
“Pulang lah, aku harus pergi,” ucap Jordan dengan terburu-buru. Ia mencari-cari kunci mobil, membuat Nael kebingungan karena tiba-tiba Jordan menyebutkan nama kedua putrinya.
“Jordan ada apa?” tanya Nael. Ia berusaha menghampiri Jordan yang sedang mencari kunci mobil.
“Pergilah, Jangan menggangguku. Aku harus segera pergi,” balas Jordan lagi. Setelah , menemukan kunci mobil, Jordan langsung melewati tubuh Nael begitu saja, karena ia Ingin secepatnya berbicara dengan Grey dan setelah itu, ia pun akan ikut terbang ke Jepang.
“Jordan!” panggil Nael, ia menarik tangan. Jordan, seketika rasa kesal menghinggapi Jordan. Hingga Jordan berbalik. “Sudah kubilang. Aku harus pergi. Bisakah kau jangan menggangguku dulu.” Jordan berbicara dengan dingin. Tatapan matanya begitu tajam.
“Ada apa? Kenapa kau menyebut nama Laura dan Naura?” Seketika Jordan menarik sudut bibirnya, ia tersenyum sins. “Bukan urusanmu!” kata Jordan. Ia langsung melepaskan tangannya dari tangan Nael, kemudian Ia pun berlalu meninggalkan Nael. Tapi Nael kembali menarik tangan Jordan. Hingga Jordan langsung berbalik dengan emosi.
“Sebenarnya ada apa dengan putriku?”
“Putrimu?” ulang Jordan
“Sejak kapan mereka putrimu, Hah! ” Jordan berteriak. Seketika itu juga Jordan meninju pipi Nael, hingga Nael terjatuh ke lantai.
“Kau menyebut mereka putrimu disaat mereka sedang sekarat?” teriak Jordan. Nael yang akan membalas Jordan, tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia langsung bangkit lalu menatap Jordan dengan bingung.
“A-apa maksudmu?” tanya Nael dengan terbata-bata. Jordan mengusap wajah kasar, ia langsung maju ke hadapan Nael, kemudian mencengkram erat kerah jas Nael, lalu menyudutkan Nael ke dinding.
“Gabby dan kedua Putrimu menderita penyakit yang sama, bodoh! Mereka ada di Jepang dan sekarang putrimu sedang sekarat, mereka mereka harus melakukan transplantasi sumsum belakang.”pada akhirnya, ia mengatakan semuanya
“Jo-Jordan.” wajah Nael pucat, bibirnya bergetar lututnya terasa lemas saat mendengar pernyataan Jordan.
Tiba-tiba, Nael merasa dunianya menggelap. selama dua minggu ini, ia selalu terbayang kedua putrinya. Tapi, ia selalu berusaha untuk melupakan Laura dan Naura karena egonya kembali muncul, setiap memikirkan kedua putrinya.
“Apa sekarang kau puas, Nael. Kedua Putri mu sudah seperti yang kau harapkan, kau selalu ingin Putri enyah dari dunia ini. Dan sekarang, harapanmu terkabul. Apa itu membuatmu bahagia?” tanya Jordan membuat Nael menatap Jordan seperti orang linglung.
“Aku tidak punya waktu untuk meladeimu. karena aku dan Paman Greey harus segera terbang ke Jepang. Silahkan nikmati doamu yang terkabul, pergilah ke club dan berteriak bahwa kau bahagia dengan kabar ini.” setelah mengatakan itu, Jordan pun berbalik kemudian ia keluar dari ruangannya dengan membanting pintu. Meninggalkan Nael yang masih Diam Terpaku.
“Daddy, Kenapa kau tidak datang ke sekolah kamu?”
“Daddy bolehkah aku meminjam ini?”
“Daddy. Bolehkah aku ....”
“Daddy ....”
“Daddy....”
“Daddy....”
Tiba-tiba, tubuh nael ambruk ke bawah. Ia terngiang-ngiang suara putrinya yang selalu memanggilnya Daddy, nafasnya terasa tercekat di tenggorokan saat mengetahui bahwa ternyata putrinya sedang terbaring tak berdaya.
“Laura.... Naura.... ” Lirih Nael. Hatinya benar-benar nyeri saat memanggil nama putrinya sendiri.
Scroll gengs aku up 4 bab.