
Ayana mendudukan dirinya di halte bis, jari-jarinya saling bertautan, ia menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
Dalam satu tahun ini, entah berapa kali dia harus bersembunyi dari Jordan. hingga pada akhirnya, Jordan terus menemukannya dan pada akhirnya ia kembali dipecat dari pekerjaannya.
Bukan Ayana tidak memohon pada Jordan untuk melepaskannya, Ayana pernah menemui Jordan dan meminta Jordan untuk tidak mengganggunya lagi dan tidak mencampuri lagi hidupnya. Tapi apa yang ia dapat, Jordan malah sesumbar akan terus menghantui Ayana.
Pada akhirnya Ayana lelah dan sejak itu, ia tidak menemui Jordan lagi. Ia lebih memilih bekerja bersembunyi-sembunyi agar Jordan tidak mengetahui tempat pekerjaannya. Tapi ternyata ia salah, sekuat apapun Ayana bersembunyi, Jordan tetap menemukannya.
Dan kini, untuk yang kesekian kalinya. Ia kembali lagi harus merasakan yang namanya dipecat dari pekerjaannya, dan keesokan hari ia harus mencari pekerjaan lagi dan mungkin beberapa beberapa waktu ke depan jika Jordan mengetahuinya, dia akan kembali dipecat dan begitulah seterusnya.
Ia lelah jika harus terus berharap, bahwa kehidupannya akan baik-baik saja , larena faktanya dia sadar Jordan tidak akan melepaskannya. Padahal Ia hanya ingin bekerja untuk membesarkan putrinya, belum lagi ia yang juga membutuhkan biaya untuk pengobatannya sendiri.
Ayana mengusap sudut matanya yang berair, kemudian ia bangkit karena bis sebentar lagi akan datang.
•••
“Mommy!” panggil Moa, gadis yang kini menginjak 7 tahun itu langsung berteriak menyambut sang ibu, hingga Ayana memaksakan senyumnya. Ia tidak ingin Putri kecilnya mengetahui bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
“Mommy, apa Mommy membawa makanan?" tanya Moa, seketika Ayana menghela nafas. Ia terlalu larut dalam rasa sedihnya, hingga ia lupa membawakan makanan untuk ayah dan putrinya.
Sudah setahun lalu ia keluar dari panti asuhan, karena panti asuhan tidak menerima lagi Ayana serta Putri dan ayahnya. Tentu saja itu karena Jordan, Jordan menekan kepala panti asuhan untuk mengusir Ayana, hingga Ayana terpaksa harus menyewa sebuah rumah kecil untuk ayah dan putrinya.
“Mommy tidak membawa makanan. Bagaimana jika kita memasak mie instan saja bersama kakek?” ucap Ayana, lagi-lagi hatinya berdesir pedih, apalagi saat melihat ekspresi Moa.
“Kau tunggu bersama kakek di dalam. Mommy akan memberikan makanan untukmu.”
“Mommy, bolehkah aku ikut?” tanya Moa. Ayana tampak berpikir, kemudian mengangguk.
“Kita membeli makanan di kedai depan saja oke,” balas Ayana, lagi-lagi wajahmu Moa tampak keberatan, karena kedai di depan sangat tidak enak. Tapi tak urung, gadis kecil itu mengangguk.
Ayana pun langsung menggandeng tangan putrinya, dan mereka pun berjalan dengan bergandengan tangan. “Kakek sedang apa tadi?” tanya Ayana.
“Kakek sedang menonton TV, sedari tadi, kakek mengeluh perutnya sakit karena lapar,” ucap Moa, membuat Ayana menghela nafas.
Akhirnya, mereka pun sampai di kedai. Dengan cepat, Ayana memesan makanan untuk ayah dan putrinya, sedangkan ia lebih memilih untuk menghabiskan sisa makanan, Moa karena Moa selalu menyisakan makanannya, apalagi ia harus menghemat karena ia belum tau kapan ia mendapat pekerjaan.
“Aaaa!” tiba-tiba Ayana terpekik, saat sebuah mobil hampir menyerempet Moa, beruntung Ayana langsung menarik tangan Moa, hingga Moa tidak terjatuh.
“Moa, kau tidak apa-apa?” tanya Ayana, ia langsung memeriksa tubuh putrinya. Saat ia akan menggendong Moa, tanpa sengaja ia melihat mobil berhenti mobil itu adalah mobil yang menyerempet putrinya dan itu adalah mobil Jordan.
Gengs sedih banget sekrng jarang dapet komen sampe 500.
Yuks bisa yuk 500 komen bsok aku up 4 sampe 5 bab