
“Apa Daddy akan menikah dengan Mommy lagi?” tanya Naura. Nael mengangguk.
“Hmm, daddy akan menikah dengan Mommy. Kenapa Kau tampak murung?” tanya Nael saat Naura bertanya tentang hal tersebut.
“ Tapi aku tidak mau memiliki adik lagi, aku tidak mau mommy melahirkan lagi,” balas Naura tiba-tiba membuat Nael mengerutkan keningnya.
“Kenapa kau berpikir begitu? Memangnya Apa salahnya.”
“Aku tidak mau, pokoknya aku tidak mau. Ini tidak adil, kami diperlakukan buruk oleh Daddy sedari kami bayi. Lalu, jika Mommy melahirkan lagi Daddy akan menyayanginya tidak seperti pada kami dulu.”
Seketika Nael terdiam saat mendengar jawaban putrinya. Sekarang, ia mengerti apa yang dirasakan oleh Naura. Nael membawa Naura ke dalam pelukannya, kemudian mengelus punggung putrinya.
“Daddy dan Mommy tidak akan memberikan adik lagi untuk kalian,” jawab Nael, tiba-tiba Naura memeluk Nael begitu erat, kemudian ia menumpahkan tangisannya lagi di pelukan sang ayah. Gadis kecil itu menumpahkan rasa rindunya rasa kesalnya rasa amarahnya dengan menangis dan memeluk ayahny.
“Menangislah, Naura. Tapi setelah ini, kau tidak boleh lagi menangis. Daddy akan menemani kau dan Laura setiap hari,.menemani kalian setiap hari ayah, bermain bersama kalian dan Daddy tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi,” jawab Nael dengan lemah lembut. Ia mengelus rambut Naura, lalu mencium puncak kepala putrinya bertubi-tubi.
“Apa Daddy akan lama di Rusia?” tanya Naura setelah bisa mengendalikan dirinya.
“Daddy di Rusia hanya beberapa hari. Setelah itu, Daddy akan kembali lagi ke sini. Daddy berjanji, tidak akan berubah lagi setelah pulang dari Rusia.”
Nael menyodorkan kelingkingnya pada Naura. Lalu, Naura pun mengaitkan kelingkingnya pada Nael. Stelah itu, Nael menunjuk pipinya mengisyaratkan agar Naura mencium pipinya, tentu saja Naura dengan senang hati mencium pipi sang ayah, bukan hanya pipi. Ia juga menciumi seluruh wajah ayahnya.
Nael menghela nafas saat akan menaiki pesawat yang akan membawanya terbang ke Rusia. Seelah mengantarkan Laura dan Naura ke sekolah dan menemui Gaby di rumah sakit, akhirnya hari yang menegang bagi Nael pun tiba, di mana dia akan pergi ke Rusia untuk menemui kedua orang tuanya.
Entah apa yang dipikirkan oleh kedua orang tuanya jika melihat dia masih berdiri dengan keadaan sehat dan bugar.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang dan jauh, akhirnya pesawat yang ditumpangi Nael sampai di bandara Rusia dan saat turun dari pesawat Nael mengerutkan keningnya saat melihat ada beberapa orang berjas yang menghampirinya.
Mata Nael membulat saat saat mengenal salah satu pria berjas itu, ternyata dia adalah tangan kanan sang ayah. “Sial, apa jangan-jangan Daddy tahu tentang apa yang aku lakukan,” ucap Nael. Baru saja ia akan berlari untuk kabar. Namun, ada yang menghadangnya darin belakang.
Seketika Nael mencari celah untuk kabur, karena ia belum sanggup jika harus menemui sang ayah dengan cara yang seperti ini. Itu sebabnya, ia berniat lari. Tapi semuanya sia-sia. Ia dikepung oleh anak buah ayahnya dan itu sukses membuat Nael jadi pusat perhatian.
“Tuan, silahkan ikut kami!” ucap Mico, tangan kanan Grey.
“Mico, pulanglah. Aku akan menemui Daddy sendiri!” kata Nael yang mencoba nego dengan anak buah ayahnya.
“Apa anda ingin ayah anda sendiri yang menjemput anda kemari?”
Scroll gengs