
Ayana mematikan panggilannya, kemudian ia terdiam sejenak mencoba berpikir menemui Jordan atau tidak. Namun, sepersekian detik ia berpikir lebih baik menemui mantan suaminya, untuk membicarakan dan untuk mempertegas semuanya
Ayana membereskan mejanya, kemudian ia langsung mengambil tasnya. Lalu setelah itu ia bangkit dari duduknya lalu pergi ke ruangan Raymond .
“Tuan!” panggil Ayana, Raymond yang sedang duduk di sofa sambil mengutak-atik ponselnya menoleh.
“Why?” tanya Raymond. Ia melambaikan tangannya, mengisyaratkan Ayana untuk duduk di sisinya. Namun, Ayana masih terdiam di tempat.
“Tuan, bolehkah aku meminta ijin sebentar, aku ingin bertemu dengan seseorang!”
Raymond mengerutkan keningnya, saat mendengar ucapan Ayana, karena biasanya ayahnya tidak pernah pergi seperti ini.
“Siapa teman yang ingin kau temui?” tanya Raymon.
“Hanya teman biasa, dan aku mempunyai urusan dengannya,” ucap Ayana lagi.
“Kalau begitu aku permisi, Tuan.” Tanpa mendengar jawaban Raymond. Ayana malah meninggalkan ruangan Raymond begitu saja, ia takut Raymond terlalu banyak bertanya, apalagi ia takut Raymond malah mengikutinya,karena ia ingin berbicara berdua dengan Jordan, untuk mempertegas semuanya.
Dan di sinilah Ayana dan Jordan berada, di sebuah restoran yang cukup private. Jordan sengaja menyewa area privat untuk berbicara dengan Ayana, hingga di ruangan itu tidak ada siapapun dan ruangan itu kedap suara.
Jordan dan Ayana sama-sama terdiam, ini sudah 10 menit berlalu. Tapi mereka belum ada yang berbicara sepatah pun, hingga akhirnya Ayana mengangkat kepalanya.
“Kenapa kau ingin menemuiku?” tanya Ayana, ia mengangkat kepalanya dan menatap Jordan. Ia menyipitkan matanya saat melihat wajah Jordan yang sembab dan penuh luka. Tapi, ia tidak ingin repot-repot berpikir.
“Aku minta maaf atas apa yang selama ini aku lakukan,” ucap Jordan. Ia langsung mengangguk dan tidak berani menatap Ayana.
“ Aku akan memaafkanmu. Tapi, entah kapan!” jawab Ayana dengan singkat, padat dan jelas. Ia hanya tidak ingin memperpanjang masalahnya dengan Jordan.
Mata Jordan membasah saat melihat Ayana, wanita di depannya ini begitu tegar. Setelah mengetahui bahwa Moa adalah putrinya, penyesalan menubruknya. Apalagi jika ingat apa yang ia lakukan pada Ayana dan putrinya.
“Bolehkah aku bertemu Moa?” tanya Jordan.
“Tidak, aku tidak ingin kau bertemu dengan putriku. Dia sudah terlanjur hancur karenamu,” ucap Ayana dengan singkat. “Aku rasa, ini pertemuan terakhir kita. Tolong jangan menemuiku lagi dan jangan menemui Moa. Itulah cara kau agar bisa mendapat maaf dariku!” setelah mengatakan itu, Ayana pun kembali bangkit, ia sungguh tidak ingin berurusan lagi dengan mantan suaminy.
Setelah Ayana pergi, jordan masih terdiam di tempat. Ia sudah menduga, reaksi Ayana pasti akan begini. Ia sudah terlalu lama, menimbulkan luka pada mantan istri dan putrinya.
Helaan nafas terlihat dari wajah Jordan, haruskah dia menyerah dan tidak lagi mendekati putrinya. Jujur saja, saat ini ia ingin datang ke hadapan Moa dan ingin memeluk gadis kecil itu dan mengumumkan kata maaf sebanyak-banyaknya. Tapi, ia tidak seberani itu, apalagi setelah apa yang ia lakukan pada putrinya.
Tak lama, bahu Jordan bergetar. Ia menangis tergugu saat menyadari dosanya di masa lalu Bukan hanya pada Ayana, taja tapi juga pada Leticia, karena dialah sumber masalahnya. Seandainya saat itu ia tidak tergoda pada Ayana, tentu saja semua tidak akan seperti ini
Setelah cukup lama terdiam, Jordan pun bangkit dari duduknya. Kemudian ia langsung keluar dari area restoran. Saat keluar dari area restoran, Jordan melihat Laura yang sedang duduk di restoran itu
Melihat Laura, ia teringat Nael sahabatnya. Beberapa kali, Nael mencoba menghubunginya. tapi dia tidak menggubrisnya dan sekarang saat melihat Laura, ia malah teringat dengan nael dan ia sadar ia begitu egois.
Jordan pun memutuskan untuk menghampiri Laura terlebih dahulu sebelum ia meninggalkan Restoran.
“Paman Jordan,” ucap Laura.
“Ka sedang sendiri?” tanya Jordan lagi sambil menarik kursi. “Dimana Naura?” tanya Jordan lagi, Tiba-tiba Laura menoleh ke belakang saat mendengar suara adik kembarnya. Rupanya, Naura Baru saja datang bersama Seina dan juga Joanna.
“Kalian lama sekali!” gerutu Laura, saat ketiga Gadis itu datang menghampiri meja yang ditempati Laura dan Jordan. Saat Naura datang, Jordan mengerutkan keningnya saat merasa mengenal salah satu wanita yang bersama Naura dan Seina. Ia berdecak kesal saat mengingat wanita itu, wanita yang menyebutnya pria tua.
Jordan pun bangkit dari duduknya, membuat Laura menoleh. “Paman, kau akan pergi?” tanya Laura.
“Tolong sampaikan salam Paman pada Daddy Mommy kalian!” ucap Jordan, setelah itu ia pun pergi meninggalkan Laura Sedangkan Joanna Naura dan Seina. Langsung duduk.
“Apa kalian mengenal Paman tua itu?” tanya Joana tiba-tiba. Rupanya Jordan mendengar ucapan Joanna hingga ia menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah meja.
“Apa kau tak punya sopan santun?” Hardik Jordan. Joana hanya menoleh sekolah.
“Apa kalian saling mengenal, Paman?” Tanya Seina pada pamannya.
“Girls, apa kalian ingat kejadian yang aku ceritakan di lift!”
Seketika Laura Naura dan Seina langsung melihat ke arah Jordan. “Maksudmu paman ini yang ....” Laura menghentikan ucapannya, mereka bertiga menatap Jordan dengan tatapan tak percaya.
Jordan memejamkan matanya, kemudian ia lebih memilih berbalik. Apalagi ada Seina keponakannya dan Laura serta Naura anak sahabatnya, bisa jatuh pamornya jika Arsen ataupun Nael dan Gaby tahu tentang kejadian tempo hari.
••••
Setelah keluar dari restoran, Ayana menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia merasakan lega Bukan main ketika bertemu dengan Jordan dan mempertegas, semuanya . Sekarang, ia tidak perlu mempertakutkan apapun lagi
Saat ia akan berjalan, ia menghentikan langkahnya, saat melihat Raymond sedang bersidekap. Ah, dia lupa siapa Raymond, tentu saja yang pasti Raymond mengikutinya.
Raymond yang menyadarkan tubuhnya ke belakang langsung melambaikan tangannya pada Ayana. Hingga mau tak mau, Ayana pun menghampiri Raymond.
“Jadi kau sudah berteman dengan mantan suamimu?” tanya Raymond, raut cemburu tidak bisa disembunyikan dari wajah tampannya. Ayana menggigit bibirnya.
“Sebelum ....”
Sebelum Ayana menjawab lebih lanjut, Raymond malah membukakan pintu mobil untuk Ayana. “Masuk!” kata Raymond, membuat Ayana bergidik. Sungguh,.ia takut sekali dengan ekspresi Raymond saat ini.
“Ki-kita mau ke mana?” tanya Ayana, ketika Raymond sudah menjalankan mobilnya. Ekspresi Raymond benar-benar serius, membuat Ayana benar-benar bergidik.
“Kehadapan Altar ... ”
Gengs bisanya sebab aku cuma upload 500 kata. Nah ini, aku sebab 1000 kata, jadi walau update cuman dua bab tapi ini sama kaya kalian baca 4 bab, aku ga ada waktu buat ngedit jadi di satuin aja ya.