Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Cinta


Cinta Tulus Setelah Bercerai


Gengs mau promo, tapi jangan di bully ya. Ini yang mau ikut aja, yang ga ikut skip aja. Tayang Di K*B*M APP dan udah tamat. Dengan judul Cinta Tulis Setelah Bercerai.


Kalau kalian ga mau baca tinggal Scroll ya, masih ada dua bab lagi di bawah ini.


Kalau ada yang kesusahan beli koin sama mau tanya2 bisa di no 088222277840.


Di sini di tarus 5 bab, kalau mau kelanjutannya kalian bisa langsung kesana ya.


Judul novel Cinta Tulus Setelah Bercerai.


Bab 1


Iren menatap makanan di depannya dengan mata berbinar, ia bangga pada dirinya sendiri karena berhasil memasak menggunakan tangannya sendiri.


Hari ini, ia sengaja memasak dengan tangannya sendiri karena berharap bisa makan malam bersama Albi, suaminya. Terlebih lagi, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.


Setelah puas memandang masakan yang telah ia buat dan terhidang rapih di atas meja makan, Iren pun berbalik dan pergi ke kamarnya, untuk bersiap-siap.


Setelah mandi, Iren membuka lemari, jari lentiknya memilih-milih dres yang menurutnya cocok untuknya. Dan pilihannya, jatuh pada dres berwarna merah, Iren mengambil dres tersebut kemudian memakainya.


Iren tampak cantik saat memakai dres merah, dan tatanan rambut sebahu, di tambah lagi makeup tipis yang semakin membuat Iren terlihat cantik alami.


Setelah di rasa penampilannya sempurna, Iren mengambil ponselnya dan melihatnya, berharap sang suami membalas pesannya.


Namun sayang, ponsel Iren tak ada notifikasi apapun. Bahkan Albi hanya membaca pesannya tanpa membalasnya.


"Ia pasti pulang ... Pasti pulang," gumam Iren, yang masih berharap bahwa suaminya akan pulang dan merayakan hari spesial untuk yang pertama kalinya.


••


Waktu menunjukan pukul 9 malam, ia sudah menunggu selama dua jam, matanya terus menatap ke arah pintu, berharap suaminya datang.


Tak lama, ia menunduk. Bahunya mulai bergetar. Ia menangis. Ternyata sangat sulit berpura baik-baik saja. Hari ini, Iren terlalu berharap. Padahal, ia tau bahwa suaminya takan mungkin datang tepat waktu hanya karena keinginannya.


Rasanya sungguh menyakitkan dan sangat menyesakkan. Tak lama, tangis yang tadi hanya berupa isakan, berubah menjadi tangisan yang kencang, tangisan itu terdengar sangat pilu.


Setelah lelah menangis, kantuk menyerang Iren. Ia melipat tangannya dan menyimpannya di meja, lalu ia menaruh kepalanya di tangan, menjadikan tangan sebagai bantal.


••


Waktu menunjukan pukul 1 malam, suara hujan dan petir saling bersautan membangunkan Iren yang sedang tertidur.


Iren mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah dingding unrtuk melihat jam. Ia tersenyum. getir saat melihat jam dan waktu menunjukan pukul 1 pagi. Tak ada harapan lagi, suaminya takan pulang.


Dengan hati yang hancur, Iren mengambil piring lalu menaruh makanan ke piringnya. Dengan tersenyum getir, Ia menyuapkan sendok demi sendok kemulutnya.


Saat sudah selesai, Iren bangkit dari duduknya, tak lupa ia mengambil ponselnya dan berbalik, kemudian ia menapaki tangga untuk pergi ke kamarnya.


Tanpa membersihkan wajahnya dan tanpa membuka gaun yang di pakainya, Iren membaringkan dirinya dengan posisi meringkuk dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal.


Tatapannya lurus kedepan, ia menatap jendela dengan tatapan kosong, tatapan itu penuh luka. Selalu seperti ini setiap malam, sendirian, sunyi dan kesepian. Tak, lama bulir bening kembali membasahi pipinya, ia masih belum bisa menghilangkan rasa sesaknya.


Iren pikir, saat ia berhasil menjebak Albi, menjadikan Albi sebagai miliknya dan menikah dengan Albi, kehidupannya akan sempurna. Namun, Iren salah. Semuanya malah berbanding terbalik dengan keinginannya.


Ya, satu bulan dua bulan, setelah menikah, Memang semua berjalan lancar. Kehidupan pernikahan mereka sama seperti kehidupan pernikahan lain pada umumnya, pernikaha yang hangat dan penuh cinta.


Namun, semuanya berubah kala ayah Iren terkena kasus korupsi. Dunia Iren menggelap kala sang ayah di tetapkan sebagai tersangka, ayah Iren terbukti melakukan korupsi di rumah sakit tempatnya bekerja. Dan karena kasus ayahnya, Iren yang merupakan seorang dokter bedah di rumah sakit yang sama dengan ayahnya bekerja pun memilih mengundurkan diri karena merasa malu dan tak kuat menerima gunjingan dari sesama dokter.


Tak cukup duka yang Iren terima karena sang ayah di penjara. Sikap Albi pun berubah padanya.


Sikap Albi menjadi dingin, semakin hari sikap Albi semakin tak berperasaan. Ia hanya bagaikan pajangan yang tak terlihat di mata suaminya.


Dan yang lebih menyakitkan, adalah saat Iren bertanya kenapa Albi berubah, dan jawaban Albi adalah ia malu mempunyai mertua yang menjadi tersangka kasus korupsi dan membadingkan Iren dengan mantan kekasihnya yang kaya dan sepadan dengan dirinya.


Perih, dan sangat menyesakkan. Di tengah luka yang menerjangnya, ia berusaha iklas dan selalu berpikir bahwa apa yang ia alami kini adalah sebuah karma, karma karena dulu ia merebut Albi dari kekasihnya.


Iren hanya sebatang kara, aset ayahnya sudah di sita oleh bank, dan yang ia bisa lakukan adalah tetap bertahan bersama Albi, walaupun sangat menyakitkan.


Dan tau apa yang paling menyakitkan dari semua sikap dan ucapan Albi, Albi mengatakan pada Iren bahwa Albi masih mencintai mantan kekasihnya. Cinta Iren yang begitu besar pada Albi membuat Iren terus menguatkan dirinya, berharap suatu saat nanti, Albi bisa mencintainya sama seperti ia mencintai Albi.


Akankah itu terwujud? Sampai kapan ia terus menunggu ...


Entahlah ... Hanya waktu yang bisa menjawab dan hanya rasa sakit yang akan memberi jawaban, akan terus bertahan atau menyerah ...


Bersambung.


Jangan lupa subscribe ya ....


Bab 2


Aku menaruh ponselku dengan kasar ketika melihat pesan darinya, pesan dari orang yang setengah mati aku benci, pesan wanita yang bersetatus sebagai istriku.


Ya, aku membencinya. Dia menggodaku dan menjebakku hingga aku berpisah dengan mantan kekasihku. Dan barusan dia mengirim pesan untuk datang lebih awal karena ingin makan malam bersama, sungguh, membaca pesannya saja membuatku muak.


Setahun lalu, aku menikahinya, karena dia menjebakku dan terpaksa aku bertangung jawab. Dan saat aku menikahinya, aku menyadari bahwa aku masih sangat mencintai mantan kekasihku yang kini telah bahagia bersama orang lain.


Selama dua bulan kami menikah, aku berusaha bersikap baik padanya. Karena aku tak ingin mengecewakan ayah dan Bunda. Namun, saat ayah dan Bunda memutuskan untuk tinggal di turki..Aku merasa lega karena tak harus terus bersandiwara.


Di tambah lagi ayahnya terkena kasus korupsi memudahkanku untuk merubah sikap padanya. Tanpa seorang pun tau, akulah yang memerintah orang untuk menjebak ayahnya agar terbukti korupsi, aku melakukannya untuk memberinya pelajaran dan balasan karena telah berani menjebakku.


Aku ingin menceraikannya. Tapi, aku belum sanggup untuk menghadapi ayah. Dia pasti akan mencecarku dengan berbagai pertanyaan.


Aku yakin, Iren takan mengadu pada Ayah karena hanya aku tempatnya bergantung. Keluarganya sudah jatuh miskin, dan hanya aku yang bisa memberikannya kehidupan yang mewah.


Dulu, aku seorang dokter kandungan dan bekerja di rumah sakit lain, padahal ayahku pemilik rumah sakit besar. Tapi kini, setelah ayah pensiun aku memutuskan untuk menggantikan ayah menjadi direktur utama. Dan dengan statusku sekarang. Aku yakin, Iren takan berani mengadu macam-macam pada ayah atau pun Bunda.


Waktu menunjukan pukul.06 sore, aku bangkit dari dudukku dan menuju ketempat lain, tempat seseorang mungkin sedang menungguku. Biarkan saja Iren menungguku di rumah, seharusnya dia menyadari bahwa dia tak lebih dari sekedar pengacau di hidupku.


35 menit kemudian, aku sampai di sebuah apartemen milik Julia, wanita yang selama beberapa bulan ini menjadi kekasihku. Julia adalah seorang model yang sangat mirip dengan mantan kekasihku.


Setiap bersamanya, hidupku terasa berwarna. Dia selalu bisa menyenangkanku dengan caranya. Bahkan jika Iren mengetahui perselingkuhanku, aku takan mengelak, biarkan saja dia menyadari posisinya.


"Hai, Sayang," sapaku pada Julia. Seperti biasa, ia meyambutku dengan senyuman yang sangat manis, dan mampu membuat dadaku berdesir hebat hanya karena melihat senyumannya.


"Lama banget, sih, Mas," gerutunya sambil menggandeng tanganku untuk masuk, aku sangat menyukai sifatnya yang manja.


"Mau makan di luar?" tanyaku, dia pun mengangguk.


"Tunggu bentar, ya. Aku siap-siap dulu," ucapnya. Aku mengiyakan kemudian duduk di sofa sambil menunggunya.


"Udah selesai?" tanyaku ketika dia keluar dari kamarnya. Tampilannya benar-benar membuatku takjub. Aku sering berpikir, seandainya aku bisa menceraikan Iren dan menikahi Julia, pasti semuanya akan sempurna. Tapi, lagi-lagi, aku belum siap jika ayah mengetahui hubungan gelapku dengan Julia.


"Ayo, Sayang!" ajakku padanya. Aku menggengam tangannya membuatnya tersipu malu, ia terlihat sangat menggemaskan.


•••


Author Pov


Setelah mengajak Julia makan malam, Albi pun mengajak Julia untuk berbelanja, memberikan semua apa yang Julia mau. Tentu saja dengan harga yang sangat-sangat mahal. Ia bahkan sama sekali tak mengingat Iren yang sedang menunggunya di rumah.


"Mas mau ke atas dulu, ya. Kamu langsung istirahat," ucap Albi, karena nyatanya ... Dia pun mempunyai unit apartemen di lantai yang berbeda dengan Julia.


Setelah kepergian Gani dan Mahira ke turki dan merubah sikapnya pada Iren, Albi sengaja pindah ke apartemen, dan hari dimana ia pindah, hari itu pula ia pertama melihat Julia.


"Mas ga nginep aja di sini?" tanya Julia dengan suara serak menggoda. Albi tampak berpikir dan ....


•••


Iren membuka matanya, saat sinat matahari menelup masuk kedalam kamarnya. Ia memegang kepalanya karena terasa berdenyut nyeri, mungkin efek semalaman ia menangis.


Ia berusaha bangkit dari berbaringnya dan mendudukan dirinya sejenak sebelum ia turun dari ranjangnya. Setelah sekian lama duduk, Iren pun mulai bangkit dan berniat berjalan ke kamar mandi.


Saat ia sudah berdiri, ia membungkuk meremas perutnya yang terasa sangat melilit. Ia kembali duduk berharap rasa sakit itu mereda.


Iren meringis saat perutnya semakin sakit dan semakin melilit. Dengan pelan, ia kembali menaikan kakinya dan membaringkan tubuhnyan di ranjang, berharap rasa sakit itu segera reda.


•••


Waktu menunjukan pukul 10 pagi. Rupanya, setelah berperang melawan sakitnya, Iren tanpa sadar kembali lagi memejamkan matanya dan tertidur. Dan kini, ia terbangun karena rasa lapar menderanya


•••


"Bi, bibi masak apa?" tanya Iren pada asisten rumah tangganya.


"Anu ... Bu," jawab Art tersebut. Ia tak enak mengatakan pada Iren bahwa ia tak memasak karena tadi Art tersebut melihat banyak makanan di meja makan, makanan yang di buat Iren semalam untuk merayakan hari ulang tahun pernikahannya yang pertamnya.


"Bi ...." panggil Iren yang menyadarkan asisten rumah tangganya.


"Maaf, Bu. Saya enggak masak. Saya pikir ibu udah masak semalem," jawab Asisten rumah tangga tersebut.


Mendengar ucapan asisten rumah tangganya, Iren tersenyum getir. Rasanya terlalu pahit untuk mengingat hal semalam. Di mana ia menunggu suaminya. Namun, Suaminya malah bergumul dengan wanita lain. Karena pada faktanya, Iren mengetahui semuanya. Tanpa sepengetahuan Albi, diam-diam, Julia sering mengirimkan foto mesranya bersama Albi pada Iren. Termasuk saat semalam, Julia mengirimya foto yang dia ambil ketika Albi sedang bertelanjang dada di atas ranjangnya


Iren marah? tentu ... Ia sangat marah. Tapi faktanya, ia tak bisa melakukan apa-apa. Sekalipun ia mengamuk pada Albi, semua masih tetap sama. Iren takut, melihat dan mendengar jika suaminya lebih membela Julia dari pada dirinya. Dan itu hanya akan tambah melukainya.


Albi hanya pulang ke rumah mereka satu minggu sekali atau satu minggu dua kali hanya untuk mengambil pakaiannya. Ia tak pernah menegur Iren, bahkan Iren bagaikan pajangan yang tak terlihat.


Selama berbulan-bulan, Julia selalu mengiriminya foto kebersamaan bersama Albi, Iren tak pernah membalasnya. Yang ia hanya bisa lakukan adalah menangis diam-diam, meresapi perih yang menelusup dalam dada. Berharap semuanya adalah mimpi.


Saat semalampun ia yakin suaminya takan datang, karena nyatanya ia tau bahwa Albi sedang berada bersama Julia, ia hanya membohongi dirinya sendiri, dan meyakinkan bahwa Albi akan datang dan tersenyum padanya lalu merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka. Tapi, nyatanya ... Iren harus kembali menelan pil pahit ....


Nyatanya membohongi diri lebih menyakitkan dari pada apapun.


Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya 😚😚


Bab 3


"Yaudah, Bi. Tolong angetin aja sayurnya," ucap Iren. Tak masalah asistern rumah tangganya tak memasak. Yang penting ia bisa makan walau harus memakan masakan yang ia buat dan yang membuat ia terluka.


Setelah mengatakan itu, Iren pun mendudukan dirinya di meja makan. Pandangannya lurus kedepan, ia menatap getir pada jendela yang menghadap langsung ke halaman. Bahkan, saat ini pun ... Iren masih berharap mobil suaminya datang, lalu tersenyum dan meminta maaf padanya. Tapi, nyatanya, khayalan hanya tinggal hayalan..Nyatanya semua takan terjadi.


Lamunan, Iren buyar kala asisten rumah tangganya membawakan makanan yang telah di panaskan. Iren pun dengan segera memakannya.


Saat acara makannya sudah selesai, Iren kembali ke atas. Hari ini, ia berencana untuk pergi menjenguk sang ayah.


30 menit berlalu, ia sudah siap untuk pergi. Iren tampil cantik menggunakan dres selutut dan rambut yang di gerai. Ia memasuki mobil dan menjalankannya dengan kecepatan sedang.


25 menit kemudian, Iren pun sampai di depan kantor polisi. Ia bercermin, memastikan bahwa tampilannya sudah rapih. Ia tak ingin sang ayah tau tentang pernikahannya yang tidak sehat. Ia tak ingin membebani sang ayah dengan urusannya.


•••


Iren terduduk menunggu sang ayah, matanya terus menatap pintu masuk dan berharap sang ayah segera keluar..Tak lama, munculah sosok lelaki paru baya yang tak lain adalah Aryan sang ayah.


"Gimana kabar papah?" tanya Iren, membuat Aryan tersenyum


"Papah baik, Iren," jawab Aryan. "Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Aryan membuat Iren mengangguk.


"Iren bawain makanan kesukaan papah, Nanti ...." perkataan Iren terputus saat Aryan mengenggam tangannya.


"Kamu baik-baik aja, kan, Ren?" tanya Aryan tiba-tiba membuat Iren menunduk, dengan mata berkaca-kaca.


"Iren ga baik-baik aja, Pah. Iren lelah!" lirih Iren dalam hati, seandainya bisa, ia ingin berkata begitu pada sang ayah. Namun, Iren tak bisa. Ia tak ingin menambah beban sang ayah.


"Iren baik-baik, aja, Pah," jawab Iren dengan mata berkaca-kaca. Ia membalas gengaman tangan sang ayah lalu tersenyum.


"Maafin papah, ya, Ren. Udah bikin kamu malu. Tapi, percaya sama Papah ... Papah sama sekali ga ngelakuin korupsi. Maafin, papah ya, Ren," ucap Aryan dengan tatapan sendu.


Mendengar ucapan Aryan, tangis Iren pecah seketika ... Aryan selalu mengatakan kata-kata yang sama. Iren percaya, sang ayah tak mungkin melakukan korupsi, sang ayah adalah sosok yang sangat bijaksana, dan sudah mengabdi lama di rumah sakit.


Sampai sekarang, Iren pun bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Tanpa ada angin. Tiba-tiba sang ayah di tangkap karena korupsi dan yang lebih membuat Iren bingun adalah, tak ada satu pengacara pun mau membela sang ayah.


Setiap ia menyewa pengacara, dan pengacara itu menyanggupi, tapi keesokan harinya pengacara itu langsung mundur, dan itu terjadi setiap kali Iren menyewa pengacara. Tanpa, Iren sadari semua adalah ulah suaminya.


Ya, semua ulah Albi ... Ia tak ingin ayah mertuanya bebas begitu saja. Ia ingin istrinya semakin menderita.


Iren melepaskan genggaman tangannya pada Aryan. Lalu ia menghapus air matanya. "Maafin, Iren juga, ya, Pah. Iren belum bisa bebasin papah. Iren janji, Iren bakal cari pengacara terbaik untuk papah," jawab Iren, membuat Aryan menggeleng.


"Kamu ga usah pikirin, Papah. Papah ga apa-apa ... Yang penting kamu baik-baik aja, papah udah cukup," ucap Aryan membuat tangis Iren semakin pecah.


"Waktu sudah habis!" ucap sipir penjaga saat waktu menjenguk sudah habis, Aryan pun menoleh kebelakang dan mengangguk. Lalu, ia kembali melihat lagi pada Iren.


"Papah masuk, ya. Jaga diri kamu baik-baik," ucap Aryan pada Iren yang masih menangis. Ia bangkit dari duduknya dan sambil mengambil bungkusan yang di bawa oleh Iren.


Batin Iren menjerit saat melihat punggung sang ayah yang akan masuk kembali ke sel tahanan. Iren ingin sekali menggenggam tangan sang ayah dan mengajaknya untuk pulang. Tapi, ia tak bisa .... Aryan bisa saja berkata dia baik- baik saja ... Tapi ia tau, sang ayah berbohong. Ia bisa melihat gurat lelah di wajah Aryan.


Saat sedang berjalan ke mobilnya, tiba-tiba Iren menghetikan langkahnya saat merasakan perutnya kembali sakit, ia meremas perutnya saat sakit itu semakin menjadi-jadi. Dengan menahan perih, Iren berusaha berjalan ke arah mobilnya


Iren


Bab 4


Iren menatap kedepan dengan tatapan kosong. Ia tak bisa berpikir jernih, ia merasa ia butuh pasokan udara karena ia merasakan sesak yang luar biasa


Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Ia merasa kakinya mati rasa dan tak berpijak pada bumi. Saat ini, Iren sedang berada di taman rumah sakit, ia menenangkan diri sejenak setelah dokter memvonisnya dengan penyakit yang cukup menakutkan, kanker rahim stadium 2.


Dunia Iren menggelap saat mendengar kenyataan bahwa ia mengidap penyakit yang cukup mematikan. Rasanya ia tak sanggup untuk menghadapi semua.


Iren sendirian, tak ada tempatnya bergantung, tak ada tempatnyan untuk berbagi keluh kesah. Sang ayah tak ada di sisinya dan sang suami ... Sama sekali tak bisa di andalkan.


Harus bagaimana ia sekarang ... Ia masih harus berjuang untuk membebaskan sang ayah dan ia juga harus mengobati dirinya.


Setelah sekian lama diam, Iren tersadar dari lamunannya. Ia tak boleh lemah, ia harus kuat, demi kesembuhannya dan kebebasan sang ayah.


Karena masih merasakan nyeri pada perut, Iren pun bangkit dengan perlahan, ia harus segera mengistrihatkan tubuhnya. Ia berjalan dengan pelan untuk pergi ke mobil.


Saat sampai di mobil, Iren terdiam sejenak. Ia menyenderkan tubuhnya kebelakang. Walaupun berusaha tegar, nyatanya ia tak bisa. Semuanya bagaikan mimpi buruk bagi Iren.


ia menaruh kepalanya di stir kemudi lalu ia menangis sekencang-kencangnya. Mustahil bagi Iren untuk tak menangis.


Pikiran Iren kalut dan kacau, ia merasa jiwanya di renggut paksa dari raganya, ini menyakitkan dan sangat-sangat menyakitkan.


Setelah 30 menit berdiam diri di mobil, Iren pun menghidupkan mesin mobilnya dan menjalankannya.


Jalanan aga sedikit macet, membuat Iren menghela napas berat dan menghembuskannya dengan kencang. Saat kendaraaan di depannya tak kunjung maju, ia kembali menyenderkan punggungnya kebelakang, dan 45 menit kemudian ... Ia sampai di rumah.


Saat ia masuk kedalam gerbang, keningnya mengkerut bingung saat melihat mobil suaminya sudah terparkir di halaman, tumben sekali suaminya pulang. "Hemm!" Iren berdehem malas saat menyadari ada apa Albi pulang, ia sudah tau dengan apa yang terjadi di dalam.


"Dari mana saja kau!" bentak Albi saat Iren masuk. Albi langsung pulang ketika sipir penjaga berkata Iren mengunjungi ayahnya. Ya, selama ini ... Albi melarang Iren untuk bertemu ayahnya. Albi memang berniat membalas Iren dengan sungguh-sungguh, hingga ia tak mengijinkan Iren bertemu dengan ayahnya. Karena Albi tau, bahwa Iren akan sangat tersiksa dan jika Iren melanggar, ia memiliki alasan untuk memarahi Iren.


Iren tak kaget dengan teriakan Albi, ia memandang Albi dengan tatapan datar dan berlalu meninggalkan Albi begitu saja, membuat Albi terpaku. Biasanya, Iren akan menunduk jika Albi memarahinya, tapi kali ini ....


Setelah Albi mempunyai apartemen, Albi memang masih pulang ke rumahnya seminggu sekali atau seminggu dua kali untuk mengambil pakaian atau berkas-berkas, ia tak pernah berbicara dengan Iren.


Ia hanya akan berbicara dengan Iren, ketika ia memarahi Iren, dan Albi selalu puas melihat Iren menangis dan tertunduk.


Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, Iren mengabaikan ucapannya, membuat Albi terpaku dan murka sekaligus.


"Iren!" teriak Albi lagi. Iren yang akan menaiki tangga tak gentar, ia tak mempunyai tenaga untuk berdebat dengan Albi. Hingga ia memutuskan untuk tak meladeni ucapan suaminya.


Ia meneruskan langkahnya, menaiki satu persatu anak tangga untuk pergi ke kamarnya. Namun, baru saja Iren berjalan beberapa langkah, langkahnya sudah terhenti karena Albi mencekal tangannya dan terpaksa membuat Iren berbalik.


"Berani sekali kau mengabaikanku!" desis Albi dengan rahang mengeras. Ia memandang Iren dengan tatapan membunuh, tatapan yang mengisyaratkan bahwa Albi benar, benar-benar membenci Iren.


Iren bergeming, ia tetap memandang Albi dengan tatapan datar. Ia sama sekali tak berniat membalas apa yang di ucapkan dan di lakukan oleh Albi, bahkan, ia tak meringis saat Albi mencekal tangannya dengar keras.


Di titik ini, Iren merasa bahwa mungkin ... Ia mati rasa.


Bab 5


"Jawab aku dari mana, kau, Hah!" Bentak Albi lagi. Emosinya semakin terpancing saat melihat Iren menatapnya dengan tatapan datar. Tak seperti biasanya, yang selalu menunduk dan terlihat ketakutan.


"Bukan urusanmu!" ucap Iren dengan menekankan ucapannya. Ini pertama kalinya ia berani menjawab ucapan Albi


Mendengar Iren menjawabnya ucapannya, darah Albi semakin mendidih. Sejak kapan wanita di depannya ini berani menjawab dan melawannya.


"Berani sekali kau melawanku!" teriak Albi, ia mencekal tangan Iren semakin keras, membuat Iren meringis tertahan.


Iren sudah terlalu lelah dengan hidupnya. Melihat sang ayah yang terpenjara tanpa melakukan kejahatan, penyakitnya dan tambah lagi sikap Albi. Mungkin, jika Iren bisa memilih ... Ia ingin mati saja, agar beban yang di rasakannnya hilang.


"Jawab aku, berani sekali kau melawanku, Hah!" teriak Albi, membuat kepala Iren tiba-tiba terasa memberat.


Iren mencoba menguasi diri ... Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya. "Sudah kubilang bukan! itu bukan urusanmu!" Dengan sekuat tenaga. Iren menghempaskan tangan Albi yang sedang mencekal tangannya hingga tangan Albi terlepas.


Membuat Albi tertegun


Setelah tangan Albi terlepas dari tangannya. Iren langsung berbalik dan berjalan ke arah tangga. Tubuhnya terlalu lemas. Ia ingin sekali berbaring dan mengistirahatkan badannya.


Saat sudah berada di kamar, Iren melemparkan tasnya ke sembarang arah. Ia membaringkan tubuhnya dengan posisi meringkuk, lalu ia memejamkan matanya.


Saat Albi ingin kembali mencekal tangan Iren, ponsel di saku Albi berdering hingga ia harus membiarkan Iren pergi.


••


Albi mematikan panggilannya, ternyata Dita yang menelponnya ... Sang kaka mengatakan bahwa ia akan berkunjung besok ke rumahnya. Setelah menaruh lagi ponselnya, Albi berjalan ke meja makan dan mengambil minum. Lalu menenggaknya hingga tandas.


Tadinya ia ingin pergi lagi ke rumah sakit dan langsung pulang ke apartemen lalu bertemu Julia. Namun rupanya ia masih belum puas untuk memberkan Iren pelajaran.


•••


Iren membuka mata lalu mengucek matanya Beberapa kali ia mengerjap-ngerjap dan menyesuaikan pandangannya. Kamarnya masih gelap, ternyata ia tertidur cukup lama. Ia bangkit dari berbaringnya dan menyalakan lampu.


Iren berjalan ke kamar mandi dan memutuskan untuk membersihkan diri, 30 menit kemudia ... Ritual di kamar mandi selesai. Perutnya terasa lapar hingga ia memutuskan turun untuk makan.


Saat sudah turun, Iren menghentikan langkahnya karena melihat Albi sedang makan ... Keningnya mengkerut heran saat Albi memakai piyama. Bukankah seharusnya Albi pergi lagi seperti biasa? Tapi kenapa sekarang .... Tak ingin ambil pusing. Iren meneruskan kembali langkahnya, ia menarik kursi dan mendudukan dirinya, kemudian mengambil piring lalu menuangkan makanannya.


Hening ....


Hanya ada keheningan di ruang makan tersebut, sepasang suami istri itu tampak tak perduli satu sama lain, hanya terdengar suara sendok dan piring saling berdenting.


"Besok kakaku akan datang kemari, jaga sikapmu ... Berpura-puralah seperti biasa," ucap Albi setelah sekian lama mereka terdiam.


Iren nampak acuh ia masih sibuk dengan makanan di depannya, ia bahkan sama sekali tak menoleh pada Albi yang berbicara. Seolah Albi tak ada di depannya, dan sikap Iren, sukses membuat Albi berdecak kesal.


"Apa kau tuli?" tanya Albi dengan menahan geram. Nada suaranya di penuhi dengan penuh ejekan.


Mendengar ucapan Albi, seketika Iren terdiam. Ia menghentikan acara makannya. Walaupun Albi sering menghinanya, tapi tetap saja hatinya terasa sakit. Apakah dia sehina ini di mata suaminya.


Iren mengigit bibir bawahnya, ia menatap Albi dengan datar. Permasalah hidupnya sudah cukup pelik, hingga ia tak ingin lagi memikirkan suaminya.


Saat tadi ia duduk di taman setelah mendengar vonis dokter yang memvonisnya menderita kanker rahim, Iren sudah banyak berpikir ... Selama ini, ia terlalu mencintai suaminya. Hingga ia buta akan segalanya.


Selama ini, ia begitu patuh dan selalu sembunyi-sembunyi jika menjenguk sang ayah. Namun, hari ini saat ia melihat raut wajah sang ayah yang di penuhi kesedihan serta mengetahui penyakitnya. Ia tak ingin lagi terus di kendalikan oleh perasaannya. Ia harus berusaha menyembuhkan dirinya dan membebaskan sang ayah.


Tanpa menjawab ucapan Albi, Iren mengambil minum lalu menengaknya, kemudian ia bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan.


Kemarahan Albi memuncak saat lagi-lagi Iren mengabaikannya. Ia takan membiarkan Iren melawannya, selamanya ... Wanita ini harus hidup di bawah tekanannya.


Ia pun bangkit dari duduknya untuk menyusul Iren, kemudian ia mencekal tangan Iren hingga Iren berbalik.


"Berani sekali kau mengabaikanku," desis Albi penuh tuduhan.


Tatapan Albi begitu menusuk, Iren bisa melihat Albi menatapnya dengan tatapan benci yang nyata. Tatapan itu begitu menusuk tepat ke jantungnya, hingga Iren merasa kakinya tak berpijak.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Iren dengan suara datar. Ia berusaha untuk tetap santai. Sebab, jika ia melawan Albi, Albi akan semakin menjadi-jadi dan jika ia menunduk, Albi akan terus menginjak-nginjak harga dirinya.


Mendengar ucapan Iren, Albi terdiam. Benar juga ucapan Iren. "Jaga sikapmu di depan kakaku. Jangan membuat kakaku curiga. Jika tidak, kau akan tau akibatnya," ucap Albi lagi, ia terlalu bingung membalas perkataan Iren, hingga ia mengulangi kata-kata yang sama.


Melihat Albi yang terdiam, Iren menghempaskan tangan Albi, lalu setelah itu ... Ia kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.


Sementara di tempat lain ...


Seorang lelaki tampan dengan rahang yang kokoh, alis yang tebal serta badan yang atletis, sedang melihat ke arah depan dengan tatapan tajam, kakinya tak henti-hentinya bergerak di atas treadmill. Peluh berjatuhan dari wajahnya hingga membuat dirinya semakin terlihat berkarisma saat berolahraga.


Pria itu terus memacu dirinya di atas treadmil, ia tak bisa menghentikan berlarinya saat kilasan masa kecilnya kembali hadir dan membuatnya terngiang-ngiang. Dia adalah Antonio Ardi Haidar, seorang pemilik Agensi besar Haidar entertaiment serta memiliki perusahaan perikalanan.


Lelaki yang akrab di sapa Nio itu mengehentikan larinya saat ponsel di depannya menyala karena ada yang menelponnya. Ia menatap malas saat melihat id si pemanggil, kemudian ia menggeser tombol merah dan menolak panggilan tersebut.


Ia turun dari treadmil, lalu berbalik. Saat ia berbalik, ia terpekik kaget saat melihat ada orang di belakangnya.


"Sejak kapan kau disini?" tanya Nio pada adiknya. Gatana Adnan Haidar. Nio dan Adnan hanya berbeda dua tahun, walaupun mereka kaka beradik, sifat mereka jauh berbeda.


"Apa mereka mendatangimu lagi?" tanya Tana pada sang kaka.


Mendengar pertanyaan sang adik, Nio berdecih. Ia mengambil minum kemudian menenggaknya hingga tandas.


"Kita akan bekerja sama dengan brand kesehatan ... cari dokter yang bisa kita ajak kerja sama untuk menjadi model dan masuk ke Agensi" ucap Nio. Ia lebih memilih mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa kau masih enggan mereka?" tanya Gatana, membuat Nia mendelik sebal pada adiknya. "Jika menurutmu, kau bisa memaafkan mereka temui saja mereka." Setelah mengatakan itu, Nio pun meninggalkan sang adik untuk keluar dari ruangan olahraga.


Setelah berolahlaga, Nio memutuskan untuk berendam di bathube, ia memandang kosong ke depan dengan tatapan kosong, lalu menenggak wine di sedikit demi sedikit. Nyatanya, memiliki kekayaan di usia muda tak membuat lukanya hilang begitu saja. Ia dan adiknya harus tetap berjuang untuk memulihkan semuanya.


.