Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Hal yang tidak tau


Ayana tersadar saat duduk di pangkuan Raymond, kemudian ia berniat bangkit bangkit dan memilih untuk duduk di sofa. Namun, Raymond menahannya.


“Tuan, aku tidak nyaman,” kata Ayana saat Raymond menahan pinggangnya


“Apa yang kau bicarakan dengan mantan suamimu?” tanya Raymond, ia malah membahas hal lain dengan Ayana.


Ayana menunduk, ia sama sekali tidak berani menatap Raymond. “Aku hanya mempertegas, bahwa aku tidak ingin dia menemui aku ataupun Moa lagi. Dan aku tidak ingin ada sangkut pautnya lagi dengannya,” jawab Ayana, seketika rasa kesal yang dirasakan oleh Raymond hilang seketika, saat mendengar jawaban Ayana.


Raymond pikir, Ayana akan tergoda oleh bujuk rayu Jordan. Raymond pikir, Ayana akan terhasut lagi oleh mulut manis Jordan. Tapi ternyata jawaban Ayana sungguh di luar dugaannya dan kenapa kini hatinya merasa berbunga-bunga.


Wajah Raymond memerah, ia memalingkan tatapannya ke arah lain, agar Ayana tidak melihat bahwa dia sedang tersipu. Raymond menetralkan rasa gugupnya, ia kembali lagi menoleh ke arah Ayana.


“ jika sudah begitu. Aku akan segera menemui ayahmu dan Ayo kita menikah secepatnya!” kata Raymond, kali ini Ayana menghela nafas besar. Lalu, ia memaksa bangkit dari paha Raymond dan sepertinya, ia harus berbicara serius dengan Raymond.


“Tuan, bolehkah aku berbicara!” kata Ayana, Raymond menggangguk.


“Hmm, bicaralah!”


Ayana menghentikan ucapannya sejenak, kemudian menghiru oksigen sebanyak-banyaknya. “Aku tidak menuntutmu untuk bersikap baik dan bersikap ramah padaku. Tapi jika kita menikah, aku takut kau akan menatapku sama seperti sekarang, menatapku sebagai sekretarismu bukan sebagai istrimu dan aku akan merasa bahwa aku tidak di cintai olehmu, karena jujur saja aku selalu merasakan tidak percaya diri saat sedang bersamamu.”


Ayana menutup ucapannya dengan menunduk, membuat Raymond tertegun. Ia lupa, walaupun ia sudah memperlihatkan cintanya yang begitu menggebu-gebu pada Ayana. Tapi sampai saat ini Ia tetap menatap Ayana seperti dulu, layaknya menatap Ayana sebagai sekretarisnya. Ia juga lupa, ia bahwa selama ini ia tak mendekati Ayana secara alami, dia hanya terus memaksa Ayana, tanpa menanyakan apa yang Ayana rasakan.


Raymond pikir, Raymond lebih suka membuktikan dengan tindakan. Tapi ternyata, Apa yang dipikirkan Ayana berbeda dengan apa yang dipikirkan olehnya, ditambah lagi ia belum menyatakan cintanya pada Ayana.


Raymond menegakkan tubuhnya, kemudian ia menatap Ayana. “Jika aku mengatakan Aku mencintaimu, apa kau percaya?”


Ayana menggeleng dengan cepat, “Tidak, aku tidak percaya. Aku pernah menolakmu dan menyakiti hatimu sedemikian rupa, akan mustahil jika kau mencintaiku dengan tulus. Apalagi Aku adalah seorang single parent yang mempunyai anak. Kau bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari pada aku.”


Raymond menghela nafas kemudian menghembuskannya ia menarik rambut tangan Ayana hingga kini mereka duduk saling berhadap-hadapan.


••••