
“Siapa bilang aku hamil. Aku hanya bercanda mengatakan itu pada Bella." Laura kekeh menolak ucapan Andre, Ia yang tadinya menolak untuk dipeluk. Tapi malah terdiam, ketika Andre mengelus perutnya.
Andre tidak menjawab, ia rasa akan percuma untuk berbicara pada Laura di tengah gengsi Laura yang begitu menggebu-gebu. Tak lama, Laura tersadar, kemudian ia menghempaskan tangan Andre. “Kurang ajar sekali kau memelukku tanpa izin,” jawab Laura. Ia pun berjalan ke arah sofa, kemudian mendudukkan dirinya di sana
Laura merogoh tasnya, kemudian mengambil flash disk. Lalu setelah itu memberikannya pada Andre. ”kau bisa membuka ini periksa di laptopmu!”
Andre membuka jasnya, kemudian Ia menyematkannya. Lalu setelah itu, ia malah mendudukan diri di sisi Laura. “ Kenapa kau duduk di sampingku, duduk sana ambil laptopmu!” Laura menyingkirkan kepala Andre yang sedang menyandar di di bahunya. Namun Andre tetap menyimpan kepalanya di bahu Laura. hingga Laura kesal.
Hangat dan nyaman, itulah yang dirasakan Andre. Sekarang ya begitu nyaman ketika dekat dengan Laura, apalagi ketika mengetahui Laura sedang mengandung. Seminggu lalu, Andre mengetahui semuanya bahwa Laura telah kembali mengandung dan ia mengetahuinya dari Bella.
Saat mengetahui dari Bella, Andre kembali lagi berusaha untuk menemui Nael. Namun seperti biasa, Nael menolaknya Tapi berbeda dengan Gaby, Gaby masih bersikap baik walaupun tidak terlalu baik. Tapi setidaknya, respon Gabby tidak seperti mantan ayah mertuanya.
“Andre minggirlah kau sungguh berat," ucap Laura, ia bisa saja berkata begitu. Tapi respon tubuhnya tidak, apalagi tangan Andre sedang mengelus perutnya
“Andre minggir kau berat!” teriak Laura, kali ini ia berteriak. Ia tidak terlalu ia tidak mau terlalu larut dalam rasa nyaman yang diberikan Andre, dan kali Andre menjauhkan tubuhnya.
“Kau ingin makan sesuatu, atau kau mengidam sesuatu?” wajah Laura mendadak sendu saat mendengar tawaran Andre. Rasa sakit kembali menyergapnya. Dulu, saat hamil Bella, ia selalu memohon bahkan hampir seperti pengemis hanya untuk sekedar menyuruh Andre membelikan makanan. Tapi Andre selalu mengabaikannya.
Padahal Ia sedang mengidam dan ketika Andre menanyakan itu lagi hati Laura terasa berdesir pedih. “Tidak, aku bisa sendiri cepat keluarkan laptop. Aku banyak sekali pekerjaan di kanto!” kali ini nada suara Laura mulai melemah, tidak mengajak lagi Andre berdebat. Matanya sudah membasah, rasanya ia ingin pergi secepatnya dari kantor Andre.
Entahlah, apa yang terjadi dengan Laura. hormon kehamilan, trauma masa lalu sangat berpengaruh pada kegiatan sehari-hari. Moodnya sering memburuk tiba-tiba, terkadang ia ingin menangis terkadang juga ia ingin tertawa.
Melihat wajahLaura yang seperti itu, Andre pun langsung bangkit, kemudian mengambil laptop Lalu setelah itu, ia memberikan laptopnya pada Laura.
“Coba buka saja, aku akan melihat desainnya nanti!” titah Andre..Laura membuka laptop Andre kemudian ia langsung menyalakannya. Saat laptop menyala, tiba-tiba Laura terdiam saat melihat fotonya, ada di layar laptop Andre.
Tapi tak lama, Laura tersadar, itu bukan fotonya melainkan foto Naura. Seketika Laura langsung menegakkan tubuhnya dan langsung menyimpan laptop di meja dengan sedikit membantingnya, Andre terkejut.
“ kau kenapa, apa ada yang membuatmu kesal?” tanya Andre.
“Kau masih menyimpan foto Naura,” wajah Laura sudah memerah saat mengatakan itu
Bahkan, satu kali kedipan saja mungkin air matanya sudah berlinang, membuat tawa Andre pecah, hingga Laura menoleh.
“Apa kau pikir lucu?” tanya Laura,.nadanya masih melemah.. Hingga Andre berusaha menghentikan tawanya, kemudian ia mengambil laptop lagi.
“Apakah kau tidak ingat, ini fotomu baby, ini foto kau saat kita di Amerika. Apa kau tidak ingat pernah mengambil foto ini saat di apartemenku?”
Tiba-tiba Laura terdiam, ia memejamkan matanya. Ah, sial. Ia lupa, ia mengira itu Naura karena bandana mereka sama.
“Ini bukan Naura, ini kau!" kata Andre lagii.
“Ya aku tahu itu aku, aku hanya mengetesmu saja,” Jawab Laura sambil mengibaskan rambutnya menahan malu yang luar biasa.
•••
“Kau kenapa, apa ada masalah?” tanya Jordan saat Nael duduk di sebelahnya. Saat ini, Nael Jordan, Gabriel, Arsen serta Miko sedang bermain golf. Seperti biasa, setiap minggu mereka selalu meluangkan waktu bersama-sama untuk pemain golf bersama.
Namun hari ini, ada yang berbeda dengan Nael. Dia tampak melamun dan tampak seperti mempunyai beban yang berat.
“Apa menurutmu aku harus memaafkan mantan menantuku?” tanya Nael.
“Maafkan saja dia, kau juga pernah membuat kesalahan yang lebih parah dari dia bukan!” Timpal Gabriel yang ikut bergabung bersama Jordan dan Nael.
"Hissh, kau ini!” balas Nael.
“Tapi benar kan yang Gabriel bilang, kau juga pernah melakukan kesalahan yang fatal jadi apa salahnya kamu memaafkan menantumu iu,” balas Jordan yang menimpali ucapan Nael.
“Mulutmu Jordan!”
“Memangnya Apa susahnya memaafkan menantumu. Toh bukan kau yang menjalaninya tapi Laura, coba lihat dari sisi Laura, tanyakan dia bagaimana perasaannya ....” Tiba-tiba Arsen datang dari arah belakang, ikut menimpali percakapan ketika orang itu.
“Benar kau harus mempertimbangkan saran Arsen!” kata Gabriel.
“kami hanya memberikan saran. Tidak ada manusia yang sempurna. Kau pernah berbuat salah, begitu pun menantumu jadi apa salahnya memberikan dia kesempatan,” balas Jordan lagi. Nael tampak berpikir.
“Tunggu, Kenapa kalian jadi menghardiku! kalian juga mempunyai salah masing-masing. Kau ... Kau ... Kau! kalian juga pernah mempunyai kesalahan yang fatal.
Nael menunjuk satu persatu orang yang ada di depannya, membuat ketiga orang itu menggeleng.
“Tapi kesalahanmu lebih fatal dari kami!” balas Gabriel.
“Mulutmu Gabriel! apa harus aku beberkan kesalahanmu pada Amelia!” balas Nael lagi. “Ah, sudahlah tidak ada gunanya berbicara dengan kalian.”Nael bangkit dari duduknya kemudian Ia pun langsung berjalan masuk ke dalam mansionnya.
“Bukankah dia manusia paling menyebalkan” ucap Gabriel semua mengangguk kompak.
“Biarkan saja dia. Ayo kita bermain lagi!” ajak Jordan.
•••
Waktu menunjukkan pukul 05.00 sore, Andre yang sedang fokus pada laptopnya melihat ke arah Laura yang sedang tertidur. Rupanya, saat meeting selesai. Laura tertidur tanpa sadar, hingga Andre membenarkan posisi tidur Laura di sofa dan ini sudah 2 jam berlalu, Laura masih belum membuka matanya
Andre bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung mendudukkan diri di lantai dan menyangga kepalanya dengan tangan. Lalu setelah itu, ia menatap Laura yang sedang tertidur.
Saat ini rasa cinta pada Laura begitu meluap-luap, tidak ada bayangan Naura sedikitpun. Laura tetaplah Laura bukan Naura. Laura adalah wanita yang ia cintai.
“Aku sudah tahu aku cantik, kau tidak perlu terpesona begitu padaku,” jawab Laura yang sedang memejamkan matanya. Rupanya, Laura sudah terbangun, hanya saja ia berpura-pura tertidur.
Andre terkekeh saat mendengar ucapan Laura
“Hmm, Kau sangat cantik ... sangat cantik,” jawab Andre, satu kecupan mendarat di kening Laura, membuat Laura membuka matanya.
“Ingat ya, aku Laura bukan Naura. Jelas aku lebih cantik dari Naura!” kata Laura lagi.
“Hmm, kau lebih cantik dari Naura.” wajah Laura memerah saat mendengar ucapan Andra.
“ Naura maaf kali ini aku menisstakanmu!" Laura membatin dalam hati, setelah itu ia pun langsung bangkit dari berbaringnya dan Andre langsung bangkit dari lantai.
“Aku akan mengantarmu pulang!”
“Tidak perlu, akan memakai taksi saja.”
“Tidak, aku akan mengantarmu pulang!” Balas Andre. Laura tidak menjawab, ia pun langsung bangkit dari duduknya, kemudian memakai blazernya lalu keluar dari ruangan Andre disusul oleh Andre yang berjalan di belakang Laura.
Mobil yang dikendarai Andre sampai di depan mansion kedua orang tua Laura, karena saat ini Laura dan Bella memutuskan tinggal di mansion kedua orang tuanya. Apalagi ia sedang mengandung.
“Laura!” panggil. Andre Saat Laura akan turun dari mobil.
“Hmm, jawab Naura.”
“Apa aku boleh menemui ayahmu sekarang?” tanya Andre. “Maukah kamu membantuku untuk berbicara dengan ayahmu.”
“Memangnya apa yang harus kau bicarakan dengan Daddy?” Andre menggenggam tangan Laura.
”Aku ingin kembali padamu, aku ingin membangun rumah tangga yang bahagia bersamamu, dengan Bella serta calon anak kita!”
Laura melepaskan tangannya dari tangan Andre kemudian ia menatap wajah Andre lalu tersenyum nanar. “Sebelum kau berbicara dengan ayahku sadari dulu sesuatu,” balas Laura.
“Aku harus bagaimana Laura. Aku sudah menyadari semuanya, aku akui aku bersalah dan ...”
“Maaf ....” potong Laura. “Kau sama sekali tidak pernah meminta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu.”
Deg