Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Tekad Arsen


Arsen mengusap wajah kasar ketika lagi-lagi Gabby tidak dari sampingnya, Ia sudah peringati Gabby untuk tidak berangkat ke rumah sakit saat dini hari. Tapi yang terjadi, Gabby kembali membantahnya.


Ini sudah dua minggu berlalu, semenjak mereka bertemu Kristine di restoran, sikap Gabby memang sempat berubah, beberapa hari, Gabby menjadi Gabby yang dulu.


Tapi, itu hanya bertahan beberapa hari. Setelah itu, Gabby kembali menjadi Gabby yang dingin yang tak suka diganggu dan tak banyak berbicara. Beberapa kali, Arsen berusaha untuk menyentuh Gabby. Tapi Gabby selalu menolak dan berakhir akan tidur di kamar lain.


Dan semalam, Arsen berbicara tegas dengan Gabby, meminta Gabby untuk membangunkannya jika akan pergi ke rumah sakit. Sebab, Arsen ingin mengantar Gabby ke rumah sakit. Tapi nyatanya, sekarang Gabby sudah tidak ada di sampingnya.


Arsen melihat jam di dinding, waktu masih menunjukkan pukul 6.30 pagi. Arsen bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Hari ini, ia harus berangkat ke kantor lebih pagi. Ia akan menyusul Gabby. Saat nanti waktunya sedikit senggang.


Setelah selesai mandi dan memakai pakaian, Arsen langsung keluar dari kamar, kemudian ia masuk ruang makan. “Apa tadi Gabby sarapan?” tanya Arsen pada Debora sang kepala pelayan.


Debora menggeleng. “Maaf, Tuan. nona Gabby tadi berangkat jam 3 dinihari,” ucap Debora membuat mata Arsen sama membulat.


“Jam 3 pagi?” tanya Arsen Debora pun mengangguk kembali.


Lagi-lagi, Arsen mengusap wajah kasar, saat mendengar ucapan Debora. Ia menjadi tidak semangat untuk sarapan. Ia yang sudah, kembali bangkit dari duduknya kemudian mengambil tas kerjanya.


“Anda tidak sarapan Tuan?” tanya Debora. Arsen menggeleng. “Tidak, aku sarapan di kantor saja.” Setelah mengatakan itu, Arsen pun keluar dari rumah, lalu menuju mobil.


Saat berada di mobil, arisan tampak menghela nafas beberapa kali. Kemudian menghembuskannya. Gabby benar-benar sudah diluar batas.


Nanti malam, ia akan memaksa Gabby untuk melayaninya dan membuat Gabby hamil anaknya. Tiba-tiba, ia juga terpikirkan sesuatu. Mungkin akan lebih baik jika ia menaruh obat perangsang di minuman Gabby agar mereka bisa bercinta.


Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Arsen sampai di kantor. Ia memarkirkan mobilnya di basement. Saat ia keluar dari mobil, pintu terbuka dari luar, membuat Arsen terperanjat kaget, kemudian menoleh. Ternyata, Kristine yang masuk ke dalam mobil.


“Kau mengagetkanku,” ucap Arsen.


Kristini menekan tombol, hingga kaca mobil Arsen berubah menjadi hitam. “Kau mau apa, Kristine?” tanya Arsen, Kristine tak menjawab, ia malah membuka blazernya.


“Arsen, aku merindukanmu," ucap Kristine, ia maju lalu mencium bibir Arsen tentu saja Arsen menyambutnya dengan senang hati.


Arsenn memundurkan kursinya ke belakang, kemudian Kristin duduk di pangkuan Arsen dan mereka pun larut dalam kegiatan yang tak seharusnya mereka lakukan.


Basement itu begitu sepi hingga takkan ada satupun orang yang mengetahui apa yang sedang mereka lakukan, dan akhirnya setelah sekian lama, Kristine jatuh di pelukan Arsen.


Nafas mereka masih terengah-engah, karena mereka mencapai puncaknya bersama.


Kristine menegakan tubuhnya, hingga kini ia dan Arsen saling pandang. “Apa aku masih memuaskanmu baby?” tanya Kristine dengan menggoda, ia yang masih duduk di pangkuan Arsen mengelus rahang Arsen dengan sensual


“Kau membuat aku gila. Bagaimana jika kita pergi ke hotel saja,” ucap Arsen. Tentu saja Krisrine dengan senang hati mengangguk. Setelah itu, Kristine bangkit dari tubuh Arsen lalu berpindah duduk ke samping sedangkan Arsen langsung merapihkan pakaiannya, lalu menjalankan kembali mobilnya.


Dia juga sudah terlalu rindu dengan tubuh Kristin, karena sudah dua minggu ini ia tidak menyentuh selingkuhannya.


Scroll gengs.