
“Apa maksudmu?” tanya Naura saat Alvaro mengatakan tentang Nauder. Alvaro menyandarkan tubuhnya ke belakang kemudian ia menatap Naura dengan santai.
“Naura kau jangan Naif. Kau tau pekerjaan suamimu dan kau tahu pekerjaan apa yang kami lakukan dan kau ingin menganggapnya baik?" tanya Alvaro lagi yang semakin berbelit-belit membuat Naura benar-benar pusing.
“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, kenapa kau mengatakan bahwa suamiku tidak baik?" tanya Naura. Dia hampir berteriak di hadapan Alvaro. Namun dia berusaha menahan emosinya.
“Sebenarnya aku ingin mengatakan apa saja kebusukan suamimu. Tapi aku malas, karena itu membuang waktu,” jawab Alvaro lagi membuat membuat Naura menjambak rambut frustasi.
“Lalu sekarang apa tujuanmu menyuruhku datang ke sini?”
“ Naura Bagaimana jika seandainya aku membocorkan kejadian kemarin pada Nauder. menurutmu apa yang akan Nauder lakukan?’
Wajah Naura memucat saat mendengar ucapan Alvaro. “ Kenapa kau tidak membiarkan hidupku tenang?" tanya Naura. Kali ini nadanya mulai melemah, ia menatap Alvaro dengan tatapan memohon, berharap Alvaro melepaskannya dan tidak lagi mengganggunya.
“ Naura percayalah. Suatu saat kau akan berterima kasih padaku, karena aku melakukan ini!"
Naura benar-benar bingung dengan apa yang Alvaro katakan, sudah dipastikan bahwa lelaki di depan ini adalah lelaki yang memanipulatif. Dia sudah bersama Nauder beberapa tahun, tidak ada yang aneh dari suaminya. Lalu sekarang, mana mungkin dia percaya oleh orang yang selama ini terobsesi padanya dan berusaha menghancurkan hubungannya dengan Nauder.
“Lalu Sebenarnya apa maumu? Kenapa kau memanggil aku ke sini?” akhirnya Naura kembali bertanya tentang Apa tujuan Alvaro memanggilnya.
“Aku tidak akan mengirimkan foto itu pada Nauder. Tapi kau harus melakukan sesuatu untukku!”
“Kau ingin aku melakukan apa? Jangan berharap aku akan menuruti perintahmu!”
Alvaro langsung mengotak-atik ponselnya. Lalu, ia memilih beberapa foto. “Kau ingin aku mengirimkan foto ini sekarang!” ancam Alvaro. Mungkin dengan hanya satu ketukan saja foto itu akan terkirim pada ponsel Nauder.
Naura menghela nafas, kemudian menghembuskannya. “Jadi apa maumu?" tanya Naura.
“Simpel. Aku hanya ingin kita bertemu satu minggu sekali, temani aku makan siang bersama dan menonton film selama satu jam. Bukankah itu hal yang sederhana.”
Naura membulatkan matanya saat mendengar permintaan Alvaro. Apa-apaan lelaki ini.
“Apakah kau sedang mempermainkanku?" tanya Naura.
”Apa kau ingin aku meminta hal yang lebih sadis dari ini!” ancam Alvaro lagi membuat Naura terdiam. Bibir Naura terkatup rapat, rahangnya mengeras. Ia menatap anak Alvaro dengan tatapan penuh emosi
“Sebenarnya aku benar-benar heran kenapa kau bisa terobsesi denganku. Kenapa tidak dari awal saja kau menculikku daripada kau harus membuatku menderita begini?’ tanya Naura.
Alvaro terkekeh senang . “Akhirnya pertanyaan itu kau tanyakan juga," jawab Alvaro. “Sebenarnya simple. Tapi aku tidak mau repot-repot menjawab pertanyaanmu. Kau hanya harus melakukan perintahku, Aku ingin setiap Minggu kita makan siang bersama ...” tiba-tiba Naura bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung memilih pergi karena rasanya ia sudah tidak sanggup lagi menahan amarahnya.
Saat Naura bangkit dan saat akan melewati Alvaro, Alvaro langsung menarik tangan Naura. Hingga Naura terjatuh di pangkuannya dan tak lama Alvaro mencium bibir Naura secara paksaa.
“Aaa ...." Alvaro berteriak ketika Naura mengigit bibirnya. Hingga ...