
Maaf ya gengs baru muncul
"Aku tidak bermimpi, 'kan? Kau benar hamil?" Joshua merasa dunianya mengambang, antara percaya atau tidak. Lelaki itu menatap Savana dengan tatapan berharap dan menatap istrinya dengan tatapan tak percaya.
Savana terpaku ketika melihat reaksi Joshua. Ini berbeda dengan dulu di mana Joshua sama sekali terlihat tidak peduli ketika kehamilan anak pertama mereka, tapi, saat ini berbeda.
"Kau senang?" tanya Savana, dia memejamkan matanya karena terlalu takut mendengar jawaban suaminya.
Joshua menggenggam tangan Savana, kemudian mengecupnya dan sedetik kemudian dia langsung memeluk istrinya lalu menangis sejadi-jadinya membuat Savana cukup terkejut. Dia tidak percaya reaksi Joshua akan seperti ini.
Beberapa saat berlalu Joshua yang sudah bisa mengendalikan dirinya, mengajak Savana untuk pergi ke ruangan pribadinya, hingga kini mereka sedang berbaring dengan posisi Savana membelakangi Joshua dan Joshua memeluk Savana dari belakang. Lelaki itu tidak henti-hentinya mengelus perut Savana.
"Sayang," panggil Joshua.
Savana yang berusaha menahan tangisnya langsung menoleh dan ketika melihat iris mata Joshua, bulir bening langsung terjatuh dari kelopak mata Savana.
Sedari tadi, Savana dilanda ketakutan yang luar biasa. Rasa insecure itu tetap ada, apalagi dia mengingat saat Joshua menghinanya, menyuruhnya menggugurkan kandungannya. Dia takut dia tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya.
"Apa aku bisa jadi ibu yang baik?" tanya Savana.
"Aku tidak yakin apa anakku nanti akan bangga mempunyai ibu sepertiku? Oh tidak, bagaimana jika mereka malu punya ibu sepertiku?" Savana terus mengoceh. Tanpa sadar, dia teringat dengan traumanya hingga Joshua mengeratkan pelukannya.
"Tolong jangan berbicara seperti itu." Joshua tahu Savana masih merasakan trauma atas apa yang terjadi di masa lalu, dan dia juga tahu dari psikiater Savana bahwa ada kemungkinan Savana akan terus mengingat itu dan kini hanya Joshua yang bisa menyembuhkan Savana.
***
Joshua mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat ini mereka akan pulang ke rumah. Sedari tadi, Savana terus menyandarkan kepalanya ke belakang. Kehamilannya kali ini benar-benar membuat Savana takut, bahkan tanpa dia sadari dia juga takut berada di samping suaminya. Dia juga takut ketika Joshua membuka mulutnya untuk berbicara.
Savana menggeleng. "Tidak, aku tidak ingin beli apapun."
Bukan hanya soal itu saja, Savana juga takut meminta sesuatu pada Joshula. Dalam pikiran Savana saat ini, dia tidak boleh membuat Joshua marah karena dia takut mendengar hal yang menyakitkan lagi. Kehilangan anak karena ucapan Joshua bukan hal mudah, hingga Savana terus bersikap seperti ini. Ini juga tidak berlebihan mengingat apa yang terjadi di masa lalu begitu dahsyat menghancurkan mentalnya. Apalagi, dia mendapat rasa sakit yang bertubi-tubi.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Joshua sampai di rumah. Joshua turun kemudian dia membukakan pintu untuk Savana, lalu mereka pun masuk ke dalam.
Waktu menunjukkan pukul dua malam.
Joshua terbangun dari tidurnya. Perlahan, dia melepaskan pelukannya dari Savana lalu setelah itu menaikkan selimut untuk istrinya. Joshua turun dari ranjang, kemudian keluar dari kamar lalu turun ke bawah. Lelaki itu langsung berjalan ke arah gereja kecil yang ada di rumahnya.
Joshua menyalakan lilin kemudian dia menyatukan tangannya lalu menyimpannya di bawah dagu, dia memejamkan matanya.
"Tuhan, maafkan aku jika selama ini aku terlalu jauh denganmu sampai aku tidak menyadari bahwa istriku begitu berarti. Tuhan, kau boleh mengambil segalanya dariku, tapi tolong jangan ambil lagi anak dan istriku. Tolong berikan mereka kesehatan, tolong berikan aku umur yang panjang agar bisa terus mendampingi mereka." Joshua mengatakan itu dengan berlinang air mata. Ini lebih membahagiakan dari Joshua, dia bersyukur Tuhan masih memberikan kesempatan untuk menebus semuanya pada istri yang sama sekali dulu tidak pernah diakui, tapi sekarang dia mencintai Savana lebih dari mencintai dirinya sendiri.
Satu bulan kemudian.
Savana berdiri di depan rumah sakit. Rasanya, dia begitu berat untuk memeriksakan kandungannya. Rasanya dia ingin memberanikan diri meminta suaminya untuk mengantarkannya ke rumah sakit, tapi tentu saja dia tidak seberani itu, mengingat dulu Joshua tidak pernah mau menemaninya dan sekarang pun dia takut ditolak hingga dengan berat hati dia pergi ke rumah sakit seorang diri. Awalnya, Joshua ingin berhenti pergi ke kantor. Dia ingin menemani Savana, tapi Savana menolaknya. Dia lebih nyaman ketika Joshua pergi ke kantor.
Minggu lalu, Savana sudah memberanikan diri untuk mengatakan bahwa dia akan diperiksa, tapi dia tidak berani mengatakannya. Joshua pun bertanya kapan dia melakukan pemeriksaan dan Savana memberikan tanggal yang salah. Setelah cukup lama berdiri, Savana pun berjalan untuk masuk dan berjalan dengan langkah gontai. Semenjak hamil, Savana terus dihantui rasa bersalah terhadap anak yang telah digugurkan dan rasa takut bagaimana jika dia tidak menjadi Ibu yang baik untuk anaknya?
Setelah mengambil nomor antrian, Savana langsung mendudukkan diri di kursi tunggu. Dia tersenyum getir ketika melihat ibu hamil lainnya didampingi oleh suami, hingga tanpa sadar dia mengelus perutnya.
"Mungkin lain kali kita bisa datang ke sini bersama Daddy," ucapnya dengan sakit yang luar biasa, dan tak lama dia terpekik ketika tiba-tiba ada yang berjongkok di hadapannya, siapa lagi jika bukan Joshua.