
“Brengsekk .... Bajingan!” teriak Gabriel. Ia terus menghajar wajah Arsen secara membabi-buta. Saat ini, Arsen udah tergeletak di lantai.
Sedangkan Gabriel sedang berada di atas tubuh Arsen lalu menonjok wajah Arsan hingga kini wajah babak belur. Bahkan, beberapa bagian sudah mengeluarkan darah.
“Haissshhhh!” teriak Gabriel, saat Arsen sudah tak sadarkan diri. Ia bangkit dari duduknya kemudian ia langsung menendang-nendang paha arsen.
Wajah Gabby memucat, saat melihat Apa yang dilakukan oleh kakaknya. Selama hidup, ia tidak pernah melihat Gabriel seemosi Ini. Bahkan untuk pertama kalinya, ia melihat Gabriel menghajar seseorang dan untuk pertama kalinya juga ia merasa melihat Gabriel yang lain.
Sekarang Arsen sudah terkapar tak sadarkan diri. Bahkan, kepalanya mengeluarkan darah. Wajahnya sudah tidak beraturan. Gabriel mencoba menetralkan nafasnya, kemudian ia mengambil air yang ada di atas nakas lalu menegakkan hingga tandas.
Saat ia sudah meminum minumannya, Gabriel langsung melihat ke arah Gabby. Ia tidak menyangka, Gabby mengikutinya dan melihatnya saat ia menghajar Arsen tanpa ampun.
Seandainya Gabriel tahu, Gabby mengikutinya mungkin Gabriel akan menghajar Arsen di tempat lain. Gabriel mengusap wajah kasar. Ia tahu Adik kembarnya ketakutan padanya
Perlahan, ia mendekat kearah Gabby yang sedang berjongkok di lantai. Lalu, ia menekuk kakinya dan menyetarakan diri dengan Gabby.
Gabriel mengendurkan wajahnya dan berusaha santai agar Gabby tidak melihat emosinya.
“Ga-Gabriel!” panggil Gabby terbata-bata. Ia mengelus punggung saudara kembarnya.
“Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja,” ucap Gabriel.
“Ga-Gaabriel, kau tidak apa-apa?” tanya Gabby lagi, membuat Gabriel mengerutkan keningnya. Kenapa saudara kembarnya ini begitu aneh Padahal jelas-jelas dia baik-baik saja.
“Buukan itu maksudku, bagaimana jika kau ditangkap polisi karena kau menghajarnya,” ucap Gabby, membuat Gabriel menggeleng. saudaranya ini benar-benar ajaib.
“Ayo bangun!” Gabriel membantu Gabby untuk bangun. Hingga kini, dan kini mereka sudah berdiri lalu menatap kearah Arsen yang terkapar di lantai.
“ Gabriel, bagaimana dengannya. Apa kita harus mengubur mayatnya agar kita tidak terkena masalah,” ucap Gabby.
di tengah amarahnya, Gabriel ingin sekali tertawa dengan apa yang diucapkan oleh adiknya. “Dia tidak mati, aku sengaja tidak membunuhnya agar dia bisa merasakan siksaan ku sepanjang waktu,” ucap Gabriel. Nafasnya kembali memburu, ketika melihat wajah Arsen. Demi apapun, Gabriel tidak akan melepaskan Arsen begitu saja. Ia akan terus membuat Arsa menderita
“Ayo kita bawa ke rumah sakit. Panggil ambulan kemari!” titah Gabriel dengan tangan bergetar. Gaby pun merogoh tasnya, kemudian ia mengambil ponsel lalu menelepon ambulans agar datang ke rumahnya.
•••
Arsen sudah ditangani oleh dokter, sedangkan Gabby dan Gabriel menunggu di kursi tunggu. Gabby yang sedang berada di sebelah Gabriel memegang tangan Gabriel yang masih mengeluarkan darah, kemudian ia mengusap darah yang ada di tangan Gabriel dengan syalnya.
“Gabriel terima kasih,”. ucap Gabby dengan mata yang berkaca-kaca. Ia terus membersihkan darah yang ada di tangan Gabriel. Ia bersyukur dan ia begitu puas ketika melihat Arsen terkapar di lantai. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa sesak yang Gaby alami karena tingkah suaminya.
Gabriel menoleh, membuat Gabby tertegun ternyata mata kakaknya berkaca-kaca. Tapi, secepat kilat Gabriel langsung kembali menolehkan kepalanya kearah lain, karena ia tak ingin Gabby melihat bahwa ia pun sedang hancur. Ia hancur ketika mengetahui bahwa adik kembarnya dikhianati oleh suaminya.
tak lama, terdengar suara orang berlari. membuat Gabriel dan Gabby menoleh. Ternyata ibu arsen datang ke rumah sakit, karena memang Gabby yang meneleponnya.
Gimana gengs puas ga. Puaslah pasti udah up 3 bab ya, kalau ga komen upnya besok satu bab.haha