Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Semuanya beruba


Arsen keluar dari mobil, kemudian masuk kedalam kantor. Saat masuk ke dalam kantor. Beberapa orang melihatnya karena ia datang dengan wajah yang babak belur.


Empat hari berlalu, setelah Gabriel menghajarnya. Akhirnya, Arsen bisa keluar dari rumah sakit. Sebenarnya, kondisi Arsen belum terlalu pulih.


Tetapi Gabby memberikan ancaman jika Arsen tidak bisa bekerja hari ini, Gabby akan memecat Arsen dan tentu Arsen tidak mau kehilangan pekerjaan. Ia sudah mengatur siasat untuk meyakinkan Gabby terlebih dahulu dan mengambil hati Gabby kembali. Dan Arsen yakin, setelah Gabby luluh, Arsen akan mendapatkan semuanya yang telah Gabby ambil darinya.


Saat Arsen akan masuk keruangannya, langkah Arsen terhenti ketika Gisel keluar dari ruangannya.


”Untuk apa kau kemari? ruanganmu bukan di sini lagi,” ucap Gisel. Ia menatap Arsen dengan tatapan meremeh. Padahal, kemarin-kemarin Gisel sangat sopan padanya dan menghormatinya sebagai kakak ipar. Tapi sekarang, sepertinya rasa hormat Gisel pada arsen sudah terkikis habis, karena Arsen. menghianati kakaknya.


“Gisel, Kenapa kau keluar dari ruanganku?” tanya Arsen. Bukan hanya Gabby saja, ia juga harus mengambil hati adik iparnya.


“Sekaranh, ini ruanganku. Aku direktur utama di sini. Kau hanya sebagai staf dan pengacara biasa. Kau sedang menangani sebuah kasus bukan. Jadi, secepatnya kau pergi untuk menemui Tuan Nael!” titah Gisel dengan sadis membuat mata Arsen membulat.


Selama 13 tahun bersama Gabby. Gissel tidak pernah seberani ini padanya Gisel benar-benar menghormatinya. Tapi saat ini, ia seperti bukan melihat Gisel sebagai adik iparnya. Tapi seperti Gisel yang lain.


“Gisel!” panggil Arsen lagi. Ia menatap Gabby dengan tatapan mengiba, berharap Giseel mundur dari posisinya saat ini.


Gisel menggeleng. “Aku tidak akan menyerahkan jabatanmu lagi. Aku yang akan menempati posisi ini sekarang. Jika kau tidak ingin menemui klienmu. Maka berikan surat pengunduran dirimu padaku, maka aku akan segera memprosesnya." Setelah mengatakan itu, Gissel pun berlalu, ia berbalik ke belakang untuk menempelkan sidik jari agar Arsen tidak masuk.


Arsen mengusap wajah kasar saat melihat ruangan yang dulu ia tempati menggunakan sidik jari. Padahal, biasanya pintu itu tanpa tanpa pengaman apa pun. Karena ruangan itu berada di lantai atas dimana hanya ada beberapa orang yang bisa ke sana. Setelah itu, Gisel pergi meninggalkan Arsen.


Arsen mengetuk-ngetukkan kepalanya ke dinding. Rasanya, kepalanya hampir pecah. Ia benar-benar buntu sekarang. Belum lagi selama beberapa hari di rumah sakit, ia juga harus membayar biaya pengobatannya sendiri sekalipun itu adalah rumah sakit milik ayah mertuanya dan yang terparah, Gabby tidak melongok Arsen sama sekali. Kini, Gabby Kaka ipar dan adik iparnya, benar-benar mengulitinya habis-habisan.


••••


Saat masuk ke pekarangan, mata Arsen. berbinar saat melihat mobil Gabby terparkir di halaman depan. Arsen pun langsung turun dari mobil, kemudian berjalan dengan langkah yang cepat Untuk masuk ke dalam rumah. Rasanya, ia tidak sabar untuk bertemu dengan Gabby.


“Gabby mana?” tanya Arsen. pada pelayan yang melintas di hadapannya.


“ Nyonya Gabby sedang diatas Tuan,” jawab pelayan tersebut.


Secepat kilat, Arsen pun langsung naik ke arah lift. Kemudian menuju ke kamarnya.


Saat akan masuk, pintu terbuka dari dalam, ternyata Gabby keluar dari kamarnya, sambil membawa koper kecil, karena ia berencana pergi selama beberapa hari untuk menenangkan diri


. “Gabby!” panggil Arsen.


“Turun! kamarmu bukan di sini lagi. Kau menempati kamar bawah!” kata Gabby ketika melihat Arsen.


“Gabby, kau pasti bercanda kan?” jawab Arsen dengan tak percaya.


Gabby menggeleng. “Tidak, aku tidak bercanda. Kau pikir, aku mau tidur bersama penghianat sepertimu.”


” Bukankah kau berjanji akan memaafkanku?” tanya Arsen lagi.


“Aku memang memaafkanmu, bukan berarti aku menerima apa yang kau lakukan. Kau hanya perlu mengikuti kemauaku. Maka kau aman. Jika kau tidak mau, keluar dari rumah ini.”


Scroll gengs