Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Tertampar karena masa lalu


Ayana menarik selimut, lalu menyelimuti tubuh ayahnya. Lalu, ia keluar dari kamar sang ayah dan kembali ke kamarnya, ia tersenyum, ternyata putrinya pun sudah tertidur.


Ayana mendudukkan diri di sebelah Moa, kemudian ia menatap wajah Moa lekat-lekat. Wajah itu begitu mirip dengan Jordan, beberapa kali memang Jordan melihat Moa. Namun sepertinya kebencian, Jordan sudah mendarah daging, hingga Jordan tidak menyadari Moa adalah anaknya.


Bukan Ayana tidak ingin memberitahukan pada Jordan yang sebenarnya tentang Moa. Hanya saja, jika Jordan tahu Moa adalah darah dagingnya, mungkin Jordan akan memisahkan Moa dan Ayana dan Ayana tidak ingin itu terjadi. Ia lebih baik kesusahan mencari uang, daripada ia harus kehilangan Moa.


Tiba-tiba, Ayana terpikirkan sesuatu, Ia pun langsung membuka laptop lalu mengutak-atiknya dan memeriksa email. Ia lupa, ada satu email yang belum terbuka. Ayana menutup mulut tak percaya, saat melihat email tersebut. Ternyata, itu adalah panggilan pekerjaan untuknya di mana ia sudah melakukan tes dan ternyata ia terpilih menjadi sekretaris di perusahaan besar.


“Terima kasih Tuhan!” ucap Ayana, ia bersyukur lamaran yang ia layangkan bisa tembus masuk di perusahaan besar, dan ia berharap kali ini, bosnya tidak mengenal Jordan, ataupun tidak akan terpengaruh dengan Jordan. Karena sebelumnya, Ayana Hanya bekerja di perusahaan kecil dan tempat-tempat kecil. Tapi sekarang, sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya, kala ia bekerja di perusahaan besar.


•••


“Moa, jika kakek marah-marah, kau diam saja di kamar. Mommy sudah menyiapkan cemilan kecil untukmu, jangan membuka pintu jika kake berteriak padamu,” ucap Ayana pada Moa, ketika ia akan berangkat.


Sebenarnya, ia khawatir meninggalkan Moa, bersama sang ayah, apalagi sang ayah sering marah-marah. Tapi dia tidak punya pilihan lain karena ia harus mencari uang.


Moa mengangguk. “ Mommy juga hati-hati, jangan sampai ada orang jahat seperti kemarin yang akan mencelakai kita,” jawab gadis kecil itu. Rupanya, ia masih teringat kejadian semalam di mana ia dan sang ibu hampir dicelakai oleh mobil yang tak lain mobil yang dikendarai oleh Jordan.


Ayana mengusap lembut rambut putrinya, kemudian ia langsung mengecup pipi Moa. “Mommy akan berangkat, Kau baik-baik di rumh oke. Jika terjadi sesuatu, hubungi Mommy,” ucap Ayana, karena memang ia meninggalkan satu ponsel untuk Moa


•••


Setelah cukup lama diam, akhirnya Ayana pun mulai melangkahkan kakinya untuk masuk, ia langsung bertanya pada resepsionis, akhirnya Ayana pun dialihkan untuk pergi ke ruangan paling atas, di mana ruangan pemimpin perusahaan berada, tentu saja dia di dampingi staf.


Saat berada di depan pintu, Ayana terdiam. Ia mencoba menghela nafas dan menghembuskannya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, ia melihat ke bawah dan memastikan bahwa tampilannya sudah rapi, dan setelah ia yakin, Ia pun mulai mengetuk pintu.


Saat terdengar sahutan dari dalam, Ayana membuka pintu Kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk. Saat ia akan berbicara, tiba-tiba Ayana menghentikan langkahnya, saat melihat siapa orang yang sedang duduk yang juga sebagai direktur utama di perusahaan itu, dan ternyata Ia adalah Raymond. Lelaki yang pernah ia tolak dan ia lebih memilih Jordan.


“Se-selamat pagi Tuan,” ucap Ayana, ia menunduk malu, walau bagaimanapun, ia begitu malu pada Raymond, tentu saja itu Karena kesombongannya di masa lalu. Bahkan sekarang, rasa takut membayanginya. Ia takut Raymond membalas dendam padanya sama seperti Jordan.


Raymond menoleh sekilas. “Pelajari ini,” ucap Raymond yang mengambil berkas lalu melemparkannya kedepan. Ayana mengangguk, kemudian Ia pun langsung maju dan mengambil berkas itu dari meja Raymond.


“Kalau begitu saya permisi Tuan.” Pamit Ayana pada Raymond, kemudian ia keluar dari ruangan untuk masuk ke dalam ruangannya. karena sebelum ia masuk ke dalam ruangan Raymond, ia sudah ditunjukkan ruangannya oleh staf yang tadi mengantarnya ke atas.


Setidaknya Ayana bersyukur, Raymond bersikap dingin, ia berharap Raymond tidak membalasnya karena ia pernah sombong di masa lalu.