Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Hati yang remuk


Gisel berjalan kesana kemari, ia menelpon dokter keluarga untuk memeriksa keadaan kakanya. Setelah Gabby tak sadarkan diri, Gisell membaringkan Gabby di sofa dan ia langsung menelpon dokter. Tapi sayangnya, dokter tidak mengangkat panggilannya.


ia ingin menelepon kedua orang tuanya. Tapi ia tidak ingin gegabah, ia ingin bertanya dulu dahulu tentang apa yang terjadi pada sang kakak.


sepuluh menit berlalu, dokter masih tidak bisa dihubungi. Baru saja Gisel akan menghubungi dokter lain, ada pergerakan dari tangan sang kakak. Hingga Gisel langsung berjalan kearah sofa.


“kakak ... kakak,” ucap Gisel iya menepuk-nepuk pipi Gabby. Kemudian, Gabby membuka matanya.


“Gisel!” lirih Gabby dengan suara yang sangat pelan. Bahkan, matanya hanya terbuka sedikit. Gisel menggenggam tangan sang kakak. “Kakak, tolong tenanglah. tolong tenangkan dirimu,” ucap Gisel. Rasanya, ia juga ingin menangis ketika melihat keadaan Gabby yang sangat kacau.


Gabby mengerjap ketika mendengar suara sang adik, dengan pelan, ia bangkit dari berbaringnya. Ia memegang kepalanya karena kepalanya terasa berdenyut nyeri.


Gisel bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan ke dapur lalu mengambil minum dan obat pereda nyeri untuk Gabby, setelah itu, ia memberikannya pada sang kaka.


Setelah meminum meminum obat, Gabby menyandarkan kepalanya ke belakang,


matanya menerawang pada langit-langit. Tiba-tiba bulir bening langsung terjatuh dari kedua pelupuk matanya. Rasanya, air mata Gaby tidak pernah mengering menangisi pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya.


Gissel hanya bisa menghela nafas melihat keadaan sang Kaka yang kacau. Setelah sekian lama diam dan mangamati kakanya. Akhirnya Gisel, menggenggam tangan sang kakak, menyadarkan Gabby dari lamunannya.


Gabby mengerjap, ia tersadar, kemudian menghapus air matanya, lalu menoleh ke arah Gissel. “Gissel, apa aku seburuk itu menjadi wanita?” tanya Gabby lagi.


Gabby dalam dilema, ia tak bisa menahan ini semuanya sendiri. Tapi untuk bercerita pada sang adik pun, rasanya tak mungkin.


Gisel kembali menggenggam tangan Gabby membuat Gabby tersadar. “Gisel, Arsen mengkhianatiku,” ucap Gabby. Pada akhirnya ia jujur pada sang adik bahwa tentang semuanya. Ia tak sanggup untuk menahan semuanya sendiri.


Mata Gisel membeliak, ketika mendengar ucapan sang kakak. Ia menatap Gabby dengan tak percaya. Ia mengenal kakak iparnya dengan sangat baik. Lalu sekarang, tidak ada angin tidak ada api, Gabby mengatakan bahwa Arsen berselingkuh.


“Ka-kau bercanda kan? bagaimana mungkin bisa?” tanya Gisel terbata-bata. Gabby sudah menduga sang adik tidak percaya dengan ucapannya. Dengan gerakan yang lesu, Gabby mengambil ponsel, kemudian ia menyerahkan foto yang tadi diambil Shelomita pada Gisel.


Gissel menatap foto itu dengan seksama, tidak tidak ada yang aneh dari foto itu, hanya sebuah hanya seorang wanita yang menaiki mobil Arsen.


“kak ini hanya sebuah foto ....”


“Gissel, aku memergokinya dan dia berhasil mengelak. Tapi setelah aku pergi dia kembali menjemput wanita itu!” Gabby berteriak sambil menangis tergugu. Bahunya bergetar hebat, tak bisa didefinisikan lagi. Bagaimana rasa sakit yang ditanggung oleh Gabby.


Gissel menyimpan ponsel Gabby , kemudian ia memeluk sang Kaka begitu erat. “Kaka kumohon tenanglah jangan begini,” ucap Gisssel. Ia harus terlebih dulu menenangkan sang Kaka.


“Gissel, kenapa dia tega padaku. Apa kurangnya aku!" Gabby berbicara lirih, nada suaranya terdengar penuh kepahitan.


Scroll gengs.