
Senyum Savana begitu mengembang ketika membuka paket miliknya yang baru saja tiba, dia langsung menyimpan beberapa PC artis Korean di meja riasnya. Dia mendudukkan diri di kursi kemudian melihat koleksinya satu persatu.
"Ah, seandainya kalian menjadi suamiku," ucap Savana dengan konyolnya. Padahal jelas-jelas dia mencintai Joshua.
***
Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika Savana keluar dari kamar dengan niat untuk makan malam, dan kebetulan Joshua juga keluar dari kamarnya.
"Paman, aku lapar," ucap Savana karena memang sampai detik ini, dia masih memanggil Joshua dengan sebutan paman.
"Kau lapar? Makan sana," ucap Joshua.
"Tapi, aku tidak punya uang untuk memesan makanan."
Joshua memejamkan matanya. "Uang yang satu minggu lalu aku berikan, habis?" tanya Joshua, padahal satu minggu lalu dia memberikan uang yang sangat banyak pada Savana, tapi rupanya dalam waktu satu minggu uang itu habis.
Savana memang terlahir dari keluarga yang kaya raya, bahkan orang tuanya bisa dibilang adalah konglomerat. Dia anak tunggal, tapi setelah menikah, semua fasilitas dari keluarganya diberhentikan, lantaran sang ayah merasa kesal karena Savana memutuskan untuk menikah.
Selama ini, Savana dipaksa untuk menuruti keinginan ayah dan ibunya, karena itulah dia dan Ameera nekat menjebak Joshua agar dia dinikahi oleh lelaki itu.
Setelah menikah dengan Joshua, Savana pun merasa bebas. Terlebih selama enam tahun ini, Joshua selalu memberikan uang yang banyak. Namun, karena kecintaannya pada dunia k-pop, dia rela menghamburkan uang untuk membeli hal-hal tersebut. Dia juga putus kuliah karena benar-benar ingin bebas.
Sebelum menikah, orang tuanya selalu menekan Savana, untuk terus menjadi yang terbaik, bahkan Savana harus selalu belaja Dan ketika menikah dengan Joshua, sehari-hari dia hanya menghabiskan waktu untuk menonton drama kesukaannya.
"Maafkan aku, Paman."
Joshua merasa ini tidak bisa dibiarkan. Savana harus dewasa, dan dia merasa hsrus mengajarkan istrinya bertanggung jawab dengan apa yang dia miliki.
"Paman ingin berbicara denganmu."
"Iya, bicara saja. Aku akan mendengarkannya," jawab Savana.
"Duduk," ucap Joshua hingga kini, pasangan suami-istri itu sudah duduk di sofa.
"Kau akan terus hidup seperti ini?" tanya Joshua membuat Savana mengerutkan keningnya.
"Maksud Paman?"
"Uang bukan masalah bagi Paman, kau boleh membeli apapun yang kau mau, karena kau istri Paman, tapi tak bisakah kau bertanggung jawab dengan apa yang kau terima?"
"Aku tidak mengerti dengan apa yang Paman katakan."
Joshua sungguh malas untuk berbicara panjang lebar, sehingga kini dia hanya berkata, "Paman akan memotong jatahmu."
"Apa? Mana bisa begitu? Bagaimana mungkin paman akan memotong jatahku?" tanya Savana, dia menatap Joshua dengan sorot tak terima. Pria ini satu-satunya sumber uang dia sekarang, tapi tidak bisa membantah lelaki itu.
“Ya, atau paman akan memotong semua jatahmu."Joshua langsung memberi ancaman membuat Savana tidak berkutik. Dan pada akhirnya Savana hanya bisa mengangguk.
"Ya sudah, kau ingin makan apa?"
***
"Sekarang, aku harus bagaimana? Paman Joshua bahkan mengurangi separuh jatahku," ucap Savana.
Saat ini, Savana sedang bertemu dengan Ameera di sebuah kafe. Rasanya, dia bisa gila ketika Joshua memotong jatahnya.
Ameera terdiam berpikir. Dia memutar otak mencari cara, agar pamannya mau berikan uang seperti semula pada Savana.
"Savana, apa kau sudah pernah tidur dengan paman Joshua?" tanya Ameera.
"Tidur bagaimana? Kita ini, 'kan, tidur terpisah," ucap Savana.
"Ayo ikut aku. Aku mempunyai sebuah cara." Ameera langsung menarik tangan Savana untuk keluar dari kafe.
***
Lalu di sinilah mereka berada.
"Ameera, kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Savana saat Amira mengajaknya ke sebuah toko pakaian dalam.
Mata Savana membulat saat mendengar ucapan Ameera. "Apa kau gila? Bagaimana mungkin aku akan menggodanya? Bagaimana jika dia menganggapku wanita murahan?" tanya Savana membuat Ameera menepuk kening.
"Heh, kau itu istrinya. Mana mungkin dia menganggap begitu. Sudah, ayo ikut aku." Ameera langsung menarik tangan Savana untuk masuk.
Saat masuk, Savana lebih memilih untuk duduk di kursi, sedangkan Ameera mencarikan pakaian-pakaian untuk menggoda Joshua.
***
"Ameera, kau ini gila? Bagaimana mungkin aku akan memakai ini?" tanya Savana ketika mereka sudah berada di mobil.
Ameera membeli beberapa lingerie yang menurut Savana sungguh aneh.
"Sudah, ikuti saja. Kau mau, 'kan, uang jatahmu kembali? Kita akan segera pergi ke Korea untuk konser. Bagaimana mungkin kau tidak membawa uang?"
"Tapi, kan aku bisa meminjam uangmu."
"Tidak ada, Daddy sedang menghukumku karena aku ketahuan berbohong," ucap Ameera membuat Savana menghela napas.
Ameera mengutak-atik ponselnya kemudian memberikan benda itu kepada Savana.
"Coba tonton ini dan ikuti gerakannya," ucap Ameera yang memperlihatkan tayangan dewasa pada Savana, membuat wanita itu langsung melemparkan ponselnya karena mendengar suara yang sangat mengerikan.
"Bagaimana mungkin aku menonton itu?" tanya Savana.
Ameera mengambil ponselnya lalu kembali memberikan itu pada Savana. "Cepat kau tonton saja untuk jadi referensi bagaimana cara yang benar untuk menggoda Paman Joshua."
Setelah mengatakan itu, Ameera langsung menyalakan mobil dan menjalankannya. Sementara Savana, terus menonton tayangan yang ada di ponsel itu meski berkali-kali dia memejamkan mata, tapi selalu mengintip karena penasaran.
***
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Ameera sampai di basement apartemen Joshua.
"Kau ingin mampir?" tanya Savana.
"Tidak, sekarang pergilah kau apartemen, dan bersihkan dirimu, berdandan yang rapi juga praktekan apa yang aku bilang tadi. Rayu sampai kau mendapatkan lagi jatahmu."
Savana pun turun dari mobil, kemudian berjalan ke unit apartemennya. Sementara Ameera, langsung memutarbalikan mobil kemudian keluar dari area basement.
***
Waitu menunjukkan pukul tujuh malam ketika Savana sudah memakai gaun tidur yang sangat tipis. Ini sudah sepuluh menit berlalu dia berdiri di depan kamar Joshua, tapi dia ragu untuk masuk ke kamar suaminya.
Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Savana mengetuk pintu hingga tak lama Joshua membukanya dari dalam.
"Ada apa?" Joshua langsung menghentikan ucapannya ketika melihat Savana yang memakai gaun yang tipis. Jakunnya naik turun karena penampilan Savana benar-benar menggiurkan. Sebagai seorang lelaki, tentu saja ada salah satu bagian tubuh yang menegang.
"Paman Joshua," panggil Savana. Dia berusaha berbicara sesantai mungkin, padahal sekarang dia merasakan malu yang luar biasa.
"A-apa?" jawab Joshua dengan terbata. Tatapan matanya tertuju ke arah salah satu bagian tubuh Savana, membuat jiwa kelakiannya meronta ingin segera menarik wanita itu ke dalam kamar. Namun, tentu saja dia masih mempunyai akal sehat.
"Kakiku pegal. Bisakah kau memijitiku?"
Jika biasanya Joshua akan marah karena perintah seperti itu, tapi sekarang kondisinya berbeda sehingga dia pun langsung membuka pintu kamar lebar-lebar, kemudian mempersilahkan Savana masuk.
Saat masuk, Savana memejamkan mata. Tangannya sudah bergerak untuk membuka gaun tidur, begitupun dengan Joshua yang sepertinya ingin sekali merangkul tubuh sang istri.
"Pa-Paman, di sini gerah. Boleh aku membuka gaun tidurku?" tanya Savana.
"Oh, buka saja," jawab Joshua dengan dengan antusias. Padahal dia tidak pernah seantuasias ini jika berhubungan dengan Savana.
"Amera bagaimana mungkin kau menyarankanku untuk melakukan ini?" Savana mendadak menyesali keputusannya, karena dia merasakan malu yang luar biasa, tapi dia sudah tidak bisa mundur. Akhirnya, dia pun memberanikan diri untuk melepas gaun tidurnya kemudian berbalik.
Saat Savana berbalik, mata Joshua berbinar. Dia maju kemudian langsung merangkul tubuhnya.
"Argh!" Tiba-Tiba, Savana berteriak saat Joshua sudah membuka celananya. Wanita itu terlalu terkejut dengan apa yang dilihat, hingga dia langsung keluar dari kamar Joshua, hingga membuat Joshua melongo