Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Orang yang membantu


“Laura kenapa kau bertanya begitu?” tanya Gabby. Ia mendudukkan diri di sebelah putrinya lalu mengelus rambut Laura.


“Memangnya kau merasakan apa?” tanya Gabby lagi dengan lembut. Dari sorot matanya, Gaby tahu bahwa putrinya sedang memikirkan hal yang sangat serius.


Maura yang sedang memainkan tepung melihat kearah Laura, kemudian tatapannya menatap saudara kembarnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Namun setelah itu, Naura kembali pada aktivitasnya.


“ Laura!” Panggil Gabby lagi, saat Laura tampak melamun. Namun, Laura menggeleng. “Tidak apa-apa Mommy. Lupakan saja,” jawab Laura. Ia tidak ingin membicarakan hal yang mustahil. “Ya, sudah. Mommy akan melanjutkan membuat kue bersama Naura.” Laura pun mengangguk, kemudian Gabby bangkit dari duduknya. Setelah itu, meninggalkan Laura dan kembali memasak kue bersama Naura.


waktu menunjukkan pukul 10.00


Gabby menarik selimut untuk Laura dan Naura, kemudian mencium kening putrinya secara bergantian. Gabby tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca. Setiap Laura dan Naura sudah tertidur, Gabby tidak akan langsung kembali ke kamarnya. Ia selalu menatap putrinya selama 1 jam, bahkan lebih.


Setiap menatap putrinya, ia selalu bersyukur pada tuhan, Tuhan begitu baik, kepadanya memberikan mereka penyakit secara bersamaan dan mengangkatnya secara bersamaan pula.


Gabby tidak menyangka, ada titik ini titik. titik di mana Gabby melihat putrinya tumbuh, dimana melihat putrinya tersenyum dan dia pun sudah enjoy dengan kehidupannya Sekarang.


Setelah satu jam berlalu, akhirnya Gabby pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung keluar dari kamar putri kembarnya, Saat ia sudah berada di kamar dan bersiap untuk tidur ponsel disampingnya berdering l, Kemudian Gabby melihatnya ponselnya.


“Joan!” lirih Gabby. Ternyata Joan yang mengirimi Gabby pesan.


“Kau sudah tidur?” tulis Joan dalam pesannya. Entah kenapa, hati Gabby menghangat setiap mendapat pesan dari Joan.


Walaupun ia belum membuka hatinya Tapi setiap mendapat pesan itu, rasanya, babby berbunga-bunga. Walaupun sedari dulu sampai sekarang ia jarang merespon pesan dari Joan, begitupun saat ini, ia sama sekali tak berniat membalas pesan dari Joan. Hingga, Gabby langsung menaruh kembali ponselnya dan mulai memejamkan matanya.


•••


Entahlah kenapa, Gabby susah ditaklukan. Nael selalu mengirim pesan kepada Gabby setiap hari dan Gabby hanya membalas pesannya selama dua kali dalam seminggu, itupun dengan singkat padat dan jelas.


Karena Gabby tak membalas pesannya. Nael kembali mengutak-ngatik ponselnya. Kemudian ia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca saat melihat foto kedua putrinya yang selama ini ia ambil.


“Kau tidak berhasil mengajaknya makan bersama?” tanya seseorang yang selama ini membantunya.


“Kau tiba-tiba datang kemari, apa kau sedang menghindar darinnya?” tanya Nael. Alih-alih mejawab pertanyaan orang di depannya. Nael malah bertanya hal lain.


Lelaki itu berdecih. Kemudian ia mendudukan diri di sofa yang bersebrangan dengan Nael, kemudian mengadahkan kepalanya ke atas membuat Nair menyipitkan matanya.


“Aku rasa kalian saling mencintai. Toh, kasusmu dan Gabby juga sudah 11 tahun berlalu. Jadi aku rasa, tidak ada lagi alasan kalian saling menghindar,” ucap Nael.


Helaan nafas terlihat dari wajah tampan lelaki yang kini duduk di depan Nael, ia menggeleng


“Aku cukup tau diri dan sadar diri, Giseel berhak mendapat lelaki yang 100 kali lebih baik dariku,” jawab Arsen dengan sendu.


Ya, lelaki yang membantu Nael adalah Arsen


Flashback ...


Ayo flashback-flashback


Aku udpaet 4 bab ya