Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Ada Yang Aneh


Kedua musuh bebuyutan itu saling menatap dengan tatapan yang sama-sama tajam. Rahang Nauder mengeras saat melihat Alvaro ada di dekat mobilnya. Namun, ia harus menahan emosinya karena ia berada di depan Naura terlebih lagi mereka sedang berada di depan umum dan ia harus bisa menahan dirinya sendiri. Sedangkan Alvaro menyeringai santai.


“Ayo Sayang!” Nauder mengajak Naura untuk berjalan ke arah mobilnya. Dia tidak ingin meladeni Alvaro karena sudah dipastikan Alvaro pasti akan memancing emosinya. “Minggir!” titah Nauder pada Alvaro yang tiba-tiba menghalangi jalannya. alvaro tidak menjawab, ia fokus pada tangan Naura dan tangga Nauder yang sedang saling menggenggam..


Alvaro menyeringai santai, kemudian lelaki itu menatap Naura dengan tatapan santai. “Naura Apa kau tahu pekerjaan suamimu?” Tiba-tiba Alvaro berkata seperti itu, membuat Nauder membulatkan matanya, tangannya mengepal erat rasanya ia ingin sekali berbuat sesuatu pada pada musuhnya ini.


Naura memejamkan matanya, ia sungguh malas berada di antara perdebatan Kedua lelaki ini. “Ayo Nauder,” Ayo!” ajak Naura..Pada akhirnya, Naura menarik tangan Nauder.


Saat tangannya sudah di tarik oleh Naura, Nauder masih menatap Alvaro dengan tatapan permusuhan, hingga pada akhirnya Nauder melepaskan pandangannya dari Alvaro dan mengikuti langkah istrinya, tentu saja Alvaro tidak menyerah begitu saja.


“Naura, apa kau tahu pekerjaan macam apa yang di lakukan Nauder di belakangmu.” Tiba-tiba Alvaro berbicara membuat Naura yang akan berjalan ke mobil langsung menghentikan langkahnya begitupun juga Nauder yang juga menghentikan langkahnya


Mata Nauder membulat saat mendengar ucapan Alvaro, tangannya mengepal. Seandainya bukan di tempat ramai, sudah di pastikan Nauder Takan diam Saja.


“Ayo Nauder!” Naura kembali menarik tangan Nauder, ia tidak ingin mendengar perdebatan antara Alvaro dan suaminya. Sudah di pastikan perdebatan pasti akan terjadi dan mereka akan menjadi pusat perhatian.


“Nauder apa kau tau apa yang di lakukan istrimu di belakangmu?” tanya Alvaro lagi, ia masih berusaha memprovokasi Nauder, rasanya ia ingin sekali melihat Nauder kesal.


“Memangnya apa yang aku lakukan di belakang Nauder?” Naura benar-benar tidak mengerti dengan laki yang di depannya ini.


“Memangnya aku melakukan apa?” Naura mengulangi pertanyaannya. Kali ini ia menantang Alvaro. Entah kenapa Naura bisa mengucapkan hal seperti itu. Padahal Ia juga takut jika semuanya terbongkar.


•••<


Tubuh Alvaro dia mematung saat Naura menantangnya, Sial! harusnya dia tidak bermain-main dengan Naura. Jika semuanya terbongkar sekarang, maka dia tidak punya bahan lagi untuk mengancam Naura.


“Memangnya apa yang dilakukan istriku di belakangku?” tanya Nauder.


“Hmm, apa yang aku lakukan di belakang suamiku?” kali ini Laura ikut menimpali dengan bertanya pertanyaan yang sama.


Alvaro menggeleng. “Terserah kalian saja.”


Karena tak ingin terlihat kalah, Alvaro pun lebih memilih berbalik. Lalu setelah itu masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Laura dan Nauder yang masih berdiam diri dan belum masuk ke dalam mobil.


Setelah mobil Alvaro tidak terlihat, Naura dan Nauder saling pandang. “Kau percaya perkataannya?” tanya Naura


“Aku gila jika percaya pertanyaannya, lagian memangnya apa yang kaul lakukan di belakangku, tidak mungkinkan kau melakukan hal yang aneh-aneh," jawab Nauder, tiba-tiba hati Naura terasa berdenyut nyeri saat mendengar ucapan Nauder yang sangat percaya padanya. Tapi ia hanya bisa menyamarkannya dengan senyuman.


“Ya sudah ayo masuk,” ajak Nauder dan mereka pun masuk ke dalam mobil, kemudian Nauder memakaikan seat bel untuk Naura dan setelah itu memakaikan untuk dirinya sendiri lalu lelaki itu mulai menyalakan mobilnya dan menjalankannya.


Mobil sudah melaju, tiba-tiba Naura terpikirkan sesuatu. Hingga ia menoleh ke arah Nauder yang sedang fokus mengemudi. “Nauder!” panggil Naura


.


“Sepertinya jika tidak ada hambatan 3 atau 4 hari ini,”


“Syukurlah.”


”Aku ingin menikmati waktu berdua denganmu di pulau pribadi,” jawab Nauder. Lagi-lagi Naura mengembangkan senyumnya


“Aku juga ....” Tiba-tiba Nauder menggerakkan tangannya, kemudian mengelus perut Naura.


“Dan aku tidak sabar menunggu jagoan kita akan tumbuh di sini.”


Tiba-tiba tubuh Naura diam mematung rasa sesak langsung menghantam. Nafasnya terasa tercekat saat mendengar ucapan suaminya. Yang pertama kali tidur dengannya adalah Alvaro. Lalu bagaimana jika dia mengandung dalam waktu dekat ini, apakah itu anak Alvaro atau Nauder.


Naura bertanya-tanya dalam hati..Namun Tak lama dia menggelengkan kepalanya.


“Kenapa, apa kau tidak senang jika kita mempunyai anak?” tanya Nauder yang melihat ekspresi Naura tampak aneh.


“Tidak ... Tidak bukan begitu maksudku,” jawab Naura, ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak menampilkan kerisauannya. Padahal ia ingin menjerit. Bagaimana jika ini anak adalah anak Alfaro.


•••


“Aisssshhh!” Alvaro berteriak dia memukul setir kemudi ia kesal karena ia gagal memprovokasi Nauder dan Naura. Padahal, Ia ingin sekali memancing emosir Nauder. Tapi ternyata ia tidak berhasil.


Alvaro meminggirkan mobilnya, Ia memarkirkannya di sisi lalu mematikan mesin mobil ia berusaha untuk menenangkan dirinya dengan menyandarkan tubuhnya ke belakang, ia membuka dashboard kemudian ia mengambil sebuah kertas yang tak lain adalah foto Naura


Ya saking terobsesinya Alvaro pada Naura, ia membawa foto Naura di manapun, di mobil dan tempat lain-lain.


“Naura, harusnya Aku yang menggenggam tanganmu. Harusnya aku yang bersamamu bukan dia.” Alvaro langsung mencium foto Naura seolah Naura ada di depannya dan setelah itu ia pun langsung menyimpan kembali foto Naura di dasbor, ia menyalakan mobilnya dan menjalankannya.


Tiba-tiba, Alvaro terpikirkan sesuatu. Ia berencana untuk pergi ke suatu tempat dan di sinilah Alvaro berada, di depan sebuah pemakaman keluarganya.


Hari ini adalah hari kematiann ayahnya, awalnya Alvaro tidak ingin datang. Tapi semakin ia menolak untuk datang, semakin hatinya tidak tenang. Hingga pada akhirnya, Alvaro pun memutuskan untuk datang kemari


Dengan langkah pelan, Alvaro langsung berjalan ke arah dalam. Saat memasuki area pemakaman ini, tiba -tiba, sikap Arogan Alvaro yang selama ini ia perlihatkan menghilang begitu saja, Alvaro terlihat seperti anak kecil yang kehilangan arah


Setelah sampai di makam ayahnya, Alvaro langsung mendudukkan diri di tanah ia mengusap lembut nisan ayahnya..


”Yah, aku datang," ucap Alvaro dengan suara yang super pelan, ia berbicara dengan nada yang sedikit bergetar apalagi saat ia mengingat tentang penyebab ayahnya meninggal.


Ayahnya adalah pahlawannya. Ayahnya adalah segalanya, tapi ayahnya pergi begitu cepat dan kepergian ayahnya ada hubungannya dengan Nauder dan ibu Nauder, hingga sampai sekarang ia begitu membenci Nauder dan ia tidak akan pernah lupa di mana kejadian Masa Lalu di mana saat itu ....