Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Dia sudah tak perduli


Arsen mengerjap, kemudian Ia membuka matanya. Seluruh tubuhnya terasa nyeri. Pandangannya buram, karena ia hanya membuka satu matanya.


Ia melihat ke bawah, di mana sang Ibu sedang bermain ponsel. Sejenak, otak arsen kosong.Ia tak mengingat apapun. Namun tak lama, ia mengingat bahwa Gabriel menghajarnya secara habis-habisan.


“Shittt!” umpat Arsen dalam hati, ketika menyadari bahwa Gabriel sudah tahu tentang semuanya.


“Arsen!” pekik Agnes yang melihat Arsen membuka matanya.


“Mom, Gabby mana?” tanya Arsen dengan suara yang pelan, karena ia belum bisa menggerakkan bibirnya.


“Istrimu sudah pergi bersama kakaknya. Arsen Kenapa kau jadi begini. Kenapa kau harus ketahuan oleh Gabby?” tanya Agnes.


Rasanya begitu ngeri membayangkan, Arsen tidak memberikan lagi sokongan uang. Lalu bagaimana gaya hidupnya bersama kedua putrinya dan bagaimana ia bisa menghadiri acara-acara yang sering diselenggarakan oleh sosialita .


Suaminya atau ayah Arsen adalah tipe suami yang pelit, tidak pernah mau membelikannya barang branded dan hanya Arsenkah yang mampu memenuhi semuanya, memenuhi kebutuhannya dan memenuhi kebutuhannya dan kedua putrinya.


“Mom ayo telepon Gabby. Bilang padanya, aku sudah sadar!” titah Arsen pada Agnes. “Cepat Mom!” titah Arsen lagi. Ia berbicara dengan nada memaksa.


Selama ini jika Arsen sakit, Gabby akan selalu terlihat khawatir padanya. Walaupun Arsen hanya sakit ringan. Dan sekarang, Arsen berharap Gaby akan kembali padanya dan peduli lagi padanya.


“Bagaimana mungkin, Mommy menghubunginya. Sedangkan tadi saja dia membiarkanmu dihajar oleh kakaknya,” jawab Agnes, membuat Arsen terdiam.


Arsen meringis ketika ia berusaha membuka matanya lebih lebar. Tapi seketika itu juga matanya langsung terasa perih. Gabriel benar-benar menghajarnya sampai tak tersisa.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, ternyata Kristin yang masuk. Kristine mendapat pesan misterius, dan mengatakan bahwa Arsen sedang dirawat di rumah sakit.


“Kau!" Agnes menatap galak pada Kristine. Ia melihat tampilan Kristine dari atas ke bawah. Ternyata tampilan Kristine begitu lusuh.


“Lihatlah, semua gara-garamu. Seandainya, kau tak menggoda Arsen, mungkin aku takkan begini,” ucap Agnes.


Seketika Kristine tertunduk. Sejujurnya ia tak peduli dengan apapun, yang ia pedulikan adalah Arsen, karena ia memang mencintai Arsen.


“Ma-maaf Mommy. Aku tidak tahu,”jawab Kristen dengan terbata-bata


“Sudah cukup! kalian membuat Mommy pusing!” Setelah mengatakan itu, Agnes pun keluar, dari ruangan itu.


Saat Agnes keluar, Kristine langsung mendekat ke arah berangkar arsen. “Arsen, kau tidak apa-apa kan?” tanya Kristine ia menggenggam tangan Arsen. Namun, secepat kilat, Arsen menghempaskan tangan Kristine.


“Pergi!” titah Arsen dengan dinginn.


“Arsen!” Kristin menatap tak percaya pada Arsen. Ia tak menyangka Arsen akan bersikap seperti ini.


“Arsen, jangan begini!” ucap Kristin, ia kembali menarik tangan Arsen, membuat Arsen memejamkan matanya, karena tak ingin melihat wajah Kristine. Karena Kristinelah semuanya hancur. Sekarang, ia harus bersusah payah menggapai hati Gabby kembali.


“Pergi, sebelum aku menyuruh orang untuk menyeretmu," jawab Arsen. Tak ingin terus merasa sakit, Kristin tertunduk kemudian ia pergi lalu keluar dari ruangan Arsen.


•••••


Gengs untuk pertama kalinya, aku minta vote ke kalian. Kirimin poin ya buat cerita ini🥰. Scroll gengs