
Gabby menyandarkan tubuhnya ke dada, Nael langsung mencium pipi Gabby dari samping. Tatapan mata Gabby lurus ke depan, lewat tab yang tersimpan di meja kecil, ia melihat tayangan Arsen yang sedang menunggu di depan ruangannya.
Saat ini, Gabby dan Nael sedang berendam di bathube, mereka memutuskan untuk berendam bersama setelah percintaan panas mereka. Ya, Gabby tahu, sedari tadi Arsen sudah menunggu. Sebab, Shelomita yang memberitahunya.
Walaupun Gabby dan arsen sudah bercerai. Tapi Gabby tetap menyuruh Shelomita untuk mengikuti Arsen, itu sebabnya ia bisa tahu Arsen ada di depan ruangannya.
“Sampai kapan kau akan membuatnya menunggu Gabby?” tanya Nael, tangannya sesekali bermain di dada Gabby, membuat Gabby melenguh.
Gabby tersenyum sinis, “Biarkan saja dia, aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya ketika aku menunggu,” kata Gabby lagi. Matanya berkilat penuh dendam pada arsen. Tak ada lagi cinta yang selama 13 tahun ini ia pupuk. Cinta itu berganti dengan kebencian yang luar biasa hebat.
Saat Gabby sedang fokus melihat monitor, Nael terus menciumi pipi Gabby, kemudian ia beralih menciumi leher Gabby, hingga senjatanya kembali bangkit, “Sepertinya sebelum berpisah akan menyenangkan jika kita bermain sekali,” kata Nael, Gabby mengangguk, lalu menaruh gelas wine yang sedang di pegangnya, kemudian ia berbalik lalu kembali menyatukan tubuhnya dan tubuh Nael, hingga mereka larut kembali dalam percintaan panas.
•••
“Apa sudah selesai?” Tanya Nael, pada Gabby yang sedang merapikan berkas-berkas, Gabby pun mengangguk, Nael keluar untuk mengambil pakaian dari sekretarisnya.
Gabby sudah terduduk di kursi sambil melihat-lihat berkas, seolah tidak ada yang terjadi. “Sedang apa kau di ruangan istriku?” Terdengar suara Arsen dari luar, membuat Gabby menyeringai. Tak lama, terdengar suara derap langkah, ternyata Arsen menerobos masuk.
“Gaby Kenapa ada dia di ruanganmu? sedang apa kalian berdua?” tanya Arsen, wajahnya sudah pucat, pikirannya sudah melanglang buana, memikirkan yang terjadi di ruangan istrinya.
Tiba-tiba, tapan mata Arsen menuju ke arah meja, di mana banyak berkas-berkas di sana. “Arsen apa kau tidak punya sopan santun? tidak melihatkah bahwa aku sedang meeting bersama tuan Nael?” balas Gabby, tiba-tiba Arsen maju ke arah Gabby, kemudian ia mengambil berkas lalu membacanya.
“Ka-kalian sedang membahas kerja sama?” tanya Arsen terbata-bata, ketika melihat berkas-berkas yang ada di meja Gabby.
“Ya, perusahaan Nael akan bekerjasama dengan rumah sakitku..” Gabby merebut kertas dari tangan Arsen, membuat Arsen tersadar.
“Ta-tapi, kenapa dia bisa memakai kamar mandimu?” tanya Nael terbata-bata, otaknya kosong. Ia masih belum mencerna apa yang terjadi.
Bukti didepannya mengatakan bahwa Nael dan Gaby memang sedang membicarakan kerjasama. Tapi hatinya mengatakan, bahwa ada yang terjadi dengan Gabby dan juga Nael.
“Tuan Nael tidak sengaja menumpahkan susu dan ia ijin memakai kamar mandi,” jawab Gabby. Gabby menarik sudut bibirnya, saat melihat Ekpresi Arsen.
“Kami belum selesai meeting, bisakah kau tinggalkan ruangan ini?” tanya Gabby, Arsen masih terdiam, ia tak mencerna ucapan Gabby. Saat ini, otaknya benar-benar kosong.
Feeling-nya mengatakan, bahwa ada yang terjadi antara istrinya dan Nael. “Kalian benar membicarakan kerjasama?” tanya Arsen. Untuk terakhir kalinya, dia memastikan.
“Arsen!” kali ini Gabby membentak Arsen membuat Arsen terperanjat kaget.
Tak ingin membuat Gabby semakin murka, Arisan pun kembali berbalik lalu keluar dari ruangan Gabby.
Scroll gengs