Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Bertemu ayah


“Apa kalian akan tetap di sini?” tanya Jordan, ia menatap Laura, Naura, serta Seina dengan bersidekap. Ini sudah 3 jam berlalu, Laura dan Naura serta Sheina terlihat tidak akan meninggalkan ruang rawat Joana.


Dan selama 3 jam itu pula, ketiga wanita itu terus mengajak Joana untuk bercerita, mereka seolah menumpahkan kerinduannya pada Joanna, dan tentu saja itu membuat Jordan kesal, karena dari tadi Ia hanya mendengarkan keempat wanita ini berbicara dengan pembicaraan yang ia tidak mengerti.


Bukan hanya itu saja, kehadiran Laura Naura serta Seina menghambat waktu Jordan untuk berdua dengan Joanna, apalagi barusan ia ingin menyatakan perasaannya.


Laura yang sedang berbicara pada Joanna langsung menoleh ke arah Jordan. Tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu.


“ Paman kenapa Paman bisa bersama Joana?” tanya Laura.


“Tunggu, aku pikir kalian tidak sedekat Itu,” kali ini Naura yang bertanya.


“Benar juga, bukankah hubungan kalian tidak terlalu baik!” Seina ikut menimpali, hingga ketiga orang itu menatap Jordan dengan tatapan bingung. Mereka bingung, bagaimana mungkin hubungan Joana dan Jordan bisa sedekat ini.


“Paman akan memberitahu kalian apa yang terjadi, jika kalian pergi dari sini!” kata Jordan, ia pun masih menatap ketiga wanita dengan tatapan kesal.


“Siapa Paman berani mengatur kami!” kata Laura membuat Jordan memejamkan matanya, Ia lupa Laura sangat mirip dengan Nael.


“Paman tidak harus menjawab pertanyaan kalian, kan? jadi sekarang, cepat kalian pergi. Kalian bisa datang lagi besok!”


Kali ini, Laura, Naura serta Seina saling tatap, mereka langsung menatap Joanna.


“Kalian pergi saja, kalian bisa datang lagi ke sini besok!” titah Joana yang mengkode teman-temannya untuk segera pergi.


Pada akhirnya ketiga wanita itu pun bangkit,


“Ya sudah, kami akan pergi sekarang dan kami akan lagi datang lagi besok!” kata Laura.


“Kami pergi paman!”!pamit ketiga wanita itu pada Jordan, membuat Jordan menghela nafas lega. Setelah ketiga orang itu pamit, Jordan langsung mendudukkan dirinya di samping Joanna. Kali ini, ia harus benar-benar mengungkapkan perasaannya.


Ia tidak ingin menunda lagi waktu, “Joana ada yang harus aku katakan padamu!” kata Jordan. Joanna merubah posisi duduknya, hingga kini duduknya dan Jordan berhadap-hadapan.


“Kau tadi bertanya padaku bukan?” tanya Jordan, Joana mengangguk. Ia ingat, tadi ucapan Jordan terpotong saat kehadiran 3 sahabatnya.


“Itu karena ....”


“Auh!” Tiba-tiba, Jordan dan Joanna melihat ke arah pintu, di mana Laura kembali masuk ke dalam ruangan. Rupanya, setelah ketiga gadis itu keluar dari ruang rawat Joana, Lauran, Naura serta Seina mengintip.


Mereka sengaja tidak menutup pintu secara rapat, karena mereka ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi antara Joana dan Jordan. Namun saat detik-detik Jordan akan menyatakan perasaannya pada Joana, Laura tersandung oleh kakinya sendiri hingga ia terhuyung ke depan, dan kembali masuk, membuat Naura dan Sheina langsung kabur, meninggalkan Laura seorang diri.


“Kau!” sentak Jordan saat melihat Laura mata Jordan dan Joanna membulat saat Laura kembali lagi masuk dan mereka menyadari bahwa ketiga wanita itu mengintip mereka dari luar


Laura tergagap saat terpergok oleh Jordan dan Joanna, seketika ia mundur kemudian tanpa basa-basi ia langsung keluar dan berlari membuat Jordan menggeleng.


Jordan kembali lagi menoleh ke arah Joana, “Paman, kau ingin berbicara apa tadi?” tanya Joana.


Jordan mengenal nafas, “Nanti saja, aku akan berbicara setelah kau pulang dari rumah sakit!” kata Jordan, tak ingin memaksa Jordan Joana pun menggangguk. Walaupun ia begitu penasaran dengan alasan Jordanm


tiga hari kemudian


“Kau ingin pergi ke suatu tempat sebelum kita pulang?” tanya Jordan yang sedang mengemudi. Joanna yang sedang melamun tersadar, kemudian menggeleng.


“Tidak, Aku hanya ingin langsung beristirahat saja!” kata Joanna, hari ini Joana sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit dan saat ini, mereka sedang berada di perjalanan untuk pulang. Dan sebelum ke apartemen, Jordan sengaja ingin mengajak Joana berjalan-jalan, terlebih dahulu agar Joana sedikit merasa rileks.


Olivia? tentu wanita selalu mencari cara menemui Joana, namun Jordan selalu menyuruh orang-orangnya menghadang Olivia.


“Bagaimana jika kita pergi ke mall saja, kau sudah lama tidak berjalan-jalan bukan, kau bebas memilih apapun yang kau mau!” kata Jordan, wajah Joanna menjadi sendu.


“Bagaimana jika kita makan siang di restoran? apakah ada restoran yang ingin kau tuju?” tanya Jordan, biasanya Joanna akan selalu tertarik dengan hal yang berbau-bau makanan, dan benar saja wajah Joanna yang tadinya meredup kembali berbinar, saat mendengar kata makanan.


Ia menoleh ke arah Jordan, lalu menatap Jordan dengan malu-malu. “Paman, di mall ada cafe yang menjual dessert yang sangat enak, bisakah Paman mengantarku ke sana. Aku memang tidak mempunyai uang, bolehkah aku meminjam uang Paman saja!’ kata Joanna dengan semburat ragu-ragu.


Jordan mengelus rambut Joana, hingga kedua orang itu saling tatap, kecanggungan langsung mendera keduanya, secepat kilat Jordan langsung mengangkat tangannya dari kepala Joanna.


“Baiklah kita ke sana!” ucap Jordan, ia kembali lagi menoleh ke depan. Lalu fokus mengemudi, sedangkan Joanna melihat ke arah jendela. Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang dikenai Jordan sampai Mall tersebut.


Jordan keluar dari mobil, disusul Joanna yang juga ikut keluar. “Ayo!” ajak Jordan, Mereka pun mulai berjalan masuk. Tepat saat masuk, Jordan menghentikan langkahnya, begitupun Joanna karena ponsel Jordan berdering.


“Sebentar!” kata Jordan, ia merogoh sakunya kemudian mengambil ponsel. Lalu melihat siapa yang menelpon. Saat Jordan mengangkat panggilannya, Joanna mengedarkan pandangannya ke seluruh mall.


Tiba-tiba pandangannya terhenti saat melihat Hansel yang tak lain ayahnya yang sedang berada di store tas. Joanna melihat Hansel sedang mengobrol bersama seorang wanita yang mungkin sebayanya, yang Joanna tahu itu adalah adik tirinya.


Tapi saat melihat wajah wanita itu lekat-lekat, Johanna menyadari sesuatu, itu adalah Putri ayahnya, karena wajah mereka begitu mirip. Setelah bercerai dari sang ibu, Hansel mengatakan bahwa ia mempunyai anak tiri yang berbeda satu tahun dengan Joanna. Tapi ternyata, sekarang Joana menyadari bahwa ayahnya berbohong.


Itu bukan adik tirinya, melainkan anak sang ayah. Ya, walaupun Hansel dan Olivia baru bercerai 6 tahun lalu, tapi sebelum bercerai Hansel sudah memiliki anak dari sekretarisnya yang dulu merupakan selingkuhan.


Saat itu sekretarisnya melahirkan bayi kembar, lelaki dan perempuan, karena saat itu Hansel mendapatkan anak laki-laki, otomatis dia menyayangi Putri kembarnya berbeda pada Joanna.


Tiba-tiba bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Joana saat melihat interaksi ayahnya dan adik tirinya, tanpa sadar ia berjalan ke arah store tersebut, meninggalkan Jordan yang sedang menelpon.


Langkah Demi langkah Joana di lalui dengan rasa pedih, matanya terus tertuju pada kebersamaan ayahnya dan adiknya. Rasa sakit menghujam di jantung Joanna saat mengingat semuanya.


Selama ini ia disiksa oleh sang ibu. Ayahnya mempunyai kehidupan baru, adiknya diperlakukan dengan sangat baik, lalu dia ....


Dan pada akhirnya, Joanna berdiri di belakang tubuh sang ayah. Ia menatap sang ayah lekas-lekat. Ia bisa mendengar ucapan sang ayah pada adiknya begitu hangat dan terdengar penuh cinta dan penuh ketulusan. Lalu padanya?


Ia bahkan tidak pernah mendapat perhatian dari Hansel, bahkan sedari kecil, Hansel sudah dingin padanya. Tidak pernah memberi hadiah dan tidak pernah ada di saat ulang tahunya. Tapi Sekarang, ia mendengar ayahnya menawarkan hadiah apa pun pada adik tirinya.


“Ayah!” Panggil Joanna dengan bibir bergetar, seketika Hansel menoleh. Mata Hansel membulat ketika melihat Joanna


“Joanna!” Panggil Hansel, ia tidak menyangka akan bertemu sang Putri di sini.


Joanna menghapus air matanya, kemudian menegarkan hatinya, lalu tersenyum ke arah Hansel.


“Apa kabarmu Ayah?” tanya Joanna, sekuat apapun Joana menahan tangisnya, tidak bisa ia tidak bisa menahan tangisnya. Terlalu menyesakkan untuk tak menangis


“Ayah dia siapa!” tiba-tiba terdengar suara Putri Hansel,.yang mempertanyakan Joanna, membuat hati Joana kian pedih.


Sebelum Hansel menjawab, tiba-tiba ada sosok lelaki yang berdiri di belakang Joanna, membuat Hansel mengerutkan keningnya. Ia seperti mengenal lelaki yang berada di belakang putrinya.


“Kau disini rupanya!” ucap Jordan yang berada di belakang tubuh Joana, hingga Joana menghapus air matanya, kemudian Joanna berniat berbalik. karena ia malu pada Jordan. Namun, Jordan menarik tangan Joana.


”Hansel, Aku harap kau masih ingat aku,” cap Jordan, dan tak lama saat mendengar suara Jordan, Hansel tersadar. Ia mengingat Jordan adalah teman kuliahnya.


“ Jordan, kau kah itu?” tanya Hansel.


“Karena kita bertemu di sini. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, aku akan menikahi joana besok!”


Tatap aku lelakiku udh update ya.


Gas komen ya gengs, biar semangat.