
hai, gengs di bawah ini ada bab terbaru, aku segaja post ulang bab ini karena takut kalian lupa bab sebelumnya, jadi bab terbaru kalian scrool ya
"Ameera, apa maksudmu?" tanya Joshua ketika Ameera mengatakan bahwa Savana sedang meminum racun di gereja.
"Cari saja di semua gereja, kau akan menemukan Savana di salah satu gereja itu," ucap Ameera. Dia terus memakan snack di tangannya tanpa mempedulikan Joshua yang menatapnya. Bersama keponakannya tidak akan bisa sesimpel ini, hingga pada akhirnya Joshua mendudukan diri di sebelah sana, lalu setelah itu dia mengambil piring yang berisi cemilan wanita itu.
"Paman, tidak sopan sekali!" kata Ameera. Dia berbicara dengan ketus.
"Ameera, dengar Paman. Kau tahu, 'kan, di mana Savana?" tanya Joshua, Ameera menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia bersidekap, menatap Joshua dengan tatapan mengejek.
"Kenapa kau baru peduli?" tanyanya.
"Ameera, bukan saatnya membahas itu," jawab Joshua lagi.
"Lalu, aku harus membahas apa? Masa depan? Kau pikir sekarang Savana punya masa depan setelah apa yang kau lakukan padanya?" tanya Ameera.
Joshua berusaha untuk tidak kesal. Dia harus membujuk Ameera.
"Apa kau tahu sebelum dia melakukan hal nekat, dia pernah meminta aku untuk pergi ke rumah sakit untuk menemani dia kontrol kandungan? Apa dia kau tau dia sering mengeluh karena kau tidak perhatian? Kau menyuruh Savana untuk berubah menjadi apa yang kau mau, tapi kau tidak pernah mau melihat usahanya. Apa kau tahu selama ini Savana kekurangan uang, bahkan dia harus meminjam padaku? Dia bahkan tidak mempunyai uang untuk membeli susu dan juga untuk memeriksakan kandungan. Apa kau layak disebut suami?" tanya Ameera, menegarkan hatinya. Dia rasa inilah saatnya untuk membeberkan apa yang pamannya lakukan pada Savana.
Dada Joshua terasa tersayat saat mendengar ucapan Ameera.
'Paman, besok aku memeriksakan ke calon anak kita. Bisakah Paman ikut denganku, atau tidak antar saja aku ke rumah sakit? Tidak papa Paman menunggu di luar.'
Tiba-Tiba ucapan Savana saat itu langsung menubruk otak Joshua, di mana saat itu Savana memintanya untuk pergi memeriksakan calon anak mereka, tapi saat itu dengan dinginnya Joshua menolak.
"Kenapa? Kau ini manusia atau apa? Paman menjadi malaikat pernikahan Paman Jonathan dan Bibi Shakira, tapi Paman menjadi iblis di pernikahan Paman sendiri," katanya.
Joshua memejamkan matanya. Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata lelaki itu. Rasanya, Joshua seperti dihempaskan ke jurang yang paling dalam ketika mendengar ucapan Savana.
"Sebenarnya masih banyak hal yang aku simpan tentang kelakuan Paman pada Savana, tapi aku malas berbicara. Pergi saja sana cari Savana. Dia sedang bekerja part time di restoran," jawabnya.
"Bekerja?" ucap Joshua.
"Memangnya, Paman memberi uang padanya?" tanya Ameera.
Lagi-Lagi Joshua terasa tertampar.
"Di mana restoran tempat Savana bekerja?" tanya Joshua.
"Apa Paman pikir jika Paman menyusulnya ke sana dan mengajak Savana pulang, Savana akan tersentuh?" tanya Ameera. Keponakannya ini benar-benar seperti sang kakak.
"Tidak, Paman hanya ingin tahu saja," jawabnya.
***
Beberapa jam berlalu, Savana menghentikan gerakannya sejenak yang sedang mencuci piring. Dia merasa kepalanya berkunang-kunang dan juga perutnya sedikit nyeri. Sedari tadi, Savana belum berhenti mencuci piring. Tamu di restoran begitu membeludak, hingga Savana terus bekerja tanpa bisa berhenti
"Bisakah kau bekerja lebih cepat?" Tiba-Tiba terdengar suara seorang pelayan lain yang menegur Savana, hingga Savana mengangguk. Dia pun langsung menggerakkan kembali tangannya untuk mencuci piring yang berada di depannya. Tangan Savana sudah mengerut, karena dia dari tadi tidak berhenti. Rasanya, Savana ingin menangis karena dia tidak pernah melakukan pekerjaan semacam ini, tapi dia berusaha menguatkan dirinya karena inilah hal yang bisa dilakukan untuk menyambung hidup.
Tiga jam kemudian, akhirnya Savana menghentikan aktivitasnya, sebab tamu sudah sedikit berkurang dan dia diberikan waktu untuk istirahat sebelum dia kembali memulai pekerjaannya satu jam lagi. Savana mendudukkan diri di dekat gudang. Wanita itu menekuk kakinya kemudian meringkuk, menyandarkan kepalanya ke belakang. Dia lapar, dia haus, tapi dia tidak mempunyai tenaga untuk bangkit.
"Tuhan, ternyata mencari uang sesakit ini," ucap Savana hingga tanpa sadar dia pun langsung terlelap, mengabaikan rasa lapar karena tubuhnya benar-benar lelah.
***
Savana terbangun dari tidurnya. Dia langsung terpekik ketika mendengar suara hentakan yang sangat keras. Dia melihat jam di pergelangan tangannya, ternyata dia sudah tertidur satu jam dan waktu istirahatnya sudah habis. Lalu dengan cepat Savana pun langsung berlari ke arah dapur, dan ternyata piring sudah sangat menggunung hingga Savana langsung berjalan.
***
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Akhirnya, tugas Savana selesai. Savana keluar dari restoran. Wanita itu berjalan dengan sangat pelan. Jangan ditanyakan betapa lelahnya tubuh Savana. Saat ini, dia yang tidak pernah bekerja berat harus bekerja selama berjam-jam.
Savana berjalan ke arah restoran di mana ada taman kecil di sana. Beruntung tidak ada siapa pun hingga Savana bisa beristirahat sejenak. Savana mendudukkan di kursi tersebut kemudian dia membuka tas, lalu setelah itu dia mengeluarkan uang yang dia dapat dan sedetik kemudian Savana tidak bisa menahan tangisnya lagi ketika melihat uang di tangannya. Uang ini mungkin tidak berarti apa-apanya dibanding kehidupannya dulu, tapi sekarang uang ini begitu berarti. "Ternyata, sesulit ini mencari uang," ucap Savana.
Tiba-Tiba perut Savana berbunyi. Dia merasakan rasa lapar yang luar biasa, tapi rasanya dia masih butuh istirahat untuk melanjutkan perjalanan pulang. Belum lagi setelah sampai di apartemen, dia harus beralasan pada Joshua. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia bekerja.
***
Joshua menghapus air matanya. "Tuhan, ternyata Ameera benar. Aku malah menjadi iblis di pernikahanku sendiri," ucap Joshua.
Sedari tadi Savana keluar dari restoran, Joshua mengikuti istrinya, hanya saja dia belum berani menghampiri Savana. Dari tadi, tentu saja Joshua melihat apa yang dilakukan Savana, menatap uang sambil menangis dan itu membuat Joshua hancur.
'Ampuni aku, Savana,' batin Joshua, 'aku berjanji akan menebus semua kesalahanku.'
Joshua melepaskan jaketnya kemudian lelaki itu berjalan ke arah Savana, lalu setelah itu dia menyematkan jaketnya ke tubuh istrinya membuat Savana menoleh.
"Pa-Paman," sebutnya. Mata Savana membulat saat melihat Joshua. Ketakutan menderanya. Dia takut Joshua tahu tentang dia yang bekerja di restoran, pasti dia akan dimaki oleh suaminya.
Savana bangkit dari duduknya dengan cepat. Dia langsung menyimpan uang ke tasnya.
"Paman, aku baru saja makan di restoran itu," jawab Savana, dengan cepat Joshua tersenyum kemudian dia maju lalu setelah itu memeluk Savana, membuat tubuh Savana menegang karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah, Joshua memeluknya.
Tuhan, kenapa pelukan yang menyakitkan ini?