
“Gaby bagaimana?” bisik Nael ketika suara derap langkah Arsen semakin terdengar dan sepertinya Arsen akan menuju ke kamar mandi yang sedang ditempati mereka.
Gabby menoleh ke belakang, kemudian ia mencium bibir Nael. “Lanjutkan saja!”kata Gaby. Entah kenapa, Gairah Gabby semakin menjadi-jadi, ketika ada Arsen diluar begitupun Nael.
Ia kembali memompa tubuhnya Gabby dengan gerakan pelan, ia membekap mulut Gabby agar Gaby tidak mengeluarkan suara.
“Gabby, kau di dalam? tanya Arsen.
“Apa ada orang di dalam?” tanya Arsen lagi ketika tak ada yang menjawab.
Saat ia sudah berada tepat di toilet yang sedang ditempati oleh Gabby dan Nael, ia menghela nafas, saat tak terdengar suara apa pun. Ia berusaha meyakinkan hatinya bahwa tidak ada siapapun di dalam toilet.
Arsen mengusap wajah kasar, memangnya Apa yang akan terjadi dengan Gabby. Sejujurnya, ia masih berusaha membohongi hatinya, Ia pun berbalik kemudian Ia memutuskan untuk kembali ke pesta, berharap Gabby sudah ada di sana.
Saat ia sudah melangkah, terdengar suara gaduh dari toilet yang di tempati oleh Gabby, dan ternyata Nael tak sengaja menjatuhkan hand sanitizer yang ada di wastafel.
Seketika degupan jantung Arsen semakin keras saat mendengar suara tersebut. Ia pun berbalik, ia sudah tidak bisa lagi menahannya lagi. Sedari tadi, ia mencoba untuk membohongi diri bahwa Gabby dan Nael tidak ada di sana. Tapi sekarang, ia tidak ingin lagi membohongi dirinya.
Ia pun berbalik, kemudian berjalan kearah toilet tersebut. Tepat saat akan Ia akan membuka paksa pintu toilet, terdengar suara derap langkah dari belakang membuat Arsen menoleh.
“Arsen!” Panggil Kristine. Ternyata, Kristin yang memanggil Arsen, membuat Arsen menggeram. “Apa kata-kataku belum cukup? kenapa kau terus menggangguku?” Arsen menatap Kristine dengan begis seraya menghampiri Kristine. Rasanya, ia igin mencekik wanita di depannya ini. Tapi sebisa mungkin, ia menahannya.
“Arsen!” Kristine bergidik saat melihat tatapan Arsen. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, sebelum mengatakan hal yang sangat penting pada Arsen.
“Ka-kau mengandung?” tanya Arsen, Kristine mengangguk pelan, helaan nafas terlihat dari wajah Kristine saat melihat reaksi Arsen, karena Ia yakin, Arsen akan bertanggung jawab.
Arsen tersadar, kemudian ia mengusap wajah kasar, matanya berkilat menatap Kristine dengan tajam. “Gugurkan kandungan itu!” kata Arsen dengan menggeram. Rupanya, kelegaan Kristine hanya bertahan sebentar.
“A-arsen ......” Kristine hanya mampu memanggil nama Arsen, ucapan Arsen bagai bom yang menghancurkan dirinya sampai berkeping-keping “Ma-maksudmu Arsen?” tanya Kristin terbata-bata.
“ Aku tidak ingin anak itu menghalangi jalanku, dan aku tidak ingin bertanggung jawab atas kehamilanmu,” kata Arsen lagi, membuat mata Kristin membulat.
“Arsen, bagaimana mungkin ....” Kristine mencoba menarik menarik tangan Arsen. Lalu menyimpan tangan Arsen di perutnya, berharap Arsen luluh.
Tapi sayangnya, apa yang di lakukan Kristine, membuat Arsen murka, dan seketika. Ia langsung mendorong tubuh Kristine. Higga tubuh Kristine terhuyung ke belakang. Beruntung, Kristine bisa menyeimbangkan dirinya hingga ia tak terjatuh.
“A-arse ...." Kristine menatap Arsen dengan tatapan tak percaya. Ia tak menyangka Arsena akan melakukan itu padanya. Padahal Arsen Tahu ia sedang mengandung.
Arsen mengusap wajah kasar, kemudian menghampiri Kristin. “Sungguh aku tidak peduli denganmu dan anak sialanmu. Jangan pernah mengganggu aku, atau kau akan tahu sendiri apa akibatnya.” kata arsen dengan penuh penekanan. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya, untuk kembali ke pesta dan melupakan untuk membuka pintu toilet.
Scroll gengs
Padahal aku udah bilang jangan komen Gabby murahan..Tapi tetep aja ada yang Komen gitu, kan jadi syedih 😌😌