Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
nyaman


Olivia dilanda kepanikan saat roknya dirobek oleh Hansel, hawa dingin langsung menusuk hingga Olivia tersadar. Ia langsung berniat untuk berlari ke arah kamar mandi.


Namun, baru saja ia akan melangkah. Hansel menarik tangan Olivia, hingga tubuh mereka tidak berjarak sedikitpun.


“Hansel Apa yang kau lakukan!” teriak Olivia ketika tangan Hansel sudah bermain di bagian belakang tubuhnya.


“ Olivia Tidak ada salahnya kita mencoba,” jawab Hansel tangannya tidak berhenti bergerak untuk menggoda Olivia agar Olivia terhanyut.


Olivia memukul-mukul dada Hansel, tapi Hansel malah memeluk pinggang Olivia semakin erat. Saat Olivia terus memberontak, Hansel tidak menyerah. Ia menarik dagu Olivia dengan satu tangannya, kemudian mencium bibir Olivia.


“Sial!” bibir Olivia membuatnya gila, hingga ia terus memperdalam ciumannya, walaupun Olivia memberontak. Hingga tak lama Hansel menghentikan gerakannya saat ia merasakan tubuh Olivia bergetar, dan ia merasakan air mengenai pipina.


“Olivia!” panggil Hansel, ia bingung kenapa Olivia menangis. “Hansel jangan begini!” kata Olivia, sentuhan Hansel membangkitkan traumanya


. Walau bagaimanapun, ia pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat Hansel bercinnta dengan sekretarisnya, dan tentu saja, itu hal yang tidak pernah Olivia lupakan sampai kapanpun.


Walaupun ia sudah mengikhlaskan semua, tapi


bayangan itu kerap muncul, apalagi saat barusan Hansel menciumnya.


Hansel menjauhkan tubuhnya, ia melepaskan tangannya dari pinggang Olivia. Setelah Hansel menjauh, Olivia menghapus air matanya kemudian ia berjalan menyamping agar Hansel tidak melihat tubuhnya Lalu setelah itu ia pergi ke kamar mandi.


Olivia mendudukkan dirinya di atas bidet toilet, tangis yang sempat terjeda akhirnya kembali terurai. Ingatannya kembali saat untuk pertama kalinya ia memergoki Hansel dengan sekretarisnya.


Dan itu adalah momen yang paling menyakitkan bagi Olivia dan terbawa hingga sekarang, Walaupun ia sudah memaafkan semuanya dan menerima apa yang terjadi di masa lalu.


10 menit kemudian, Olivia berusaha untuk menghentikan tangisnya. Ia tidak ingin membuat Hansel merasa bersalah, dia juga tidak ingin hubungannya dengan Hansel renggang karena masalah tadi. Ia pun langsung mengambil handuk kimono, kemudian memakainya lalu mencuci wajah agar tidak terlihat menangis. Setelah itu, ia pun langsung keluar dari toilet.


Saat membuka pintu, Olivia menghentikan langkahnya saat melihat Hansel berada di depan kamar mandi “Olivia maafkan aku!” kata Hansel, Olivia tersenyum, kemudian mengelus tangan Hansel.


“Tidak apa-apa Hansel, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terkejut,” dusta Olivia Olivia pun berlalu, melewati tubuh Hansel begitu saja.


•••


Waktu menunjukkan pukul 08.00 malam, Hansel dan Olivia makan malam dengan hening, tidak ada yang berbicara satu patah katapun. Kecanggungan meliputi keduanya, apalagi semenjak kejadian tadi, Olivia lebih banyak diam begitupun Hansel yang tidak berani menegur Olivia, walaupun Olivia mengatakan tidak apa-apa tapi Hansel mengerti benar dengan Apa yang dirasakan mantan istrinya. Itu sebabnya, ia lebih memilih untuk diam dan tidak berani mengatakan apapun


•••


Waktu menunjukkan pukul 02.00 malam, Olivia mengerjap. Ia terbangun dari tidurnya saat mendengar suara gaduh dari arah walk in closet, ia melihat ke arah ranjang di mana Hansel tidak ada di ranjangnya.


“Hansel ... Hansel!” panggil Olivia, ia langsung turun dari ranjang, kemudian berjalan ke walk in closet. “Hansel!” Olivia berteriak saat melihat Hansel sedang duduk sambil memukul-mukul kan kepalanya ke tembok


“Hansel Apa yang kau lakukan?” Olivia langsung menahan kepala Hansel, agar Hansel tidak membenturkannya lagi ke dinding.


“Hansel kau tidak boleh seperti ini!” teriak Olivia yang panik kala Hansel terus memukulkan kepalanya ke dinding.


Rupanya, sikap Olivia yang diam setelah kejadian tadi membuat depresi Hansel kembali kambuh. Ketakutan demi ketakutan membayanginya , ia takut Olivia meninggalkannya. Penyesalan itu menubruknya kembali hingga menekan mentalnya.


Sedari tadi masuk kamar, Olivia langsung tertidur dan membelakanginya, membuat Hansel ketakutan. Ia takut Olivia berubah lagi, Hingga pada akhirnya Hansel kehilangan kendalinya. Semua kejadian lalu terus berputar-putar di otaknya, hingga akhirnya Hansel membenturkan kepalanya ke tembok, berharap pikiran itu tidak menghantuinya.


“Hansel cukup!” teriak Olivia lagi saat Hansel lebih keras. Saat kepala Hansel terlepas dari pelukan Olivia, Olivia langsung mengelus pipi Hansel dengan lembut. Sebelum Hansel membenturkan kepalanya lagi ke tembok.


“Hansel, aku di sini. Aku di depanmu, aku tidak akan pergi kemana-mana!” kata-kata itu bagai menyihir Hansel, hingga Hansel menghentikan gerakannya. Langsung menoleh ke arah Olivia.


Wajah Hansel sudah berderai air mata saat melihat iris mata milik mantan istrinya, wanita ini begitu tulus mencintainya dari dulu maupun sekarang. “Olivia, Jangan tinggalkan aku. Ampuni aku!” kata Hansel, Olivia menggangguk.


“Aku tidak akan pergi kemana-mana Hansel. Aku akan selalu ada di sisimu!” Olivia memeluk Hansel, kemudian mengelus punggung Hansel agar Hansel tenang, dan Hansel memeluk tangan Olivia dengan sangat erat, ia benar-benar takut kehilangan Olivia


•••


“Kau duduk di sini, aku akan mengambilkan obat untukmu!” kata Olivia setelah Hansel tenang dan kini Hansel sudah duduk di ranjang. Olivia berjalan menuju laci, kemudian mengambil obat depresi yang sering dimakan Hansel ketika Hansel gelisah.


Setelah itu, Olivia mendudukkan dirinya di sebelah Hansel, lalu menggenggam tangan mantan suaminya. “Jangan melakukan itu lagi Hansel!” kata Olivia, membuat Hansel menoleh.


“Aku akan selalu disisimu.” Olivia mendorong pelan tubuh Hansel, kemudian menarik selimut untuk Hansel. “Tidurlah Hansel!” kata Olivia Hansel menggangguk, kemudian memejamkan matanya. Ia langsung menurut apapun yang Olivia katakan, karena ia takut Olivia meninggalkannya.


15 menit kemudian, terdengar suara nafas Hansel sudah teratur, pertanda Hansel sudah terlelap. Olivia menatap Hansel dalam-dalam. Sebenarnya, ia sama seperti Hansel.


Terkadang Olivia pun ingin mengamuk, terkadang Olivia hampir saja lepas kembali saat mengingat hal yang menyakitkan di masa lalu. Tapi ia selalu berusaha mengendalikan diri agar tidak lepas kendali, ia selalu memikirkan Hansel. Jika ia kambuh, Hansel juga pasti akan ikut kambuh seperti dirinya.


Olivia menggerakkan tangannya, kemudian ia mengelus pipi. “Hansel, dulu maupun sekarang aku masih mencintaimu. Cinta itu masih tetap sama, Walaupun kau melukaiku begitu dalam. Maafkan aku yang belum bisa mengikuti apa maumu. Tapi aku lebih nyaman seperti ini. Satu hal yang perlu kau tau, aku tidak akan prnah pergi kemanapun, aku akan selalu berada di sisimu!” Olivia membatin dalam hati, seraya menatap wajah Hansel. Ia pun bangkit kemudian berjalan ke arah ranjangnya, lalu membaringkan dirinya sambil menghadap ke arah Hansel


•••


“Kenapa kau ingin menemuiku?” tanya Joanna pada wanita di depannya ini yang tak lain adalah anak nauren, atau anaknya selama ini diasuh oleh ayahnya.


Stella tertunduk, ini sudah 6 tahun berlalu semenjak kejadian ibunya meninggal, dan selama 6 tahun itu pula, Stella dan Romeo harus banting tulang karena mereka tidak punya pemasukan lagi. Dan sekarang sekarang Ia datang ke Joanaa untuk meminta pekerjaan.


“Aku tahu, aku terkesan tidak tahu malu datang padamu. Tapi aku ingin meminta pekerjaan padamu," ucap Stella. Ia bahkan tidak berani menatap Joana, karena ia sudah mengetahui yang sebenarnya bahwa ia bukan anak kandung Hansel.


Joanna terkekeh seraya tersenyum sinis. “Apakah tidak malu, meminta lagi pekerjaan padaku?” tanya Joanna. Ia mengepalkan tangannya membuat Stella semakin tertunduk


“Aku sudah memberikan kesempatan padamu, kurang baik apa aku padamu. kalian merebut kebahagiaanku dan kebahagiaan kakaku. Aku memberikanmu pekerjaan, tapi kau malah mencoba menggoda suamiku,” ucap Joana dengan berapi-api.


Ya, setelah setahun kematian Nauren. Stella dan Romeo datang ke Rusia, mereka mencoba menemui Hansel. Namun saat itu Hansel sudah di rumah sakit jiwa, hingga Joana tergugah untuk membantu kedua orang.


Ia memberikan pekerjaan pada Stella dan Romeo. Namun, rupanya kedua orang itu menyalahgunakannya Romeo diberi pekerjaan di kantor Jordan, sedangkan Stella menjadi pelayan di restoran Joanna


Namun siapa sangka, Stella malah diam-diam menggoda Jordan. Saat itu, Stella memberikan minum pada Jordan yang berisi obat perang*sang untuk Jordan, ketika Jordan sedang berada di restoran.


Beruntung saat itu Juana memeriksa CCTV, hingga sebelum suaminya meminum itu, ia bisa mengetahui apa yang dilakukan oleh Stella dan setelah diinterogasi, akhirnya setelah mengakuinya.


Sejatinya kedua orang itu sudah terbiasa hidup bergelimang harta, dan ketika ibunya meninggal ayahnya Gila, mereka tidak sanggup untuk hidup kesusahan itu sebabnya ia menggoda Jordan walaupun Jordan sama sekali tidak pernah menggubris kehadirannya.


“Aku minta maaf. Aku berjanji, kali ini aku tidak akan berbuat kesalahan lagi,” ucap Stella. Joana kembali terkekeh.


“Aku tidak mau memberikan kesempatan, aku sudah berbaik hati kemarin. Jika diingat, seharusnya aku tidak boleh menolongmu saat itu. Kalian mengambil semua perhatian ayahku, ibumu mengambil semua kebahagiaan ibuku dan aku rasa ini hal yang tepat, yang aku lakukan. Kalian harus menanggung karma dari apa yang keluarga kalian lakukan. Kakakmu juga tidak akan bebas secepatnya, aku akan pastikan dia dihukum seberat-beratnya," ucap Joana.


Selain Stella yang mencoba menggoda Jordan, Romeo pun berbuat ulah di kantor suaminya, dengan mencuri data dan menjualnya pada perusahaan lain.


“Jangan pernah berniat untuk menemuiku kembali, atau aku pastikan, kau akan tahu akibatnya.” Joana bangkit dari duduknya.


Namun saat Joanna bangkit, dan akan melangkah, Joana menghentikan langkahnya kala Stella berlutut dan memeluk kakinya, hingga semua orang yang ada di sana melihat ke arah Joanna.


••••


“Hansel aku mencarimu dari tadi ternya kau di sini!” Ucap Olivia ,ketika menghampiri Hansel di taman belakang. Olivia mengerutkan keningnya saat Hansel tampak murung. “Hansel Ada apa denganmu?” tanya Olivia, dia menundukkan dirinya di sebelah Hansel.


“ Olivia apa aku beban untukmu? apa aku membuatmu tidak nyaman?” tanya Hansel, membuat Olivia menggeleng.


“Aku sudah banyak berpikir semalaman, aku rasa Aku tidak bisa terus bergantung padamu aku rasa aku ....”


“Ya sudah jika kau mau begitu, aku akan meminta Joana menjemputku!” kata Olivia membuat mata Hansel membulat. Saat Olivia bangkit, Hansel menarik tangan Olivia.


“Hisssh kau ini!” ucap Hansel.


“Kenapa, bukankah kau yang menginginkanku pergi?” tanya Olivia sambil menarik lagi tangannya dari tangan Hansel. Ia pun berjalan ke arah dalam. Seketika Hansel dihinggapi kepanikan.


Padahal Ia sengaja berbicara begitu agar Olivia merasa bersalah dan mengikuti keinginannya dan merasa tak enak padanya. Tapi ternyata ...


“Olivia .... Olivia!” Teriak Hansel yang mengikuti Olivia masuk. Olivia yang sedang berjalan menutup mulut menahan tawa, sebab ini bukan sekali dua kali Hansel bersikap begini.


Gengs sedih banget komen kemarin dikit banget huaaa. Yokh lah gas komen.