karena menceritakan ini seperti membuka luka di masa lalu.


“Apakah kau benar-benar menyesal, apakah benar-benar menyayangi Laura dan Naura. Apa kau sudah benar-benar mengakui mereka sebagai putrimu?” tanya Gabby, setelah bisa mengendalikan dirinya. Ia menghapus air matanya, kemudian ia mengelus Gabby.


“Gabby, akan percuma jika aku terus berbicara dan menjelaskan semuanya. Tapi aku akan pastikan, tidak akan lagi ada air mata yang keluar dari mata kalian,” ucap Nael, ia mendekat ke arah Gabby, kemudian memeluk Gabby


“Nael, Bagaimana jika Gabriel tidak mengizinkan kita menikah?” tanya Gabby setelah berada di pelukan Nael.


Nael tampak berpikir, pikirannya mengembara memikirkan cara membujuk Gabriel. “Jika Gabriel tidak mengijinkan kita menikah. Bagaimana jika kita kabur saja?” tanya Nael, Gabby tidak menjawab, ia malah menelusupkan wajahnya pada dada bidan Nael, “Aku mengantuk,” ucap Gabby. Nael mengelus rambut Gabby, “tidurlah, sayang!” kata Nael, ia mengakhiri ucapannya dengan


mencium pucuk kepala Gaby bertubi-tubi.